Rembulan di Kolong Langit

Rembulan di Kolong Langit

Gadis muda itu menatap dinding penyangga rel kereta antara stasiun Juanda dan stasiun Mangga Besar. Dinding yang bergambarkan anak-anak yang sedang belajar. Sederet kalimat tertulis diatasnya. ‘dengan membaca menjadi cerdas’. Disisi lain dinding berhiaskan gambar dan tulisan yang berbeda. ‘sekolah, gerbang kehidupan yang lebih baik’.  Senyum terukir di bibirnya yang indah, matanya sedikit berkabut. Angannya memaksanya menapaki jejak-jejak kehidupan yang tak mudah terlupakan. Kehidupan di kolong rel kereta.

***

“Aira, bangun sayang,” ujar bapaknya lembut. “cepet mandi ya, trus sholat.” Setiap pukul setengah lima pagi, dengan setia bapaknya akan membangunkannya. Ibu sudah terlebih dulu sibuk membuat kue-kue yang sebagian akan dititipkan pada warung dekat rumah dan sebagian dijajakanya sendiri saat Aira tengah berada di sekolah.

Aira menggeliat malas, lalu bangkit dan merapikan tempat tidurnya yang hanya berupa selembar tikar pandan dan kasur bekas yang sangat tipis sekedar punggungnya tak menempel langsung dengan lantai. Ia lalu keluar ruangan yang merupakan rumahnya.’Rumah’ baginya adalah sebuah ruang persegi berukuran 3x3m yang terbuat dari triplek, menempel pada dinding pagar lahan milik PT KAI dekat stasiun Juanda. Atapnya terbuat dari terpal yang sudah ditambal di beberapa bagian. Tak ada sekat di dalamnya. Hanya ada sebuah lemari alakadarnya tanpa pintu (jika itu masih pantas disebut lemari) untuk tempat menyimpan baju-baju. Lalu sebuah tikar dan kasur tipis kumal tempatnya tidur, sebuah tikar lagi tempat bapak ayah dan ibunya tidur. Di sudut ruangan itu terlihat beberapa buku-buku dan perlatan sekolah Aira. Bertiga mereka menempati ruangan itu.

Ibunya biasa memasak di samping rumah mereka. Kamar mandi mereka adalah kamar mandi darurat yang dipakai bersama-sama dengan beberapa penghuni rumah-rumah liar disana. Jangan harap ada bak mandi yang bersih dengan pancuran yang sejuk atau bahkan bisa disetel untuk air panas. Kamar mandi itu hanya terbuat dari kain rombeng dirangkap plastik bening yang ditata sedemikian rupa sehingga menutupi orang yang sedang mandi di dalamnya. Tak ada bak mandi,hanya sebuah kran dan gayung untuk meratakan air. Lantainya terbuat dari batu kerikil yang ditaburkan agar tak menimbulkan becek jika terkena guyuran air mandi. Airnya mengalir ke selokan yang memanjang sepanjang tiang penopang  rel kereta. Peralatan mandi dibawa masing-masing oleh orang yang akan mandi disitu. Setiap hari, sekitar 15 orang yang memanfaatkan ‘kamar mandi’ itu.

Aira segera mengambil peralatan mandinya dan melupakan dinginnya pagi itu agar segera mendapat giliran mandi sebelum para penghuni lain mulai mengantri. Ia juga harus segera bersiap untuk pergi sekolah yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya. Bapaknya akan mengantarnya ke sekolah berjalan kaki sambil mencari barang-barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan. Ya, bapaknya memang seorang pemulung.

Keluarga Aira mulai menghuni tempat itu sejak Aira berusia 1,5 tahun. Sebelumnya mereka tinggal di                                 sebuah kampung di Jawa Timur. Bapak Aira termasuk salah satu orang kampung yang terpedaya magnet kota Jakarta. Berbekal tekad dan sedikit uang, bapak dan ibunya membawa Aira yang baru bisa berjalan, mengadu nasib di belantara Ibukota. Sayang nasib tak berpihak pada mereka, setelah lontang-lantung dan bekerja serabutan selama beberapa waktu, keluarga Aira akhirnya tak bisa lagi mengontrak sebuah rumah yang paling kecil sekalipun. Mereka hanya bisa membuat rumah alakadarnya dari triplek dan kayu bekas. Bapaknya menjadi pemulung dan ibunya menjajakan kue-kue buatan sendiri. Tapi keadaan mereka tak menyurutkan semangat bapak Aira untuk menyekolahkannya.  Ibunya pernah mengeluhkan pada bapak tentang beratnya menyisihkan uang untuk membeli buku-buku Aira. Tapi bapaknya tak mau Aira sampai keluar dari sekolah. Aira yang beranjak menjadi gadis kecil yang cantik dan cerdas.

“Apa kau ingin, Aira menjadi seperti kita, bu, atau seperti si Luluk yang kelayapan dimalam hari mencari om-om senang?” kata bapknya setiap ibunya mulai mengeluh. “ Tidak. Aira adalah putri kecilku yang cantik dan cerdas. Aku tak mau ia menanggung derita akibat kesalahan orang tuanya. Seberat apapun aku akan menjadikannya keluar dari lingkaran kumuh ini. Dan aku yakin, sekolah adalah cara yang terbaik untuk itu.”

Sejak itu ibunya tak lagi mempertanyakan kenapa harus memaksakan Aira untuk sekolah. Ia hanya bisa bekerja lebih keras membuat kue-kue untuk dijajakan. Kawan-kawan bapaknya suka meledeknya, kenapa bersemangat sekali sekolah, sementara teman-teman sebayanya sibuk mengamen, mengemis atau bahkan menjajakan diri. Aira hanya tersenyum, atau sesekali menjawab singkat, “Aku ingin meraih rembulan.” Biasanya mereka kan menertawakannya, tapi ia tak peduli.

Pada malam-malam purnama, bapak selalu mengajaknya ke sebuah tempat yang keramat bagi mereka berdua. Berdiri di depan dinding tiang penyangga rel kereta yang bergambarkan anak sekolah dan bertuliskan ‘Sekolah, gerbang kehidupan yang lebih baik.’ Lalu memandang purnama yang terang dilangit malam dan berkata, ”Aira anakku, kamu memang hanya anak seorang pemulung. Tapi, rembulan itu tak pernah pilih kasih memberikan sinarnya, menunggu manusia-manusia untuk meraihnya. Jangan sekali-kali kau takut untuk meraihnya. Rembulan tak setinggi langit, Aira. Kau pasti bisa. Bapak dan ibu akan membantumu sekuat tenaga.”

“Bapak yakin aku akan bisa?”

“Dengan doa dan usaha yang keras, bapak sangat yakin kau bisa.”

Begitulah, setiap purnama, bapak memompakan semangat untuk terus maju.

“Kalau sekolah memang bisa membawa kita pada kemajuan, lalu mengapa mereka tak mau sekolah, pak?”

“Karena mereka tak bisa melihat rembulan.”

Aira tak mengerti maksud perkataan bapak, tapi ia sangat yakin apa yang dikatakan bapak benar. Ia sangat bangga memiliki bapak sepertinya. Karena itu Aira belajar lebih keras meski dengan sarana seadanya. SPP memang sudah tak perlu bayar lagi, tapi kebutuhan sekolah lainnya tetap pelu diperjuangkan. Buku-buku pelajaran tak semua bisa dibeli dengan dana BOS, buku tulis, seragam, sepatu, dan tas sekolah tetap memerlukan biaya yang tak sedikit bagi keluarga Aira. Beruntung Aira anak yang mau menerima keadaan. Seragam kumal, sepatu yang harus ditambal berulang kali, atau buku yang terpaksa harus pinjam temannya dan buku tulis yang harus ia hemat sedemikian rupa tak menyurutkan ia belajar dan bersaing dengan teman-teman lainnya.

Sesekali Aira sangat senang ketika di antara gurunya memberikan tas, seragam, atau peralatan sekolah sekedarnya. Aira memang menjadi kesayangan gurunya. Kondisinya yang kekuranyan tak membuat ia menjadi tertinggal. Kecerdasan otaknya mungkin bukan yang terbaik disekolahnya, tapi Aira anak yang pintar bergaul dan tekun. Paling tidak ranking sepuluh besar selalu ia genggam. Iapun ringan tangan membantu teman-temannya dalam segala hal.

Beberapa temannya ada pula yang tak suka dengannya karena iri. Tapi Aira tetap menghormati mereka meski sering kali diganggu mereka.

***

Suatu hari, sepulang sekolah, bapak mengajak Aira ke sebuah tempat. Universitas. Mereka berdiri di depan universitas tersebut cukup lama. Bapak memandangi bangunan dan mahasiswa yang lalu lalang keluar masuk. Aira tak mengerti mengapa bapak mengajaknya kesana.

“Pak, mengapa bapak mengajakku kesini?”

“Kau lihat bangunan itu Aira?” Aira mengangguk.

“Itu adalah gedung yang akan mencetak orang-orang pintar.”

“Bagaimana Bapak tahu?”

“Itu namanya universitas. Dan kau lihat mereka yang keluar masuk gedung itu? Mereka itu calon-calon orang pintar. Kau mau seperti mereka?”

“Pasti aku sangat ingin. Tapi biayanya pasti mahal, pak.”

Binar mata Bapak tak sedikitpun meredup oleh pertanyaan Aira.

“Kita pasti bisa. Kau pasti bisa.”

“Bagaimana caranya, Pak?”

“Aku tak tahu bagaimana, tapi bapak yakin impian bapak itu akan menjadi nyata. Bapak selalu berdoa untukmu.”

Tiba-tiba percakapan mereka terganggu oleh kedatangan seorang satpam unversitas itu. Mungkin ia curiga melihat seorang pemulung dan anak kecil berseragam sekolah dasar sejak tadi memandangi bangunan universitas.

“Sedang mencari apa pak?”

“Oh tidak ada, pak. Saya sedang membangun mimpi buat anak saya. Suatu saat anak saya akan bisa bersekolah di sini.”

Satpam itu terheran-heran dan tersenyum geli.

Ini orang, mimpinya nggak kira-kira ya.

“Ya, sudah jangan menghalangi mahasiswa yang mau lewat ya.”

“Terima kasih pak, kami sudah selesai. Mari!”

“Ya, mari.”

Mereka lalu beristirahat sejenak di bawah pohon di pinggir jalan sambil minum air bekal dari rumah.

“Aira, kau mau berjanji pada bapak?”

“Ya, Pak.”

“Berjanjilah kau akan bisa seperti mereka.”

“Tapi, Pak…”

“Yakinlah, ini bukan sekedar mimpi. Kau pasti bisa. Selama Bapak masih hidup bapak akan berjuang sekuatnya agar kau bisa meraihnya.”

“Ya, pak.”

“Pun bila Bapak tak lagi bisa mendampingimu, berjanjilah kau akan terus berjuang meraihnya.”

“Pak….”

“Berjanjilah..!”

“Aira janji, Pak.” Kedua anak beranak itu tersenyum. Langit bergetar mendengar harapan tulus mereka, berjanji menyampaikannya pada Penguasa Semesta.

Mereka lalu pulang bergandengan tangan. Bapak adalah tokoh idola Aira. Disaat bapak-bapak yang lain membiarkan anak-anaknya mengamen, mengemis, atau bahkan mencopet dan menjajakan diri, Bapaknya malah menyuruhnya sekolah. Sebentar lagi Aira lulus SD dan ia tak tahu apa bisa melanjutkan sekolah ke SMP.

Malam itu Aira membenamkan di kepalanya sebuah tujuan, sekolah setinggi mungkin untuk meraih rembulan. Apapun, bagaimanapun caranya.

***

Hari itu, Aira terlambat pulang sekolah. Gurunya memintanya membantu mempersiapkan acara yang akan diadakan oleh sekolahnya esok hari. Aira yang sudah kelas 3 SMA telah menjelma menjadi seorang gadis yang cantik, bersih, dengan mata beningnya yang kelihatan penuh optimisme. Hari sudah menjelang malam. Aira berjalan sendiri melewati sepanjang rel kereta. Bapak sudah tidak menjemputnya seperti ketika masih SD dan SMP. Adzan Magrib baru selesai berkumandang. Namun pemandangan sepanjang jalan ke rumahnya membuat berdiri bulu kuduknya. Selama ini Aira tidak pernah diijinkanbapak untuk keluar malam. Selama ini Aira sudah sering mendengar selenthingan tentang aktifitas malam hari perempua-perempuan tetangganya, tapi baru kali ini Aira melihat sendiri.

Aira makin mempercepat langkahnya ketika merasa ada orang yang mengikutinya dari belakang. Mulutnya tak berhenti komat-kamit meminta pertolongan pada Tuhan. Langkah-langkah yang mengikutinya kian mendekat.

“Jangan cepat-cepat, Neng! Mari kita bersenang-senang dulu bersama akang,” kata salah seorang yang mengikutinya. Aira hampir berlari ketika di sebuah belokan yang gelap, sebuah tangan yang kokoh menariknya. Aira nyaris menjerit ketika kemudian ia mengenali orang tersebut.

“Bapak!”

“Kau diam di sini. Biar bapak beri pelajaran dia.”

“Jangan, Pak. Aira takut.”

“Kalau terjadi apa-apa dengan  bapak, jangan pedulikan bapak. Larilah dan berteriak sekencang-kencangnya mencari pertolongan. Satu lagi, berjanjilah kau akan terus sekolah apapun yang terjadi.”

“Pak…” Aira tercekat. Ia sangat khawatir dengan bapaknya.

Bapak lalu menghadapi dua orang pemuda yang sedang mabuk itu.

“Berani sekali kau mengganggu anakku.”

“Ha ha ha. Memangnya kau siapa? Anakmu itu gadis yang cantik. Akan berguna bagimu jika kau jual pada kami… hua ha ha ha…”

Aira bergidik mendengar tawa itu.

“Sudah, jangan banyak omong. Mana perempuan itu?” kata lelaki yang satunya mencoba mencari Aira yang bersembunyi dalam gelap. Bapak mencoba menghalangi, namun sebuah tendangna tiba-tiba menghantam kakinya. Baku hantam pun terjadi beberapa saat. Merasa terdesak, bapak berteriak menyuruh Aira lari minta pertolongan. Aira sangat ketakutan tapi ia juga tak tega meninggalkan bapak dikeroyok preman-preman itu. Sampai sebuah benda mengkilat berkelebat menusuk perut bapak. Darah langsung mengucur dengan deras. Aira yang sejak tadi mengintip dalam gelap, menjerit.

“Lari, Aira!” pelan suara Bapak berusaha memperingatkan Aira. Antara khawatir keselamatan bapak, Aira berlari sekencang-kencangnya sambil berteriak kesetanan.

===

Aira memeluk ibunya erat. Menatap pusara bapak yang mulai sepi ditinggalkan para pelayatnya. Segalanya tak lagi sama. Bapak tak tertolong setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Aira dan ibunya terpaksa pindah rumah demi keselamatan mereka. Meskipun dua orang penyerang bapak telah ditangkap, mereka khawatir suatu saat akan balas dendam. Beruntung, ada seorang polisi yang baik hati, mau memberi mereka bantuan agar bisa mengontrak rumah sederhana. Aira dan ibu memulai hidup baru berdua. Ibunya tetap berjualan kue, sementara ia mencoba memberikan les kepada anak-anak disekitarnya. Dengan segala kesederhanaan, ia bisa melanjutkan kuliah. Dibenaknya hanya ada belajar dan belajar. Prestasinya sangat cemerlang dan berhasil menjadi asisten dosen. Sekarang ia benar-benar menjadi dosen di sebuah universitas ternama. Kehidupannya semakin membaik. Ibunya sudah berhenti berjualan.

Setelah segala yang diraihnya, Aira sangat merindukan bapak dan tiba-tiba ia ingin mengenang bapak dengan mengunjungi tempat tinggal mereka dulu. Semua telah berubah, rumah-rumah kardus dan kayu bekas telah sirna. Lukisan itu masih ada meski telah mulai samar. Beberapa bahkan telah diganti lukisan dan tulisan baru.

Aira menghentikan mobilnya dekat tempat dimana dulu ia biasa mandi. Sekarang tempat itu telah bersih. Semenjak kejadian pembunuhan bapak, tempat itu di bersihkan oleh aparat dari segala aktifitas pemukiman liar. Rumah-rumah kardus habis diobrak-abrik dan dibakar.

Kini Aira berdiri di tempat keramatnya bersama bapaknya dulu. Rembulan telah diraihnya, meski tanpa bapak. Tapi tanpa pengorbanan bapak, semuanya tak mungkin bisa.

***

Akhir Juni 2011

Semoga makin banyak anak-anak jalanan seberuntung Aira.

Advertisements

In memoriam mbak Sholihah

Hatimu entah terbuat dari apa

Dalam kesederhanaanmu, mengasuh delapan anak kakakmu

Saat seharusnya engkau menikmati dunia remajamu

Sampai engkau menuju rumah tangga barumu

Sampai kakak iparmu mendahului ke alam fana

Hatimu entah terbuat dari apa

Delapan keponakanmu tiada beda dari

Seorang anakmu yang dengan susah lahir dari rahimmu

Aku malu kini

Yang merasa tak dekat denganmu

Yang selalu dapat perhatianmu

Menitipkan buah tangan tiap ibunda datang bertandang

Aku menyesal kini

Tak sempat mengenalmu lebih dekat karena jarak yang terentang

Kepergianmu yang begitu tiba-tiba

Laksana petir di tengah hari

Semoga Allah memberimu tempat yang indah di Surga

Doa dan tangis kami

Bukti cintamu pada kami tak bertepi

Bukti kasih kami meski tak sempat terucap.

Selamat jalan saudara, kakak, dan bude kami

Doa kami bersamamu

 

Jakarta, 9 Maret 2010


Surat Untuk Sahabat

Sahabat, boleh saja engkau menginginkan sesuatu yang kau anggap benar dan paling baik untukmu. Tapi, kadang semua tak seperti yang kita harapkan. Yang terbaik menurut kita, belum tentu memang benar yang terbaik bagi kita di mata Allah. Jadi, bersabarlah, mungkin belum saatnya apa yang kau inginkan itu datang untukmu. Tidak sekarang, tapi jika ia datang nanti, akan jauh lebih baik dari yang engkau perkirakan. Buat dirimu dan orang lain.

Ketika emosi yang memenuhi sebagian besar isi kepalamu, semua hal yang bertentangan denganmu pasti menjadi sangat menyebalkan. Aku bisa memahaminya. Tapi ada baiknya berhenti sejenak dari kata dan perbuatan. Agar ucapan yang keluar tak menyakiti siapa-siapa, tak membuat cela pada dirimu. Agar tingkah laku tak meninggalkan malu.

 

Sahabat, di saat seperti ini, aku mengerti engkau sungguh ingin pergi. Mencari ketenangan yang kau kira ada di suatu tempat. Sadarilah, semua itu belumlah pasti. Sesungguhnya, ketenangan bisa kau cari pada dirimu sendiri, pada hatimu. Bertanyalah dengan jujur padanya karena acapkali hati kita tak mau berkata benar jika itu menyudutkan kita. Cobalah. Sekali ini saja. Jujurlah, meski itu pahit artinya, memalukan, atau bahkan menyakitkan diri sendiri mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika kejujuran hati telah kau dapatkan, engkau akan tahu apa yang sesungguhnya harus kau perbuat. Tentu saja dengan lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Mengetahui isi hati kita yang terdalam, yang bahkan kita sendiri tak tahu.

Satu hal, engkau tak sendiri. Selain Allah tempat kita bersandar, disitulah gunanya sahabat yang kita miliki. Yang senantiasa tahu kala kita sedang memendam keluh. Yang tak pernah lelah memberikan support demi kebaikanmu. Tapi juga tak kan segan menegurmu dengan cara yang tak menyakitimu, bila engkau terlihat mulai menyimpang dari kebenaran. Tak pernah meminta engkau membalas sikapnya dengan apapun. Bahkan bilapun engkau tak menganggapnya sahabat.

Jika engkau miliki banyak sahabat seperti itu, Insya Allah kemudahan akan mengiringi langkahmu.

Kadang, meski mereka tak bisa ikut memecahkan masalah, support dari sahabat sudah cukup mendinginkan otak kita, membuat kita bisa berpikir jernih dan rasional.

Jagalah sikapmu terhadap semua orang. Jangan pernah berpandangan, yang penting aku tak pernah berniat jelek terhadap orang lain. Tapi bila niat itu tanpa diikuti dengan usahamu menjaga sikap terhadap orang lain, maka akan banyak orang lain yang tersakiti, terganggu, atau bahkan marah padamu. Jangan pernah berpikiran semua bisa kau lakukan sendiri. Tidak. Sudah di gariskan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang pasti akan membutuhkan orang lain. Karena itu tak ada salahnya peduli dengan orang lain, atau setidaknya berbasa-basi sedikit untuk menciptakan keakraban.

Namun, engkau tetap perlu berhati-hati pula terhadap sahabat palsu yang selalu bersikap manis di hadapanmu dan bersikap sebaliknya dibelakangmu.

 

Sahabat, adalah sebuah kebahagiaan bagiku bila engkau tersenyum. Bahagiamu adalah bahagiaku dan dukamu adalah dukaku juga. Karena itu sahabat, janganlah bersedih. Jika engkau sedang sedih dan gundah, berbuat baiklah terhadap sesama, niscaya engkau akan mendapat ketentraman dan kedamaian hati. Tebarlah senyum dengan wajah berseri sebagai sedekahmu karena wajah muram bak tanda permusuhan. Ingatlah pula, bersama kesulitan akan selalu ada kemudahan.

Bersikaplah lemah lembut, karena sesungguhnya kelembutan tutur kata, senyuman tulus di bibir, dan sapaan-sapaan yang terpuji saat bersua merupakan hiasan yang selalu dikenakan oleh orang-orang mulia.

 

Maafkan aku sahabat, bila apa yang kutulis ini membuatmu merasa tak enak hati. Maafkan juga bila hanya doa yang bisa kulantunkan dalam diamku.

Apapun yang terjadi, dimanapun engkau berada, kini dan nanti, semoga Allah senantiasa melindungimu. Dan aku akan terus mendukungmu sebagai sahabat.

 

 

Salam,

Sahabatmu

Melepas Sunyi

Lelaki itu tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Semakin dekat dengan kota kelahirannnya, semakin ia gelisah. Wajah perempuan itu makin jelas tergambar di matanya. Perempuan yang tak seharusnya dicintainya, perempuan yang bukan miliknya.

Gegap gempita jalanan tak mengurangi kerinduannya. Celotehan buah hatinya yang tengah merajuk tak mampu mengusir keresahannya. Baginya dunia terasa amat sunyi dalam keterasingan. Matanya tak bisa menjangkau bayangan selain perempuan itu.

’Seharusnya aku melupakannya. Aku pulang hendak meraih tenang. Kenapa jadi begini?’

Istrinya menangkap kegelisahannya.

”Kenapa sih, Yah? Ada yang ketinggalan?”

”Ah enggak. Nggak tahu nih. Tiba-tiba merasa nggak enak. Mungkin saking rindunya sama bapak. Sudah lama juga kita tidak menengok beliau,” ujarnya berkelit. Khawatir istrinya kembali mencurigai dirinya. Beberapa waktu lalu, mereka sempat bertengkar hebat akibat perasaan yang dipendamnya terhadap perempuan itu. Rasa yang terpendam dan begitu dalam ternyata keluar dalam bentuk igauan dalam tidur malamnya. Istrinya sangat terkejut dan menginterogasinya saat itu juga. Sebisa mungkin ia menyangkal. Berbekal nama dalam igauannya, rupanya sang istri jadi mengawasi segala gerak-geriknya, mencoba mencari jawab atas tercuatnya sebuah nama dalam mimpi.

”Yah, dia memang lebih cantik dariku,” kata istrinya tiba-tiba saat mereka hendak tidur suatu malam. ”Ramah dan menyenangkan.”

”Apa maksudmu?” ia mulai khawatir.

”Perempuan yang namanya kau sebut dalam tidurmu,” kata istrinya berusaha menormalkan nada suaranya, menekan cemburu yang luar biasa. ”Aku mencoba mengingat-ingat teman kamu yang bernama Alika itu. Aku jadi teringat, waktu acara halal bihalal tahun lalu yang diadakan kantormu, aku sempat merasa aneh denganmu yang sering memelototi seseorang dan berusaha mengalihkan perhatian saat aku tanya kenapa? Waktu itu aku sama sekali tidak curiga. Dan kini aku yakin, seseorang yang lebih menarik perhatianmu saat itu dari pada memperhatikan keluargamu adalah perempuan itu.”

”Bicara apa kau ini,” lekas ia memotong kata-kata istrinya.

”Sudahlah, mas. Akui saja.”

”Aku tidak harus mengakui apa yang tidak aku lakukan,” ia mulai meradang.

”Ingat, mas. Ia juga telah bersuami bukan? Janganlah kalian berbuat sesuatu yang dilaknat oleh Allah.”

”Mira. Apa yang kau tuduhkan ini sudah keterlaluan. Tidak terjadi apa-apa antara aku dengan siapapun. Apalagi Alika.” Batinnya berdesir menyebut nama perempuan yang dicintainya diam-diam itu. ” Alika perempuan baik-baik dan tak mungkin berbuat yang tidak terpuji denganku atau siapapun.” Ups, ia sudah mulai membela perempuan itu. Istrinya mulai terpancing emosinya mendengar pembelaannya.

”Jadi engkau juga sudah mulai membela perempuan itu? Apa yang kurang dariku, mas? Jika kecantikan yang kau jadikan ukuran, aku memang tidak sebanding dengannya….”

”Cukup, Mira! Aku tak mau berdebat denganmu. Sekali lagi, aku tegaskan. Tidak terjalin hubungan apa-apa selain hubungan kerja antara aku dan dia.” Tapi aku mencintainya, batinnya lirih. ” aku mau tidur, besok banyak kerjaan kantor yang mesti kuselesaikan.”

”Lalu bagaimana kau menjelaskan nama itu muncul di mimpimu?” istrinya tak puas dengan penjelasannya.

”Lalu apa maumu? Apa kau mau aku mengaku telah berselingkuh dengan Alika? Apa perlu kupertemukan kau dengan Alika? Kalau perlu sekarang juga bisa kusambungkan kau padanya. Tanyakan sendiri, ada apa antara aku dan dia.” Ia menantang istrinya.

Mira terdiam.

”Sungguhkah tak ada apa-apa diantara kalian? Lalu mengapa bisa keluar nama itu dalam tidurmu?”

”Itu kebetulan saja, Mira. Mungkin karena kami sedang terlibat pekerjaan bersama-sama, sering beradu pendapat secara intens, sehingga terbawa dalam mimpi.” Ah, sesungguhnya memang tidak hanya itu, melainkan memang terlalu dalamnya rasa yang dia tanggungkan terhadap perempuan itu. ”Masih tidak percaya?” katanya lagi ketika melihat istrinya masih terdiam.

”Baiklah, kali ini aku percaya.”

Dipeluknya istrinya. ”Mari kita tidur, sudah larut.”

Istrinya tersenyum.

’Ah seandainya saja perempuan dalam pelukanku ini adalah Alika. Astaghfilullah. Kenapa pikiranku lari ke situ lagi?’

***

”Kok bengong lagi, Yah?”

Ia tersadar dari lamunannya. ”Iya nih kok agak pening ya.”

”Mungkin ayah terlalu capek. Tidur saja, Yah. Lagian masih beberapa jam lagi sampai di rumah. Siapa tahu bisa membuat Ayah lebih tenang,” kata istrinya sambil mengusap lembut punggungnya.

Istrinya begitu lembut, setia, dan penuh perhatian. ‘Kenapa aku mesti memikirkan perempuan lain?’

Masih terbayang dalam ingatannya tatkala ia sakit keras dan harus terbaring di ranjang selama berbulan-bulan. Istrinya dengan setia menungguinya. Menyuapinya makan dan minum obat. Membuatkan segala macam obat-obatan tradisional, karena sangat ingin melihat suaminya sembuh. Ia sangat berterima kasih akan pengorbanannya itu. Tapi semua itu tak mampu mengusir perasaan cinta yang entah kapan mulai bersemi terhadap rekan kerjanya. ’Jangan-jangan aku kena guna-guna?’

’Ah, tidak.’ Buru-buru ditepisnya pikiran buruk itu. ’Tak mungkin. Ia seorang perempuan yang baik agamanya. Lagipula ia telah bersuami dan memiliki anak. Nampaknya kehidupan rumah tangganya juga bahagia. Kenapa mesti mengguna-gunai aku? Apa pula hebatnya seorang aku?’

’Lalu apa?’ Matanya yang bening senantiasa mengundang untuk diselami. Senyumnya cukup membuatnya bergetar hingga tak bisa berucap. Apalagi tawanya yang selalu membuat hatinya gempar.

Dicobanya memejamkan mata dan mengusir bayangan perempuan itu. Namun, bukan ketenangan yang ia dapat malah wajah manis itu semakin jelas tergambar dalam pikirannya.

Akhirnya, bus yang ditumpanginya pun berhenti di terminal. Perjalanan selanjutnya dengan angkutan pedesaan sebenarnya tak terlalu lama, hanya kurang lebih lima belas menit, tapi serasa seharian. Kursinya terasa panas, membuatnya tak nyaman duduk.

”Sudahlah, Yah. Sudah mau sampai ini. Bapak pasti gembira melihat kedatangan kita,” kata istrinya.

Dan benar, turun dari angkutan pedesaan, bapak sudah berdiri di depan gapura rumahnya. Matanya langsung bersinar melihat kehadiran anak, menantu, dan cucunya. Si kecil langsung menghambur ke pelukan kakeknya.

Lelaki itu dengan khusyuk mencium tangan bapaknya, seorang lelaki tua dengan rambut separo memutih. Raut wajahnya memancarkan kearifan. Kerut merut wajahnya mulai jelas di sana-sini, menandakan usianya yang mulai senja. Bapak menatapnya penuh selidik, nuraninya mengatakan anaknya sedang memendam masalah. Namun, dibiarkannya anak lelaki sulungnya itu masuk ke rumah agar bisa beristirahat.

***

Larut malam, saat anak dan istrinya lelap dalam mimpi, ia punya kesempatan berdua dengan bapaknya. Ibunya telah lama berpulang ke haribaan-Nya sejak ia masih kelas 1 SMP,  karena kanker rahim yang dideritanya bertahun-tahun. Semenjak itu, bapaknya tetap menjaga kesetiaannya pada sang ibu sambil membesarkan kedua anaknya yang kala itu masih sangat membutuhkan figur ibu, terutama adik perempuannya yang baru kelas 3 sekolah dasar.

Sambil menatap langit malam yang penuh gemintang, lelaki itu bersama bapaknya duduk di amben bambu yang senantiasa setia di teras rumah bapaknya. Wedang jahe dan jadah goreng kesukaannya menemani mereka. Gemerisik dedaunan terdengar merdu menimpali orkestra jangkrik dan serangga malam lainnya.

Ono opo le?,” pelan suara lelaki tua itu ketika sang anak tak kunjung menyampaikan uneg-unegnya.

Ia menghela nafas dalam-dalam.

”Pak, apakah sampai sekarang Bapak cuma mencintai ibu?”

Lelaki tua itu tersenyum, seperti bisa meraba permasalahan apa yang ada dalam pikiran anaknya.

“Ibumu itu wanita yang luhur meskipun juga tak sempurna. Ia telah berjuang melahirkan kamu dan adikmu demi Bapak. Selalu mendampingi Bapak kala susah dan senang. Memang kadang kami juga bertengkar, tapi itu yang menjadi bumbu pernikahan kami menjadi tak hambar. Kami telah berjanji cinta yang kami rajut dengan berbagai ikatan dan peristiwa akan tetap berlanjut hingga alam kelanggengan. Dia selalu menjadi bidadari dalam hidup Bapak, dan akan selalu menjadi bidadari dalam kehidupan setelah kematian Bapak nanti.”

“Apakah jika suatu saat Bapak menemukan bidadari lain, berarti Bapak tak setia sama ibu?”

Lelaki tua itu menghela napas.

”Coba kau tanya pada dirimu sendiri, apa tujuan manusia hidup di dunia ini? Memang tidak salah bila Bapak menikah lagi. Tapi hidup ini bukan cuma nafsu ragawi. Ada yang lebih penting dari semua itu, kehidupan yang abadi. Kudu punya sangu le. Bapak menikah dengan ibumu karena Allah. Kalau semua karena Allah, semua nafsu bisa dikendalikan. Kalau tidak, berarti ada yang salah dengan niatnya. Lagi pula, Bapak takut bila salah memilihkan Ibu buat kalian.”

’Tapi rasa itu datang dengan sendirinya tanpa kuminta. Aku juga tak mau menyakiti istriku yang setia, tapi perasaan itu menyiksaku.’ Batin lelaki itu memberontak.

”Tak semua keinginan kita dapat terpenuhi. Kalau kamu ingin menggapai bintang di langit itu, apakah bisa?” tanya bapak sambil menunjuk sebuah bintang yang terang di langit Utara, seolah tahu apa yang ada di hatinya.

”Apa kamu harus mati ngenes karena keinginanmu itu tak bisa terpenuhi? Coba kau lihat kuda penarik dokar. Supaya ia tak melihat kesana kemari sehingga membuat jalannya berbelok-belok, dia musti pake tali kekang dan kacamata kuda. Agamalah tali kekang yang menuntun kita agar tak nyasar. Norma masyarakat menjadi kaca matanya untuk mencegah hasrat yang tak terkendali.”

Lelaki itu terdiam meresapi kata-kata bapaknya.

Setelah beberapa lama dalam keheningan, bapak menepuk pundak anak lelaki kebanggaannya itu.

”Sholatlah. Dan perbanyak dzikirmu. Jangan lupa untuk selalu menahan diri dari segala yang akan mempersulit keadaan. Insya Allah apa yang menjadi masalahmu akan selesai dengan sendirinya.”

Bapaknya tersenyum arif. ”Sekarang istirahatlah, kau pasti lelah habis perjalanan jauh.”

Lelaki itu bergeming. ”Tidurlah!” kata bapaknya melihat anaknya masih ragu.

Lelaki itu kemudian bangkit meninggalkan bapaknya yang sepertinya masih ingin menikmati malam. Ia akan mencoba menjalankan nasihat bapaknya. Bapak selalu tahu apa yang menjadi masalahnya tanpa ia harus menceritakannya. Bapak adalah panutannya, pahlawannya. Tanpa beliau ia bukanlah apa-apa.

Direbahkannya tubuh yang tiba-tiba terasa sangat lelah disamping anak dan istrinya yang tengah terbuai oleh mimpi. Diamatinya wajah mereka sejenak, damai tak ada beban. Ia mendesah perlahan. Tubuh lelahnya ternyata tak membuatnya segera terlelap. Matanya menerawang langit-langit kamar.

’Mengapa aku tak seperti bapak yang mampu menjaga kesetiaannya bahkan setelah ibu tiada?’ batinnya menggugat. Tak mengerti dengan jalan pikirannya yang biasa logis dan tak mau membuang-buang waktu dengan hal-hal sepele dan dianggapnya tak perlu. Baginya, hidup adalah bekerja dengan sebaik-baiknya, professional dan jika perlu mengorbankan waktu pribadinya. Komitmennya pada pekerjaan tak perlu diragukan. Jujur dan memang mumpuni. Tak heran bossnya sangat bergantung pada hasil kerjanya. Tentu saja karirnya segera melesat, mendahului senior-seniornya. Gosip pun beredar atas nama kecemburuan sosial. Dan ia tak pernah peduli dengan hal semacam itu. Kesan angkuh, serius dan tidak bisa di ajak bercanda dari bawahan dan koleganya tak membuat ia terganggu.

Kehadiran perempuan itu di ruang kantornya empat tahun yang lalu justru yang merubah segalanya. Entah kenapa perempuan itu seperti membawa magnet bagi dirinya. Lagak cuek dan jaga jarak yang dilakukannya tak mampu menepis pesonanya. Padahal ia juga tak semenarik perempuan-perempuan yang kerap berurusan dengannya yang rata-rata cantik dan cerdas. Semakin ia mencoba untuk tak mengakui perasaan aneh yang begitu saja menyelinap di hatinya, semakin ia tak bisa mengendalikan diri untuk senantiasa ingin berdekatan dan sesekali menggodanya dengan keusilan ringan, suatu hal yang tak pernah dilakukannya terhadap siapapun sebelumnya. Dan ia merasa si perempuan itupun menyukai ’kedekatan’ itu.

Hidupnya bertambah kacau akibat tekanan pekerjaan yang makin lama tak sejalan dengan nuraninya. Ia makin sering meninggalkan keluarga sehingga membuatnya tak bisa menjaga pikirannya untuk tetap konsisten. Perasaan bersalah terhadap anak dan istrinya turut menambah kemelut di hatinya.

’Apakah aku memang harus membuang keniscayaan ini?’ batinnya perih. ’Apakah aku bisa, sementara setiap hari aku harus selalu bertemu dengannya?’

Tiba-tiba ia bangkit menuju kamar mandi, membasuh mukanya dengan air wudhu. Malam yang hening pada sepertiga malam seolah menuntunnya menuju tirai yang menutupinya selama ini, mencoba membuka tabir gelisahnya. Didirikannya sholat qiyyamul lail di musholla kecil bapaknya. Dalam sujud panjangnya ia menyerahkan segala urusannya pada Sang Maha Berkehendak. Selama ini, ia sering melakukan sholat malam dan berdoa agar bisa keluar dari kegalauan hatinya, tapi malam ini terasa berbeda. Ia merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Mungkin karena di rumah bapak jauh dari keriuhan duniawi dan dekat dengan pahlawan hidupnya yang telah memberinya kuliah berharga yang hanya bisa ditemuinya di rumah sederhana ini. Bapak selalu menasehati tanpa menghakimi. Lalu ia berdzikir dengan khusyuknya sampai tiba-tiba matanya terasa berat dan tertidur di hamparan sajadahnya.

***

Esok harinya, sentuhan lembut istrinya membangunkannya.

”Ayah, sholat Shubuh dulu. Adzan shubuh sudah lewat dari tadi”

Matanya  terbuka perlahan. ”Kenapa tak kau bangunkan aku saat Adzan?”

”Aku bermaksud demikian, tapi Bapak bilang sepertinya Ayah baru tidur belum lama.”

Setelah sholat Shubuh, hatinya seperti memperoleh semangat baru.

”Bapak mana, Dik?” Istrinya agak terkejut dengan kata dik itu, panggilan yang entah berapa lama tak didengarnya lagi. Diam-diam hatinya berbunga.

”Bapak sudah menunggu Ayah di teras rumah sambil minum teh.”

”Dio?”

”Masih tidur.”

Ia segera menuju teras dan duduk dekat bapaknya. Sang bapak tersenyum melihat tak ada lagi raut kusam di wajah anak lelakinya.

”Pak, Pras mohon doa restunya. Pras akan mencari pekerjaan yang baru.” Bapaknya tersenyum tanpa kesan terkejut dengan keputusan anaknya yang tiba-tiba. Ia yakin, dengan kemampuan yang dimiliki anaknya, pekerjaan bukanlah persoalan sulit.

”Apa sudah kau pikirkan masak-masak segala akibatnya?”

”Sudah, Pak. Rasanya hanya ini yang bisa menjawab segala yang mengganggu pikiran ini. Insya Allah Pras akan dapat pekerjaan yang lebih baik dan menentramkan.”

’Ya, hanya dengan tidak bertemu dengannya sama sekali aku mungkin akan bisa melupakannya. Aku pun bisa mencari pekerjaan yang tak menjadikanku robot duniawi. Pekerjaan yang memungkinkan aku untuk menyisihkan waktu buat keluargaku.’

Sekali lagi lelaki tua itu tersenyum bijak.

’Alhamdulillah, Allah masih melindungi anak lelakiku.’

***

Jakarta, 7 Januari 2010

Cermin

Aku terkejut saat kau sodorkan cermin dimukaku

Hampir tak kukenal mata lebam yang kutemukan disitu

Senyum ceria yang tampak aneh sebab keterpaksaan

Tak kupahami pula bibir yang senantiasa menahan perih

Atau juga kata-kata surga pada bibir yang pecah

 

Apakah gerangan diriku?

Ribuan kejadian menghilangkan jati diri

Aku memang menjadi diri

Meraih segala yang ingin diraih manusia

Tapi jiwaku hampa

Tak kutemukan sejuknya telaga mengalir di otak kananku

Tak ada denting merdu menina bobokan mataku

Tak ada

 

Hanya serpihan tersisa

Atau kelopak kasar yang enggan terbuka

Serta nyanyian sunyi yang seakan menunggu waktu untuk di dengar

 

Untuk apa kubiarkan menjadi tua pada tubuh yang muda

Untuk apa mesti menangis bila aku sanggup tertawa

Tinggal menunggu keberanian menghancurkan cermin bisu

Jakarta, 25 november 2009

Puisiku

Aku tidur berpeluk puisi

Kata-kata mengerumuniku bagai tak bercelah

Membelit mimpi dan saraf belikat

Puisiku adalah letupan yang harus tertumpah agar tak menjadi genangan yang menyisakan guratan

Kata-kata adalah mata untukku terus melihat

Bait demi bait adalah langkah untukku terus berjalan

Puisiku menjadikanku tetap ada

Menyuarakan harapan dikedalaman jiwa

Meruah dari cupu kesunyian tak terbantahkan

Batas malam menelanjangi pikiran yang sesak ingin menendang

Membiaskan terang disetiap kelam

Puisiku tak pernah selesai menjulurkan dentuman rasa

Aku bagai budak baru merdeka

Meraup rakus kebebasan bersuara

Meski dalam sunyi, kata-kata membuatku tak mati

Sampai aku puas merangkai kata yang terus menjejali benakku

Aku kan lelap sungguh dan bermimpi, tentang puisi

Jakarta, 26 November 2009

Keluh

Jengah, gundah, gulana…..

Sungguh ingin berhenti sejenak, meletakkan beban pada keping perjalanan

Pun sesungguhnya malu pada bentangan hati yang terus mengeluh, seakan

Aroma kepahitan hanya milikku

Padahal samudera luas di luar sana mengombang-ambingkan berjuta, bermilyar, atau bahkan tak terhitung jiwa-jiwa yang malang

Noktah-noktah ketakadilan, kesepian dan juga kesempitan

Tak ada keluh karena memang tak bisa mengeluh

Senantiasa tersenyum, meski hatinya menangis darah

Sungguh perihku hanya sebutir debu di padang pasir kesedihan manusia

Semestinya mampu kugenggam dalam sabar yang terus ditumbuhkan.

Jakarta, 10 Maret 2011