Doaku

Tuhan, berikan aku cinta terindah untuknya. Yang takkan membuatku berpaling pada siapapun. Yang takkan mengijinkanku membagi rasa dengan apapun, yang tak menyakitkan meski bagaimanapun, yang dengan ikhlas menerima apa adanya dia, yang dapat memenuhi ranah rindu sepanjang waktuku, yang mampu meletupkan gairah hidupku, yang bersenyawa dengan nadiku. Tuhan, biarkan aku mencinta, hanya untuk dia yang berhak atas cintaku.

Advertisements

Anggrek Hutan Meratus

Anggrek ini termasuk sangat jarang berbunga. sekalinya berbunga tidak lama, paling hanya seminggu. sungguh puas ketika dia langsung berbunga dua helai.

Hikmah

Karina menatap kaki kanannya yang dibebat perban tebal. Kepalanya masih agak pusing sisa jatuh dari motor kemarin sore. Hari ini, dengan berat hati ia terpaksa membatalkan keikutsertaannya ke Bukittinggi bersama rombongan kantornya.

“Sudahlah, Karin! Semua pasti ada hikmahnya,” ujar mamanya.

Hikmah, hikmah. Hikmah apaan, pikir Karin.

“Ya, siapa tahu dengan kamu nggak ikut, kamu malah terhindar dari bencana. Seperti kecelakaan yang lebih hebat misalnya.”

Ah, rasanya tetap saja tak sebanding dengan segala persiapan khusus yang telah ia lakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Berbulan-bulan ia browsing di internet tentang materi yang akan dia sampaikan di sana. Belum lagi buku-buku yang dibacanya dan penelitian yang dibuatnya secara diam-diam. Ini adalah proyek prestisius baginya. Sebuah pembuktian bagi pimpinannya bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang patut dibanggakan dan benar-benar orisinil, berbeda dengan materi-materi yang biasa disampaikan oleh kawan-kawannya. Sesuatu yang sederhana, tapi luar biasa. Dan hawa keberhasilan itu bahkan telah tercium dihidungnya. Tinggal selangkah lagi, dan semuanya buyar hanya karena peristiwa sore kemarin, terjatuh dari motor. Benar-benar menyebalkan.

Sebenarnya ia tetap ngotot ingin berangkat biarpun harus dengan tongkat. Tapi mama papanya dengan tegas melarang. Pun kawan-kawan lainnya di kantor.

“Sudahlah, Karin! Nanti kan ada kesempatan lagi,” kata Jeni sahabatnya melalui telepon.

Tidak. Tidak akan pernah bisa sama. Ini sebuah momen yang tepat untuknya. Ini bukan sekedar keinginannya melihat Maninjau, pesta durian, atau sekedar bertemu karib lamanya yang tinggal di sana seperti yang diketahui teman-temannya. Karena proyek prestisiusnya ini hanya ia yang tahu.

“Lagi pula, semua pasti ada hikmahnya.”

Hikmah lagi. Karina sungguh sebal mendengar satu kata itu saat ini.

==

Hari ini seharian Karin sibuk memelototi berita lewat radio, televisi, internet, dan koran. Barangkali ada berita mengenai bencana atau kecelakaan di seputar Bukittinggi. Meskipun sungguh di lubuk hatinya, ia tak ingin terjadi apa-apa dengan kawan-kawannya yang berangkat ke sana. Tapi ia sungguh penasaran dengan kata hikmah. Sampai hari keberangkatan mereka, ia merasa belum menemukan hikmah yang dimaksud mamanya atau Jeni sahabatnya.

Mamanya hanya geleng-geleng kepala melihat kerasnya hati Karina. Jeni bahkan tertawa melihat kelakukannya saat menyempatkan diri menengoknya sepulang dari kantor.

“Ya ampun, Karin! Kamu ini kayak anak kecil saja. Yang namanya hikmah tuh bukan sekedar terhindar dari bencana  atau kecelakaan saja. Banyak macam hikmah yang nyata atau bahkan nggak terasa. Yang disadari segera atau bahkan beberapa waktu lamanya.”

Karina bergeming.

“Udah ah, aku pulang dulu. Kelamaan di sini jangan-jangan kau suruh pula aku membantumu mencari hikmah sampai ketemu.” Karina tersenyum kecut.

“Eh, Karin! Aku baru ingat. Hikmah tadi sudah pulang dari sekolah dan sekarang sedang main di halaman rumahnya,” ledek Jeni sambil naik ke atas motornya. Karina yang masih dongkol terpaksa nyengir juga mendengarnya.

“Awas kau, Jen! Mentang-mentang aku nggak bisa mengejarmu. Kalau aku sudah sembuh, akan kujitak kau.”

“Sekarang saja kalau berani. Ha ha ha…. Byee….!”

+++

Empat  hari Karina tidak masuk kantor. Hatinya masih kecewa meskipun tak sebesar sebelumnya. Yang ia belum bisa mengerti, belum juga hikmah bisa ia rasakan dari kejadian yang ia alami. Apalagi bila ia ingat saat ini tentu kawan-kawannya tengah asyik jalan-jalan ke Maninjau, Ngarai Sihanouk, belanja di Pasar Atas, dan dituntaskan dengan pesta makan ketan durian yang mak nyus. Tak ketinggalan sate Mak Sukur yang terkenal itu. Hmmm.

Sementara ia memandangi koleksi anggreknya yang cukup lengkap dan kebetulan sedang pada berbunga semua. Pikirannya yang kini sudah mulai tenang dan terbuka mulai benar-benar serius mencari hikmah. Tapi kali ini tidak dari berbagai media melaiankan dari dalam dirinya sendiri seperti yang pernah dikatakan Mama dan Jeni. Mungkin memang benar apa yang dikatakan mereka. Selama ini Karina begitu sibuk dengan pekerjaan dan hobbynya merawat anggrek serta menulis kisah-kisah travellingnya yang rencananya akan segera ia bukukan. Ia bahkan nggak sempat bersosialisasi dengan baik. Kadang mamanya bertanya kapan ia mau menikah. Usianya memang sudah cukup matang untuk menikah, tapi ia belum menemukan cowok yang benar-benar pas dihatinya. Cowok-cowok dikantornya kebanyakan agak kekanak-kanakan dan suka hura-hura.

”Assalamu’alaikum,” salam seorang ibu mengejutkan Karina.

Seorang ibu separuh baya bersama seorang lelaki muda yang… ups… super cakep dan keren.

“Waalaikum salam,” jawab Karina.

“Ini Karina ya? Akhirnya bisa ketemu juga dengan Karina. Saya tante Arzetti teman mama kamu. Mama ada?”

“Eh, ada tante. Mari silahkan masuk. Karina berusaha bangun dibantu tongkatnya.”

“Karina kenapa?”

“Biasa tante, anak muda. Sebentar ya, tante. Karin panggilkan mama. Silahkan duduk dulu.”

“Biar tante aja. Kasihan Karin jadi repot.”

“Ah enggak, tante. Ini sudah mendingan kok. Sebentar lagi Karin pasti sudah bisa lari lagi. Cuma keseleo dan sedikit lecet.”

Cowok cakep itu tersenyum geli mendengar jawaban Karin yang kocak dan polos.

Karin jadi merasa agak kikuk. Sekali lagi ia mempersilahkan mereka duduk dan memanggil mamanya. Karin sendiri langsung masuk ke kamar dan asyik bermain dengan pikirannya….tentang cowok cakep di ruang tamu rumahnya.

Eh, ngapain aku jadi norak gini.

“Karin!” panggil mamanya lembut.

“Ya, ma?” Karin membuka pintu kamarnya.

“Kamu temeni mama menemui tante Arzetti dan anaknya, Fatin, ya.”

Jadi namanya Fatin? Batin Karina.

“Emang kenapa, ma?”

“Sudahlah, ayo! Mereka ingin kenalan denganmu.” Mamanya tersenyum mengerlingkan matanya.

Karina merapikan jilbabnya sebentar lalu dibantu mamanya ikut ke ruang tamu. Ia agak grogi juga.

“Karina, ini Fatin anak tante yang sedang berlibur dari kuliahnya di sini. Ia suka sekali melihat tanaman anggrek di rumah. Tante bilang kamu punya koleksi yang sangat lengkap. Eh, ia malah pengen dianterin kesini.”

“Ah, tante berlebihan. Cuman hobby saja kok.”

“Karina, coba kau temani nak Fatin ngobrol di teras sebentar sambil melihat koleksi anggrekmu. Mama mau bicara dengan tante Arzetti sebentar. Nanti kami menyusul.”

“Baik, ma.”

Fatin dan Karin lalu duduk diteras.

“Wah, mas. Kalau kakiku sedang tidak sakit, bisa kuantar kedepan situ langsung. Tapi aku punya daftar mereka semua di album ini.”

Karin mengeluarkan sebuah album besar berisi foto-foto koleksi anggreknya lengkap dengan namanya.

“Subhanallah, Karin rajin sekali membuatnya.” Karina tersipu. Sementara Fatin terpesona dengan hasil karya Karina. Sebentar kemudian mereka telah terlibat obrolan yang hangat tidak hanya seputar anggrek tapi juga topik-topik lainnya.

“Karina ini orangnya super sibuk, Fatin.” Tiba-tiba tante Arzetti sudah berada di belakang mereka bersama mamanya. “Setiap bunda kesini, dia tidak pernah ada.  Sibuk dikantor, keluar kotalah, pokoknya ada aja kegiatannya.”

“Ah, tante.” Karina tersipu malu.

“Padahal tante pengin juga ketemu dengan Karina. Selama ini selalu mendapat kiriman anggrek lewat mamanya terus.”

===

Malam itu mamanya mengajaknya berbicara serius dikamarnya.

“Karina, menurutmu Fatin itu bagaimana?”

“Bagaimana maksud Mama?”

“Ya, baik apa tidak gitu?”

“Ehm… Baik sih, ma. Enak diajak ngobrolnya. Tapi kan Karin baru ketemu sekali.”

“Ada yang perlu kau tahu tentang dia. Dia itu lulusan pondok pesantren terkenal di Jawa Timur. Saat ini ia tengah liburan di sini setelah lulus S2nya di Jepang. Dan sebetulnya dia akan langsung meneruskan S3nya di sana. Hanya saja ia ingin pulang dulu karena ia ingin sudah ada yang menemaninya di Jepang sana. Yah,kau tahulah. Di sana godaannya besar sekali. Katanya sekalian menyempurnakan separuh agama.”

“Lalu apa hubungannya dengan Karin, ma?”

“Ia sedang mencari calon istri. Tadinya, tante Arzetti pengen minta tolong kamu, siapa tahu ada teman-temanmu yang cocok buat dia. Tapi….”

Ups. Hati Karina bergetar tiba-tiba.

“Tapi setelah melihat kamu, dia merasa mantab.”

What?! Karina hampir menjerit terkejut.

“Apa nggak salah, ma? Karina kan bukan lulusan pondok. Nanti dia merasa kecewa dengan Karin?”

“Mama sudah ceritakan semua sifat dan perilakumu. Tapi Fatin merasa sudah sangat mantab. Rupanya ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama padamu. Lagipula, dalam beberapa hari istikharahnya, ia merasa mendapat petunjuk dari Allah bahwa jodohnya akan ketemu di rumah temen bundanya. Papa dan mama sudah berbicara, dan semua kami serahkan padamu.”

Pipi Karina bersemburat merah. Ini terlalu cepat. Baru tadi ia mengenalnya dan ia harus memutuskan sekarang? Tapi kenapa hatinya juga jadi dag dig dug ya? Apa ia juga terkena cinta pada pandangan pertama?

“entahlah, Ma. Karin bingung.”

“Karin tidak perlu menjawab malam ini. Pikirkan dulu. Tapi tidak bisa lama-lama. Soalnya Fatin kan harus kembali ke Jepang dengan membawa serta istrinya.” Ya ampun ke Jepang? Negara yang sekian puluh tahun hanya ada dalam impiannya. Negara sakura yang sangat ingin dikunjunginya. Dan kesempatan itu sekarang ada didepan matanya dengan mudah. Apa arti semua ini?

“Apa dia tidak perlu merasa mengenal Karin lebih lama?”

“Maksudmu pacaran? Dia bukan cowok yang mengenal kata pacaran. Baginya, pacaran ya sesudah nikah.”

“Oke, mama tinggal dulu, ya.” Mamanya melangkah meninggalkan kamar Karina.

“Ma…” Karina memanggil ragu-ragu.

“Ehm…. Rasanya Karin akan menjawab sekarang.”

“Jadi..?”

Karina mengangguk malu.

“Tapi besok Karina ingin berbicara dulu dengannya.”

“Alhamdulillah. Baik, nanti mama akan telpon Tante Arzetti.” Karina memeluk mamanya bahagia.

+++

“Jeni, aku sudah ketemu hikmah.”

“What, kau ini. Malam-malam begini Cuma mau bilang ketemu hikmah?” Jeni agak kesal sedang enak-enaknya tidur di telepon Karina.

“Aku sudah ketemu hikmah di Jepang.”

“Kamu ngigau ya?”

“Aku serius. Aku akan segera bertemu dengan hikmah itu. Pangeranku yang tampan akan membawaku ke sana. Dah dulu  ya, sampe ketemu besok. Dah bobok lagi sono.”

Klik. Karina menutup teleponnya, meninggalkan Jeni yang terbengong-bengong dibuatnya.

===

Bogor, Pertengahan Mei 2011