Tentang Hujan

Rinai gerimis mengguyur senja yang kalang kabut. Bahkan ketika gerimis berubah deras, tak ada waktu tuk sekedar menyapa bening berwajah malam. Aku tetap bergelimang tugas, merangkai pena. Ketika akhirnya tugas telah usai, hujan pun ikut lerai. Mungkin ia bosan menunggu … Continue reading

Gallery | Leave a comment

Lima Sahabat

Bryan berlari mendahului teman-temannya yang tengah berjalan santai menuju tempat parkir sepeda di samping sekolah. Ibin, Fatih, Zaky dan Bahi saling pandang melihatnya. “Hei, mau kemana lu, Bry?” teriak Fatih. “Sorry, bro. Gue ada perlu,” Bryan melambaikan tangannya dan langsung … Continue reading

Gallery | Leave a comment

Gerimis Malam

Gerimis masih mengguyur malam. Dipandanginya sebuah foto pengantin di handphone-nya. Gerimispun turun dihatinya. Akhirnya ia menemukan pujaan hatinya, cinta pertamanya  yang telah menghilang sejak 15 tahun silam.  Lelaki yang selalu memenuhi relung hatinya itu kini telah memiliki pendamping dan seorang bidadari kecil dalam rumah cintanya. Adakah ia mengingatnya meski sedikit saja? Azra mendesah dalam hati.

Lalu ia teringat pada seseorang yang sungguh mencintainya namun dengan kejam telah disakitinya. Apakah ia juga telah berbahagia bersama perempuan lain yang lebih mengerti dirinya?

Gerimis di hatinya makin deras manakala ia teringat ibundanya yang kerapkali menanyakan kapan ia akan menikah. Usianya telah melewati kepala tiga dan tak ada tanda-tanda kedekatannya dengan lelaki manapun. Inikah balasan dosanya pada bunda dan Faisal, lelaki yang pernah hendak meminangnya namun di tolaknya demi cinta yang masih memenuhi batinnya pada Rangga.

Ketukan pintu rumahnya membuatnya tersentak kembali ke masa kini. Fadia, sahabat lamanya yang baru bertemu setelah sekian tahun, telah berdiri di muka pintu dengan senyum terkembang dan bias rindu di wajahnya.

“Fadia!” Azra menjerit girang, melupakan sejenak galau di hatinya.

“Azra!” merekapun berpelukan penuh haru dan rindu.

“Aku kangen sekali, Zra.”

“Aku juga, Fad. Masuklah, ” katanya sambil menggandeng tangan Fadia memasuki ruang tamunya yang mungil namun hangat.

“Sedang apa kamu, Zra?”

Azra sedikit tersentak, kembali teringat kenangannya.

Fadiapun terkejut melihat kesedihan yang melintas tiba-tiba di wajah sahabatnya itu.

“Kamu tinggal sama siapa Zra?”

Azra menggeleng.

“Tidak dengan siapa-siapa. Aku belum menikah.”

“Rangga?” Azra menggeleng lemah. “Kalau aku menikah dengan Rangga, pasti kamu akan tahu dan tak mungkin aku terdampar di ujung pulau Jawa ini.”

“Faisal?” sekali lagi Azra menggeleng. Kini giliran Fadia yang menarik nafas keheranan. Ia tak pernah mengerti dengan pilihan yang diambil sahabatnya itu.

Segalanya bermula pada reuni teman sekelas di SMP Harapan, 15 tahun lalu. Saat itu, mereka masih duduk di bangku kuliah. Reuni yang diadakan di rumah salah seorang teman sekelasnya itu mempertemukan Azra dengan Rangga yang telah membuatnya mengenal arti cinta sejak ia menginjak bangku SMP. Cinta yang dipendamnya diam-diam. Hanya Fadia seorang yang akhirnya tahu betapa ia mencintai Rangga. Ia sudah cukup bahagia bisa melihat senyum Rangga atau berdekatan dengannya dalam kegiatan sekolah. Azra merasa, Rangga juga memiliki perasaan yang sama. Namun entah mengapa Rangga tak pernah berkata apa-apa tentang cinta pada Azra.

Waktupun berlalu begitu cepat, menerbangkan Rangga dari sisinya. Kesibukan menuntut ilmu di kota yang terpisah, membuatnya sedikit melupakan Rangga. Bahkan, ia sempat memiliki kedekatan dengan Faisal, kakak kelasnya di bangku kuliah yang begitu baik dan berniat hendak melamarnya begitu ia lulus kuliah. Kedua orang tua mereka telah mengetahui hubungan itu dan merestuinya.

Namun rencana lamaran itu hancur berantakan dengan hadirnya kembali sosok Rangga pada malam reuni itu. Entahlah, ia tak bisa melupakan Rangga. Ia masih tetap seperti dulu. Penuh perhatian terhadapnya namun tanpa kata yang begitu ditunggunya untuk ia ucapkan.

“Gila, kau, Zra!” Fadia memekik mengetahui keinginannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Faisal. “Bagaimana mungkin kamu bisa memilih bayangan semu dibandingkan kenyataan indah yang terbentang dihadapanmu?”

Azra cuma tertunduk kala itu. Nasehat bundanya pun tak mampu meluluhkan tekadnya untuk melepaskan Faisal.

“Menikahlah engkau dengan lelaki yang benar-benar mencintaimu,” bundanya menasehati dengan lemah-lembut sambil mengelus rambut ikalnya yang tergerai dipangkuan Bunda. Air mata Azra mengalir tak terbendung.

“Tapi, Bunda, salahkah aku bila aku ingin menikah dengan lelaki yang mencintaiku dan aku cintai,” Azra mencoba berargumen.

“Kamu bisa belajar mencintai lelaki yang mencintaimu. Sebagaimana orang-orang dulu yang menikah tanpa cinta. Agama kitapun tak mengenal pacaran kan? Cinta akan datang dengan sendirinya sejalan dengan kasih sayang yang kalian bina dalam rumah tangga.”

Azra bergeming. Air mata yang terus mengalir sebagai jawabnya. Ia lebih memilih Rangga bersama ketakpastiannya.

Faisal sangat berang ketika Azra berkata hendak melepasnya.

“Apa maksudmu, Azra? Aku tak bisa mengerti jalan pikiranmu! Kalau putus ya mesti ada alasan yang jelas.”

“Maafkan aku, mas…” lirih Azra tak berani menatap Faisal.

“Tidak, aku tak akan melepasmu. Aku begitu mencintaimu dan berniat menjadikanmu bidadari rumahku.” Azra tertunduk.

“Aku tak peduli jika kau tak mencintaiku. Asal kau mau, aku berjanji akan membuatmu jatuh cinta padaku selamanya. Aku mencintaimu Azra, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu.”

“Tapi aku tak bisa, mas. Engkau terlalu baik untuk kusakiti.”

“Engkau justru menyakitiku dengan melepaskanku. Kalau kau perlu waktu untuk menyelesaikan masalahmu, aku akan setia menunggu. Dan aku akan lebih senang bila engkau melibatkanku untuk menyelesaikannya.” Mata Azra berkaca-kaca. ‘Kenapa laki-laki sebaik ini tak bisa membuatnya jatuh cinta dan melupakan Rangga?’ batin Azra.

“Aku tak bisa.”

Faisal menarik nafas dalam-dalam, meraih kedua tangan Azra dan menatap matanya lekat.

“Baiklah, aku tak akan memaksamu. Aku  pulang dulu, renungkanlah semuanya. Besok aku datang lagi, dan kuharap kamu telah merubah keputusanmu.”

Azra makin ngilu, dipandanginya punggung lelaki tampan yang hendak pergi itu.

“Mas…!”

Faisal menoleh. Menunggu ucapan Azra selanjutnya.

“Aku tak bisa melupakannya…”

“Apa..!!? Siapa? Lelaki pertamamu itu?” Azra memang sempat bercerita sedikit tentang Rangga sebelum mereka memutuskan untuk menjalin cerita bersama.

Azra mengangguk pelan.

“Omong kosong. Apa ia juga mencintaimu seperti aku mencintaimu?”

Azra menggeleng pelan. “Aku tak tahu, ia tak pernah berkata apa-apa.”

“Bila begitu, berarti dia tak mencintaimu.” Azra hanya diam.

“Azra, aku akan membantumu melupakannya,” Azra menggeleng.

“Aku sudah mencobanya berkali-kali dan tak pernah berhasil.”

Faisal menarik nafas berat.

“Apakah hanya dia yang bisa membuatmu bahagia?”

“Aku tak tahu.”

“Jika hanya dia yang bisa membuatmu bahagia, aku rela melepasmu, tapi hanya bila dia benar-benar menginginkanmu. Dan aku akan memastikan itu.” Azra terkejut.

“Apa maksudmu?”

“Aku akan memastikan apakah dia mencintaimu atau tidak.”

“Tidak, mas. Jika itu kau lakukan, sama saja dengan mempermalukanku. Lagi pula aku tak mau dia mencintaiku karena keterpaksaan. Aku mau semuanya berjalan apa adanya.”

“Jika begitu, aku tak akan melepasmu dan aku akan tetap melamarmu.Bila perlu, secepatnya.”

Dan berbulan-bulan kemudian, Faisal tetap setia datang ke rumah Azra, mencoba meluluhkan kekerasan hatinya. Namun tak pernah berhasil hingga akhirnya dengan berat hati, ia melepaskan Azra. Lalu ia menghilang membawa sakit hatinya.

Waktupun  terus berlalu. Azra tetap setia bercumbu dengan bayangan Rangga yang tak pernah nyata. Faisal telah pergi dengan berat hati. Dan Bundanya mencoba mengerti perasaan anak perempuan semata wayangnya sebagaimana Ayah yang lebih memilih diam.

Selepas kuliah, Azra diterima bekerja di ujung Barat pulau Jawa, jauh dari kota kelahiran yang membesarkannya dan sarat dengan kenangan. Karirnya melesat dengan cepat. Kesibukannya membuatnya bagai hilang tertelan bumi. Rangga menghilang, Fadia lenyap, Faisal entah kemana. Begitupun dengan sobat-sobat lainnya. Ia jarang pulang. Paling Bundanya yang rajin menengoknya bersama Ayah. Sampai kemajuan teknologi dunia maya mempertemukannya dengan sahabat lamanya, Fadia. Lalu iapun kembali terseret putaran arus masa lalu. Kemana gerangan Rangga. Ia malu hendak menanyakan pada Fadia. Maka dicarinya lelaki itu di dunia maya. Batinnya masih penuh harap sampai foto pengantin Rangga ada di tanggannya

***

“Azra…” Fadia menyentuh lembut tangan Azra. Ia tersadar dari lamunannya. “Kamu masih mengingat Rangga?” Azra tak menjawab.

“Aku tak pernah kontak lagi dengannya. Terakhir ketemu ya ketika reuni waktu itu.” Azra meraih handphone yang ia letakkan di meja saat membukakan pintu buat Fadia, lalu menunjukkan foto yang membuat hatinya gerimis. “Baru saja kutemukan,” ucapnya lirih. Fadia terkejut.

“Azra,” Fadia memeluk sahabatnya, mencoba memberikan kekuatan.

“Faisal bagaimana?”

“Entahlah. Aku tak pernah mendengar kabarnya lagi setelah aku melepasnya. Mungkin ia sangat marah dan sakit hati padaku. Dan aku yakin dia telah memiliki pendamping pula. Ini semua akibat perbuatanku sendiri. Aku telah berdosa pada bunda dan Faisal.” Gerimis itu kini meleleh di pipinya namun buru-buru dihapusnya.

“Ah sudahlah. Ini saat yang sudah lama aku nantikan. Jangan dikotori dengan kesedihan,” ujarnya sambil melepaskan pelukan sahabatnya. “O iya kamu gimana? Anakmu sudah besar ya? Dua-duanya jagoan yang ganteng.” Lalu mereka berbincang akrab, mencoba merangkai kejadian yang terlewatkan selama perpisahan mereka.

***

Malam ini, Azra berdandan cantik sekali. Baju biru warna kesukaannya membalut tubuh langsingnya dengan anggun. Kerudung bermotif bunga-bunga kecil di pinggirannya menyempurnakan penampilannya. Wajahnya cerah.

“Azra, Fadia sudah datang nih.” Suara Bundanya mengagetkan Azra yang sedikit terbawa suasana. Ia memang sedang berada di kampung halamannya. Dan malam ini ia akan datang ke reuni teman-teman sekelasnya di SMP dulu. Fadia sudah berjanji akan datang menjemputnya bersama suaminya.

“Iya, Bunda. Sebentar!”

Entah kenapa hatinya merasa lebih lega. Beban berat di hatinya selama ini seakan lenyap begitu saja. Jadi sebenarnya apa yang dicarinya dulu? Sebuah cinta ataukah hanya sebuah kepastian yang telah mengorbankan begitu banyak kesempatan?

Azra turun dengan anggun. Senyumannya terkembang di bibirnya yang merah. Ayah, Bunda, Fadia, dan suami Fadia, Dimas, menatap takjub ke arah Azra. Pesona kecantikan Azra seakan keluar semua malam itu. Azra jadi merasa risih sampai memerah kedua pipi ranumnya.

“Yuk kita langsung berangkat, sudah hampir terlambat kita,” ajak Azra.

“Ya udah, yuk,” sahut Fadia.

“Ayah, Bunda, kami berangkat dulu ya.” Azra berpamitan pada kedua orang tuanya lalu mencium tangan mereka.

“Kami berangkat, Pak, Bu,” Dimas dan Fadiapun berpamitan.

“Hati-hati ya, Nak!” kata Bunda.

“Assalamualaikum,” salam mereka bersamaan.

“Wa’alaikum salam,” jawab Ayah dan Bunda.

Mereka bertiga segera memasuki mobil Fadia yang terparkir di halaman rumah orang tua Azra yang cukup luas.

“Eh, anakmu gak ikut, Fadia?” tanya Azra.

“Pada nggak mau. Mereka lebih suka di rumah sama neneknya,” jawab Fadia. “Ya gitu deh, kalau dah menjelang ABG. Dah males kalau di ajak pergi ma ortunya. Apalagi kalau acara buat orang-orang tua.”

Lima belas menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah makan yang cukup ternama di kota Azra. Suasananya sudah cukup ramai. Tiba-tiba saja dada Azra berdegub lebih cepat. ‘Seperti apa dia sekarang? Bagaimana istri dan anaknya? Bagaimana sikapnya jika melihatku? Aku harus bersikap apa?’ Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan dalam benak Azra.

“Hai, Tio! Pa kabar? Mana istrimu?” kecamuk di benak Azra berserakan mendengar Fadia menyapa salah seorang teman mereka yang sudah hadir lebih dulu. Sejenak kemudian mereka telah larut dalam suasana akrab penuh rindu pada suatu masa di kelas II SMP dulu. Hangat dan meriah.

Mata Azra mencari-cari sosok yang begitu ingin dilihatnya setelah sekian tahun. Yang begitu dirinduinya.

“Sst….!” Fadia menepuk pundaknya lembut. Azra terkejut. “Mencari Rangga ya? ” godanya. Azra tersenyum malu. “Belum datang tuh kayaknya.”

Baru saja Fadia berhenti berbicara, ia kembali mencolek Azra.

“Lihat tuh, dia datang.”

Seorang lelaki berkulit gelap, berambut cepak, dengan perawakan  tinggi besar memasuki ruangan tempat reuni bersama seorang perempuan yang berperawakan agak gemuk dengan wajah setengah tersenyum. Degup di dada Azra makin kencang. Fadia melambaikan tangannya ke mereka agar mendekat. Dan pertemuan yang begitu diimpikan Azra pun terjadi.

“Hai, Fadia.”

“Hai Rangga. Kenalkan ini suamiku, Dimas. Ini istrimu?” tanya Fadia sambil melihat perempuan di samping Rangga.

“Iya. Kenalkan ini Tia, istriku.” Mereka saling bersalaman. Kemudian mata Rangga tertumbuk pada sosok cantik yang begitu berkilau malam itu. Azra. Dan entah kenapa, Azra merasa sebuah beban berat selama ini berjatuhan satu persatu. Dengan senyum manis dan nada yang ringan tanpa beban, ia menyapa pasangan itu.

“Hai Rangga, pa kabar?” Lalu ia menyalami istri Rangga. “Mbak Tia kenalkan aku Azra.” Sekilas Rangga menatap Azra takjub dan ada kilatan dimatanya yang menyiratkan sebuah makna. Dulu Azra sangat menyukai kilatan itu, tapi entah kenapa sekarang tak membuat Azra bereaksi yang sama. Keberadaan Tia, membuat mereka tak bisa lepas berbicara.

“Azra, lama sekali nggak denger kabarmu? Sekarang tinggal dimana?” lalu dia melihat kiri kanan seperti mencari seseorang. “Mana suamimu?”

Azra tersenyum.

“Kamu belum menikah?” Rupanya dengan cepat Rangga bisa menyimpulkan senyum Azra.

“Pangerannya keburu dibawa kabur putri lain,” sahut Fadia mencoba menyindir Rangga tanpa menimbulkan tanda tanya di hati Tia.

“Ah enggak, cuma belum ketemu jodoh yang pas aja.”

“Pangerannya itu emang bodoh sekali. Masak gadis secantik dan semenarik Azra ini disia-siakan begitu aja.” Ada nada kesal dalam ucapan Fadia.

Sekali lagi Azra tersenyum tanpa menghiraukan sindiran Fadia. “Aku sekarang tinggal di Bandung. Sama Fadia juga belum lama ketemunya.” Kalimat-kalimat itu mengalir begitu ringan. Dan selanjutnya mereka terlibat perbincangan akrab sebelum akhirnya bergabung dengan teman-teman mereka yang lain.

Setelah reuni itu berakhir, dan sesaat setelah duduk dalam mobil Fadia yang akan mengantarnya pulang, Azra mempertanyakan perasaannya kini. Mengapa sekarang aku tak merasa seperti dulu ketika bertemu Rangga? Dia jadi sama seperti teman yang lain di mataku? Jadi apa yang dirasakannya selama ini? Sekedar penasaran? Alangkah naifnya dia, demi sebuah kata itu telah mengorbankan orang-orang yang begitu mencintainya. Dan tiba-tiba ia merasa begitu kesepian. Ia lalu teringat Faisal. Tak seharusnya aku bersikap seperti itu padanya. Alangkah jahatnya aku. Ah, sudahlah. Semua telah usai.

“Aku nunggu di mobil aja, Ma!”kata Dimas pada Fadia ketika mobil itu berhenti dihalaman rumah orang tua Azra. Azra dan Fadia turun dari mobil. Sebelum melangkah ke rumah, Fadia menggamit tangan Azra memintanya untuk berhenti sejenak.

“Gimana, Zra? Masih mengharapkan Rangga?”

Azra tersenyum dan menggeleng pelan.

“Entah kenapa, perasaanku menjadi lebih netral setelah pertemuan tadi. Tapi tiba-tiba saja aku merasa kesepian, bukan karena dia. Entahlah.”

Giliran Fadia yang tersenyum penuh makna.

“Kalau gitu kita masuk yuk, dah malam. Orang tuamu pasti dah menunggu.”

Saat mereka hendak melangkah, Azra melihat sebuah mobil terparkir tepat di depan teras rumah. Mobil siapa? Dan kelihatannya ada orang yang masih berbincang di ruang tamu. Siapa pada jam 11 malam begini masih bertamu? Batin Azra.

“Siapa, Zra?”

Azra hanya menggedikkan bahunya. Sambil melangkah penasaran.

“Assalamu’alaikum!” Azra mengucapkan salam. Mengedarkan pandangannya ke segenap penjuru ruang tamu yang lega dan tertata apik. Ada ayah dan Bundanya di sana. Wajah mereka terlihat sumringah. Dan seorang asing yang duduk dekat ayahnya. Lelaki itu seperti pernah dikenalnya. Azra tercekat. Faisal?! Benarkah?

“Wa’alaikumussalam. Apa kabar Zra?” kata lelaki itu. Azra salah tingkah. Beruntung Bunda segera menggamit tangannya agar duduk di sebelah Bunda.

“Duduk dulu, Nak Fadia,” ucap Bunda pada Fadia. Fadiapun menurut.

Ada apa ini? Batin Azra.

“Azra, Nak Faisal sengaja datang ke sini hendak mengabarkan sesuatu padamu. Ayah rasa, kalian bicara saja dulu biar lebih leluasa. Ayah dan Bunda masuk dulu.”

“Kalau gitu saya juga langsung pamit saja Pak, Bu, mas Faisal. Kasihan mas Dimas terlalu lama menunggu di mobil.”

“Lho kok nggak ikut masuk, Nak?” tanya Bunda.

“Iya, Bu. Sudah malam, kasihan anak-anak di rumah cuma sama neneknya.”

Setelah ayah dan bundanya masuk dan Fadia pulang, tinggal Faisal dan Azra dalam diam sejenak.

“Lama nggak ketemu ya mas? Kok sendirian saja. Istri?” tiba-tiba ada rasa nyeri ketika ia menyebut kata itu.

“Istriku belum mau kuajak. Baru mau kutanya, mau nggak ikut denganku.” Ujar Faisal sambil tersenyum penuh makna. Azra mengernyit tak mengerti.

“Maksud, Mas Faisal?”

“Azra, sebelumnya aku minta maaf bila kehadiranku ini membuatmu terkejut. Ceritanya sangat panjang. Intinya malam ini, aku akan mengajukan lamaranku yang kedua kepadamu. Tadi aku juga sudah berbicara dengan ayah dan bunda. Mereka ikut kau saja. Fadia juga.”

Apa? Melamar? Apa-apaan ini? Memangnya aku bakal mau jadi istri kedua? Lalu mengapa ayah dan bunda merestuinya? Apa karena anak gadis satu-satunya ini dianggap sudah tak laku lagi? Dan Fadia? Apa hubungannya dibalik semua ini? Batinnya merasa tersinggung.

“Maaf, mas. Aku memang belum menikah di usiaku yang sudah bisa dibilang perawan tua ini. Tapi aku tak akan mau menjadi istri kedua buat siapapun,” ucapnya agak ketus. Faisal tertawa kecil.

“Emang kenapa kalau istri kedua? Kan agama nggak melarangnya?” Wajah Azra pias karena marah. Faisal jadi tak tega menggodanya lagi.

“Lagipula, siapa yang akan menjadikanmu istri kedua?” Azra tercekat.

“Maksud, mas?”

“Aku belum pernah menikah. Aku masih selalu menunggumu.” Suara Faisal cukup lembut, tapi terasa bagai petir di siang bolong di telinga Azra. Kemudian seperti bendungan yang tak lagi mampu menahan debit air di musim hujan, air mata Azra menyeruak membasahi pipinya.

“Percayalah Azra. Aku sangat serius. Aku ingin membuktikan padamu bahwa cintaku padamu benar-benar tulus. Kalau engkau tak bisa melupakan lelaki pertamamu itu dan tetap setia dengan penantianmu dalam diam, akupun bisa begitu. Selama ini aku terus memantau diam-diam perkembangan rumah ini. Aku lega tak pernah ada janur melengkung di rumahmu. Tapi aku tak berani mengusikmu sampai ketika  Fadia datang menemuiku.”

“Fadia?”

“Ya. Ia benar-benar sahabat yang baik. Setelah pertemuan denganmu dan tahu kalau Rangga telah menikah, Fadia berusaha mencariku. Entah bagaimana caranya dia bisa menemukanku. Dia menanyakan padaku apa aku sudah menikah. Ketika kubilang belum, iapun bertanya apa aku masih mencintaimu, akupun menjawab selalu. Dan akhirnya akupun bisa berdiri disini, di depanmu, melamarmu kembali.”

Kali ini bendungan itu benar-benar ambrol. Azra terguguk pilu. Subhanallah, betapa baiknya Allah padaku. Aku yang telah menyia-nyiakan kesempatan yang pernah diberikan oleh-Nya, ternyata masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya.

Setelah tangis Azra mereda. Faisal kembali berkata.

“Jadi apakah kira-kira tuan putri yang cantik ini masih mau menerima pangerannya?” kata Faisal sambil tersenyum menggoda.

“Tapi aku sudah tidak muda lagi, mas.”

“Siapa bilang? Menurutku Azra masih pantas berusia 25 tahun.” Azra tersipu. “Jadi gimana?”

Azra terdiam sejenak. Dalam hatinya memantapkan hati dan membaca basmalah untuk memutuskan sebuah hal terpenting dalam hidupnya. Sambil mengusap sisa-sisa air matanya dan tersenyum, Azra mengangguk malu.

“Alhamdulillah!”

“Azra, sungguh aku sangat ingin memelukmu, tapi aku sangat menghormatimu. Dan aku akan melakukannya nanti setelah pak penghulu mengesahkan kita menjadi suami istri,” ujar Faisal sambil mengerling nakal.

Sekali lagi Azra mengangguk. Banyak hal tak terduga selama hari ini membuat Azra tak bisa berkata. Kebahagiaan menyelimuti hatinya.

“Kalau begitu aku harus pulang dulu, supaya besok sore bisa segera melamarmu bersama kedua orang tuaku.”

“Apa? Apa tidak terlalu terburu-buru?”

“Tidak sama sekali. Aku telah menunggu saat ini hampir sepuluh tahun dan aku tak mau menundanya barang seharipun. Tolong pamitkan ayah dan bunda ya.” Berkata begitu, Faisal berdiri dan melangkah tergesa hingga terantuk tangga teras. Azra tersenyum geli melihatnya.

“Hati-hati,mas. Aku nggak mau ntar pengantin prianya benjol.” Faisal tersenyum malu.

“Aku pulang dulu sayang. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Azra memandangi Faisal yang berjalan tergesa menuju mobilnya dengan perasaan yang tak terkatakan. Tiba-tiba ada perasaan tak sabar menunggu esok untuk melihatnya lagi. Azra tak mau buru-buru memutuskan apakah itu cinta. Ia hanya bersyukur dalam hati, Allah telah mempertemukan kembali dengan lelaki yang benar-benar mencintainya dan pasti akan bisa dicintainya sepenuh hati. Sebelum masuk ke dalam mobil, Faisal sempat menengok ke arah Azra.

Wait for me!”Azra tersenyum mengangguk. Lalu ia memandangi mobil Faisal hingga menghilang di belokan. Malam ini tak ada gerimis. Bintang-bintang bertebaran memenuhi langit. Mencoba membangunkan bulan yang malu-malu menampakkan diri. Hati Azra pun tak lagi gerimis. Cahaya malam membuat bunga-bunga di hati Azra bermekaran. Belum lama ia mengikhlaskan cintanya yang selama ini membayangi hidupnya, kini ia menemukan cinta sejatinya. Hatinya penuh syukur, terutama karena memiliki sahabat sebaik Fadia yang meski sempat terpisah sekian lama, ternyata tak mengubah persahabatan mereka. Sekali lagi Azra tersenyum bahagia dan berharap ruang hampa di hatinya akan segera sirna bersama dengan hadirnya Faisal dalam hidupnya.

Tamat

Jakarta, end of 2010

Dedicated to Dik Yatik Kusumaningrum and someone from the past.

Posted in Cerpen | Leave a comment

This gallery contains 1 photo.

Gallery | Leave a comment

This gallery contains 1 photo.

Gallery | Leave a comment

This gallery contains 1 photo.

Gallery | Leave a comment

Red Flexure

This gallery contains 1 photo.

Bahan: Red wire 18 dan 24 ga, clay, mutiara tawar, mutiara cina. (sold out)

Gallery | Leave a comment