Arti Sahabat

Setelah menemukan hadist yang menyebutkan bahwa jika kita mencintai saudara kita, maka katakanlah padanya. Jadi kulakukan seperti yang disunnahkan oleh Rasulullah itu. Aku mengirimkan sms kepada saudaraku itu, teman kerjaku, sahabatku, dan juga adikku. Tadinya aku sempat ragu-ragu bahwa ia akan menganggapku aneh. Apaan sih ini, tumben banget tiba-tiba ngomong sayang. Maka sebagai prolog, akupun mengatakan bahwa aku hanya mencoba menjalankan apa yang dianjurkan Rasulullah. Setelah sms terkirim, aku merasa deg-degan juga menunggu balasan atau reaksi dari smsku itu. Jangan-jangan dia akan bereaksi negatif, tidak suka dengan segala ungkapan sayang meskipun dari saudara muslimahnya. Jangan-jangan dia tidak mau berteman denganku lagi. Itu berarti aku akan kehilangan salah seorang sahabatku dari dua orang sahabat yang saat ini dekat denganku. Sahabat-sahabat dekatku yang lain banyak berada jauh dari tempat tinggalku. Dan rasanya aku tidak siap untuk itu.
Malam itu kulalui dengan mencoba menenangkan diri. Everything will be fine. Kataku menghibur diri. Esoknya, sebagaimana kebiasaanku setiap hari, aku berangkat ke kantor menggunakan kereta ekspress. Biasanya sahabatku itu akan naik di dua stasiun pemberhentian berikutnya dan berdiri beberapa bangku dari tempatku duduk. Dan benar, dia naik seperti biasanya. Lalu tersenyum dari jauh seperti biasanya pula. Saat turun di stasiun tujuan kami, seperti biasa ia menungguku untuk jalan bersama. Membeli tiket untuk pulang bersama. Naik kopaja P 20 bersama. Absen, meletakkan tas,menyalakan komputer sebentar, lalu turun sarapan bersama. Itulah rutinitas kami setiap hari. Tak ada yang berubah. Kedekatan kami berjalan begitu saja meski umur lumayan jauh berbeda. Kami banyak memiliki kesamaan. Sama-sama suka travelling terutama ke tempat-tempat yang menantang adrenalin atau masih belum terlalu banyak dijamah wisatawan. Sayangnya status istri dan ibu dari empat orang anak membuatku tak bebas lagi bisa bepergian. Hobiku itu baru bisa tersalurkan apabila ada tugas dari kantor untuk sosialisasi ke daerah. Sementara dia yang masih lajang bisa berekplorasi dengan bebasnya, menentukan mau kemana ber-backpacker ria.
Kesamaan visi dan misi makin mempererat tali persahabatan kami. Memang tak pernah ada ikrar terucap antara kami. Tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang aneh bila ia sedang tidak ada dikantor karena sedang tugas. Bila perlu aku membawa makanan dari rumah agar tak perlu keluar untuk makan sendiri atau dengan teman lain. Iapun begitu, meski sudah tahu kalau punya sakit maag, ia selalu telat makan pagi bila aku tak ada. Aku sering mengomelinya dengan kebiasaan jeleknya itu. “Malas, gak ada teman,” katanya.
Begitulah. Persahabatan kami mengalir begitu saja. Saling mengingatkan dan menguatkan. Dan hari itu aku begitu gembira tak ada sedikitpun yang berubah dengan persahabatan kami setelah kukirimkan sms itu.
Dan aku belajar satu hal dari peristiwa itu, bahwa ada tipe sahabat yang tak perlu ucapan sayang namun tetap dapat terikat erat dalam ukhuwah islamiyah. Bukan berarti sahabat itu orangnya kaku, tapi memang begitulah ia adanya.

To my dear friend, Intan.
Akhir Februari 2011

Advertisements