Tasyakuran vs ‘mencari uang’

Musim liburan, banyak orang tua menggunakan kesempatan tersebut untuk mengkhitankan anak laki-lakinya. Itu adalah suatu hal yang lumrah, mengingat kekhawatiran orang tua pada masa pemulihan setelah di khitan.

Yang menjadi perhatian saya adalah, orang tua ramai-ramai merayakan hari khitan anaknya dengan sebuah acara resepsi bak resepsi pernikahan. Bahkan ada yang dalam resepsi tersebut si anak ( yang dengan metode khitan jaman sekarang sudah bisa langsung lari) harus duduk manis di pelaminan dengan sebuah gentong sumbangan di sebelahnya. Padahal dalam undangannya jelas-jelas tertulis “tasyakuran”. Masa Allah. Apakah harus demikian? Padahal tidak ada dalam tuntunan Rasulullah mengenai hal yang demikian itu.

Ada lagi yang si anak sudah di khitan beberapa minggu lalu dan para tetangga dan kawan-kawannya sudah menengoknya serta memberikan sekedar hadiah atau sumbangan untuk membuatnya senang, lha kok orang tuanya ternyata masih juga berniat menyelenggarakan resepsi khitan tersebut sebulan kemudian. Sampai-sampai ada tetangganya yang nyeletuk, “Lha kemarin aku dah kasih sumbangan, sekarang ada undangan lagi. Dobel dong?”

Kok dalam hati saya jadi berpikir, ini tasyakuran atau sudah berubah fungsi menjadi ajang pencarian dana bagi orang tua ya?

Perubahan fungsi ini sebenarnya tidak hanya pada acara khitanan, tapi juga pada peristiwa lain seperti pernikahan. Ada sebuah pernikahan yang akad nikahnya sebenarnya sudah lama dilaksanakan bahkan sudah memiliki anak, lha kok masih mau dilakukan resepsinya. Dan yang paling membuat saya geleng kepala, acara aqiqah yang sebenarnya berfungsi sebagai penebusan anak dan sedekah kepada tetangga sekitar dan fakir miskin/anak yatim, juga bisa dijadikan topik untuk melaksanakan sebuah resepsi dimana yang hadir harus memberikan sumbangan untuk si penyelenggara.

Belajar dari hal tersebut, semoga saya dan orang-orang tergerak hatinya untuk mengembalikan arti sebenarnya dari sebuah kata ‘tasyakuran’, dapat memberikan contoh bagi masyarakat sekitar.

Advertisements

Terima Kasih Timnas

Hari ini, kita tidak kalah. Kita semua memang.

Timnas menang karena telah bermain dengan apik. Hanya Allah memang belum mengijinkan pialanya turut melengkapi kemenangan itu dengan sejuta alasan dibaliknya, demi kebaikan bangsa ini. Hanya Dialah yang tahu, inilah skenario terbaik untuk bangsa ini.

Masyarakat Indonesia menang, karena telah menjadi supporter yang setia tanpa amuk massa. Menunjukkan pada dunia arti sesungguhnya sebuah sportivitas tanpa upaya balas dendam atas sebuah kecurangan. Menunjukkan bukti nyata bahwa Bangsa Indonesia ternyata memang bangsa yang bermartabat, bangsa yang besar.

Kekalahan timnas yang sesungguhnya kemenangan buat bangsa ini, sekaligus telah membungkam politisi banci yang haus pujian.

Dunia akan tahu siapa pemenang sesungguhnya.

Dan hari ini, aku sungguh bangga menjadi bagian dari bangsa ini.

Pada Sebuah Kapal

Pada sebuah kapal aku bersandar.

Tubuh kokohnya menjanjikan perlindungan yang senantiasa kuidamkan.

Pijar lampunya melibas batu karang dikeheningan malam sekalipun.

Nahkodanya teramat sabar mengendalikan arah, melawan ombak yang kadang jinak dan tak jarang mengganas.

 

Pada  kapal itu aku berlabuh

Menyembunyikan rapuh yang tak mau kuakui.

Hangatnya menepis dingin malam yang akut menyesap belulang.

Langkahku terasa jejak merangkak di geladak pengkuhnya.

Damai rengkuhnya tak membiarkanku tergoda menuju kapal lain yang lalu lalang disekitar kapalku berlayar

 

Pada kapal itu aku berlabuh

Menuju satu tujuan yang menjadi rahasia semesta kapan akan kan sampai

 

Memejam mataku melantunkan sebait doa, berharap dengan sungguh, kapalku takkan karam oleh apapun jua.

***

 

Jakarta,  26.10.2009

(just for my beloved husband)

Maafkan Ibu, Anakku

Maafkan Ibu, Anakku
Ibu tak dapat menemanimu setiap waktu.
Pagi-pagi ibu harus pergi meninggalkanmu,
Membantu Bapak mencari nafkah keluarga
Kami bermimpi engkau dan saudara-saudaramu bisa hidup dengan layak
Mencicipi sekolah berkualitas yang tak hanya mengajarkan pengetahuan
namun juga akhlak dan kesopanan.
Kadang Ibu merasa bersalah tak membentuk sendiri kepribadianmu di masa emasmu.
Ibu dengar di sebuah negri, tempat penitipan anak ada di mana-mana,
Para ayah dan ibu bisa menemani buah hatinya hingga balita,
susu formulapun tak guna karena ASI senantiasa ada.

Maafkan Ibu, Anakku
Jika engkau sakit, ibu hanya bisa memelukmu sesaat
Membawamu ke dokter, lalu pergi lagi mempercayakanmu pada khadimat.
Meski hati ibu tetap bersamamu dan lantunan doa tak pernah putus ibu lantunkan,
Ibu tetap merasa tak cukup.
Ibu bagai seorang pesakitan yang terpaksa bekerja meski hati bagai terbelah.
Itu semua tak lebih atas nama remunerasi dan kedisiplinan
Atas nama upah dan kebutuhan.
Sungguh ibu iri bila di sebuah negri
Para ayah dan ibu boleh mengambil cuti demi sang buah hati yang tengah menahan nyeri.
Biaya berobatpun bukanlah sebuah beban dalam hati.

Maafkan Ibu, Anakku
Ibu seringkali tak ada saat engkau belajar,
Mengerjakan tugas yang mungkin terasa berat olehmu setelah seharian engkau telah dijejali teori dan kurikulum yang tak bersahabat
Atau pula ketika engkau memilih tontonan media yang dengan mudah tersedia.
Ibu takut engkau belajar yang tidak seharusnya
Kekerasan dan pornografi seperti banyak teman kecilmu yang bertingkah bak orang dewasa.

Maafkan Ibu, Anakku
Terkadang ibu tak dapat menahan amarah bila engkau sedikit nakal
Ibu tak berhak menghakimimu meski dengan alasan lelah dan beban yang teramat berat di pundak ibu
Engkau hanya seorang anak yang meminta haknya untuk diperhatikan.
Maafkan ibu anakku
Ibu tak selalu bisa mendongeng sebelum tidurmu
Terkadang ibu hanya mampu mengucapkan selamat tidur lewat telepon genggam
Lalu sedikit kecupan saat tiba dirumah, dan tak lama terlelap memeluk tubuh mungilmu
Ibu rindu padamu anakku
Seperti rindumu yang terpancar pada sorot matamu
Tapi sekali lagi maafkan ibu, anakku
Negri kita belum banyak berpihak padamu dan anak-anak lainnya
Pada nurani kami ibu-ibu yang berada pada dilema.
Berita kejahatan, perceraian, perselingkuhan, kenakalan remaja dan pornografi
Menjadi sarapan sehari-hari media dan televisi
Ibu sungguh ngeri dan berkata dalam hati
Mungkin para petinggi negri ini belum mengerti
Semuanya berawal pada kasih bunda yang tercerabut paksa,
Pun lingkungan dan media yang dengan bebasnya menyajikan segala
Ibu terus bermimpi anakku
Surga di sebuah negri yang pernah ibu dengan itu, akan tercipta ditanah kita
Meskipun entah………
***
Jakarta, 28.10.2009
(untuk mutiara-mutiara kecilku: Firda, Hasna, Fatih, dan Zalfa)

Antara Staf dan Atasan

Ketika kita menjadi bawahan/staf yang didholimi atasan, mari kita simpan dalam memori untuk selanjutnya kita buka lagi ketika menjadi atasan. Jadikan itu rambu untuk tak memperlakukan hal yang sama pada bawahan kita. Tegakkanlah disiplin dengan tetap menggunakan nurani.

Mari berjilbab dengan benar

Jika saya menulis ini, bukan berarti saya merasa telah berjilbab paling benar. Tulisan ini berangkat dari keprihatinan melihat tren berjilbab muslimah jaman sekarang.

Sesungguhnya ada suatu kebahagiaan tersendiri melihat maraknya muslimah khususnya di Indonesia dalam mengenakan jilbab. Pengertian jilbab sebagaimana banyak kita ketahui, sesungguhnya bukanlah hanya sebuah kerudung/penutup kepala yang digunakan untuk menutupi rambut, namun merupakan satu kesatuan pakaian penutup kepala hingga kaki.

Selain tidak menyerupai pakaian kaum lelaki, pakaian muslimah hendaknya menutup seluruh tubuh dari pandangan bukan muhrimnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Kain yang digunakan hendaknya tidak tipis. Bentuknya bisa berupa terusan (jubah/gamis) ataupun potongan, yang penting longgar dan tidak terlihat jelas lekuk tubuhnya. Kerudung terbuat dari kain yang tidak tipis dan cukup lebar untuk dapat menutupi bagian dada. Jangan lupa untuk  mengenakan kaos kaki.

Fenomena yang ada sekarang justru memprihatinkan. Kerap saya merasa risih melihat muslimah yang mengenakan kaus/ baju dan celana ketat dengan kerudung yang terpakai benar-benar rapi hanya menutupi kepala. Akibatnya, seluruh lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas. Bahkan tak jarang saking pendeknya baju atasannya, celana dalamnya pun dapat terlihat. Masya Allah. Naudzubillahi mindzaliik.

Baiklah mereka bisa beralasan karena mode, atau belum terbiasa mengenakan rok, tidak bisa bergerak bebas/cepat khususnya untuk yang bekerja di outdoor, atau belum sampai ke sana hijrahnya, atau entah alasan apalagi. Namun kiranya akan lebih santun apabila meskipun memakai celana panjang, tapi yang longgar sehingga tak terlihat jelas bentuk kaki. Dan baju atasan pun hendaknya yang sedikit dipanjangkan sehingga bisa menutupi bagian pantat. Kerundung masih tetap bisa bergaya dan modis dengan tetap bisa menutup bagian dada.

Mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi muslimah-muslimah yang belum terbiasa mengenakan rok, bahwa ternyata rok tidak akan membatasi gerak kita. Salah satu tipsnya adalah dengan mengenakan celana panjang (jangan terlalu tebal) sebelum mengenakan rok atau gamis. Untuk kerudung, kenakan yang tidak terlalu lebar, tapi tetap menutupi bagian dada. Apabila suka dengan model salah satu ujungnya ditarik ke belakang, pilih kerudung yang sedikit lebih lebar sehingga ujung yang lain bisa di tarik kesamping dengan menyematkan peniti agar tak bergeser ke depan. Ditambah dengan niat yang ikhlas, berjilbab untuk menjalankan syariat, dijamin aktifitas tetap berjalan normal meskipun dengan jilbab yang tetap syar’i.

Semoga tulisan ini dapat menggerakkan hati pembaca muslimah berjilbab lebih syar’i. Dan untuk muslimah yang belum berjilbab, semoga segera mendapatkan hidayah, bahwa jilbab adalah sebuah kewajiban seperti halnya sholat, puasa, dan zakat. Jangan takut komentar orang, ‘sudah berjilbab kok akhlaknya masih begitu’ atau ‘sudah berjilbab kok sholatnya berantakan’, dsb. Insya Allah, setelah berjilbab, justru menumbuhkan semangat untuk memperbaiki akhlak, memperbanyak ibadah, setidaknya karena ‘sungkan’ dengan jilbab kita yang pada akhirnya nanti akan menjadi jalan menuju kedekatan pada Allah, SWT. Dan bahwasannya berjilbab bukanlah suatu tujuan, melainkan salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika berjilbab merupakan tujuan, maka kapan dilaksanakannya akan menjadi tidak jelas. Apalagi jika menunggu akhlak dan ibadah yang dianggap sesuai dengan pakaian yang dikenakannya. Padahal, tak ada manusia yang sempurna. Jadi mari tunaikan kewajiban berjilbab, selanjutnya benahi akhlak dan ibadah agar sesuai dengan pakaian kita.

Jazakallah