Renjana

Menelan kepahitan dengan senyuman. Aku bukanlah apa-apa bagimu, dan seharusnya engkau juga bukan apa-apa untukku.

Meski pada setiap detak kuingat dirimu, aku tak berhak menunggu.

Kulantunkan lagu rindu dalam nada sunyi. Berguling-guling menangkap keranda cinta yang berserakan di udara.

Senyummu menampar keluguanku

Bening matamu menenggelamkan rasa bersalahku.

Aku tak bisa lagi mengeluhkan nyeri yang kurasai. Terlalu berlebihan gemertak cinta melumuri batinku.

Pada separuh hari yang kulalui, masih tersungkur di belantara sepi tanpa tepi.

Terkadang kutitipkan rindu yang tak terkatakan, pada buaian angin yang membelai mimpimu.

Tak peduli ia tak mengerti bahasa jiwaku yang terus meneriakkan ketakberdayaan.

Oh renjana cinta, kemanakah gerangan kau bawa asa….

Jakarta, 10 Januari 2011

Advertisements