Lima Sahabat

Bryan berlari mendahului teman-temannya yang tengah berjalan santai menuju tempat parkir sepeda di samping sekolah. Ibin, Fatih, Zaky dan Bahi saling pandang melihatnya.

“Hei, mau kemana lu, Bry?” teriak Fatih.

“Sorry, bro. Gue ada perlu,” Bryan melambaikan tangannya dan langsung tancap gas sepedanya. Mereka berlima adalah sahabat karib sejak SD. Sering bersepeda bersama saat hari libur, main bareng atau sekedar mengerjakan tugas bareng, dan yang rutin mereka lakukan adalah pergi dan pulang sekolah naik sepeda bersama-sama bahkan hingga sekarang mereka duduk di kelas IX. Makanya mereka merasa heran melihat Bryan tidak seperti biasanya.

“Ada apa sih, Bryan?” tanya Zaky sambil memandang ketiga karibnya bergantian.

“Nggak tau. Tapi tadi aku lihat si Dino ngedeketin Bryan trus ngobrol serius beberapa lama,” jawab Fatih.

“Dino yang cantik itu?” sahut Ibin.

“Hush! Nggak boleh ngomong gitu. Dosa tau!” tukas Fatih. Ketiga temannya tertawa.

“Gimana nggak cantik. Masak cowok pake bedak, pake apa tuh yang buat bibir basah…?” kata Ibin.

“Lip gloss,” sambung Bahi.

“Iya itu lip gloss kayak yang dipake mama aku. Kan jadi geli aku lihatnya,” kata Ibin.

“Mau apa mereka bicara serius? Nggak nglibatin kita lagi. Jangan-jangan Dino suka sama Bryan,” kata Ibin.

“Maksudmu?” tanya Bahi.

“Iya. Kan cowok model Dino itu biasanya sukanya sama cowok juga.” Kata Ibin.

“Bin, nggak boleh suudzon gitu ah. Belum tentu benar lho. Ntar malah jadi fitnah lagi.” Kata Fatih.

“Jangan deket-deket ih, dengan cowok kayak gitu. Penyakit. Bisa nular juga tau! Amit-amit dah!” kata Zaky.

“Iya sih, memang. Mamaku juga suka cerita kalau jaman sekarang tuh sudah makin banyak yang nggak bener. Perempuan maunya jadi laki, yang laki maunya jadi perempuan. Itu melanggar kodrat. Kayak ceritanya kaum Sodom yang dimusnahkan sama Allah karena banyak yang kayak gitu. Tapi kan si Dino belum tentu begitu. Jadi harus kita pastikan dulu. Malah kalau bisa ya kita ajak kembali ke jalan yang benar. Kasian juga kan. Mumpung belum parah kayak yang suka ngamen di jalanan itu,” kata Fatih panjang lebar.

“Iye, pak Ustadz…!” sahut Ibin sambil membungkukkan badannya. Fatih memukul bahu Ibin sambil tertawa.

“Makanya kalau pake baju juga harus tutup aurat biarpun sama-sama laki. Gue nih kalau di rumah, celana juga nggak boleh kelihatan lututnya. Langsung aja diomelin emak gue,” kata Bahi.

“Eh, udah jam berapa nih? Kok kita jadi ngobrol panjang lebar nggak pulang-pulang, sih?” tanya Fatih.

“Iya, ya. Ayuk, pulang. Besok kita interogasi si Bryan,” kata Ibin.

Ke empat sohib itupun segera mengambil sepeda mereka dan mengayuhnya berderetan menuju pulang sambil bercanda ala mereka.

***

“Assalamu”alaikum!” salam Fatih sambil mencium tangan Farah, mamanya yang tengah merapikan barang-barang di teras rumah.

“Wa’alaikumussalam. Kok telat, Fatih?” tanya Farah.

“Iya, Ma. Tadi keasyikan ngobrol sama teman-teman. Maaf.”

“Ya sudah, sana. Buruan ganti baju trus bantuin mama, ya.”

“Memangnya mau diapain barang-barang ini, Ma?”

“Mama lagi beresin kamar belakang. Firda dan Faza kan sudah mulai besar. Mama mau melatih mereka tidur terpisah biar nanti ketika sudah lebih besar sudah terbiasa tidur sendiri.” Firda dan Faza adalah adik kembar Fatih yang berumur 5 tahun. Selama ini mereka memang masih tidur sekamar meskipun tempat tidurnya terpisah.

Fatih jadi teringat pembicaraan dengan teman-temannya tadi. Ia jadi bersyukur punya mama Farah yang selalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sejak kecil ia diajarkan mengenali diri, perbedaan gender, dan bagaimana bersikap sebagai seorang laki-laki. Ia juga dibiasakan untuk selalu berterus terang terhadap segala tanya dan kejadian apapun yang ia belum mengerti. Mamanya melarang ia untuk punya hp sampai dia lulus SMP. Televisi juga disortir tayangannya. Kata mama banyak tayangan nggak bagus mulai soal pacaran, berantem sampai laki-laki yang berlagak perempuan. Itu semua bisa mempengaruhi jiwa anak-anak. Awalnya ia juga sebel sama mamanya, tapi mama selalu menjelaskan alasan kenapa segala larangan itu diterapkan dan lama-lama ia bisa mengerti. Apalagi soal internet. Warnet itu haram bagi keluarga Fatih. Papa mama lebih suka Fatih menggunakan wifi di rumah bersama teman-temannya dari pada ke warnet. Khawatir akan buka situs-situs porno yang sekarang banyak sekali bertebaran.

Fatih juga masih ingat ketika ia mulai suka sama seorang gadis teman sekolahnya. Ia cerita sama mama dan mamanya sangat memahami perasaannya itu.

“Itu rasa yang normal, Fatih. Tidak apa-apa. Tetapi kamu perlu ingat, bahwa Allah melarang kita berkhalwat. Artinya berdua-duaan dengan yang bukan muhrimnya. Makanya pacaran itu di larang. Nanti kalau sudah menikah baru boleh pacaran. Kayak papa mama gini.” Farah tersenyum.

“Kamu tahu bahayanya pacaran?” Fatih menggeleng ragu.

“Mula-mula cuma ngobrol. Lalu yang namanya cowok dan cewek itu ada magnetnya. Kalo deketan trus ada rasa ser-ser gimanaaa gitu.” Fatih tersipu. “Habis itu jadi pengen megang. Awalnya takut-takut. Trus ternyata terasa nyaman. Habis megang trus meluk. Habis meluk trus cium. Dan kalau sudah berani cium, tidak ada yang bisa menjamin kalau tidak akan berlanjut ke tindakan yang lebih dalam lagi.” Fatih menunduk meresapi kata-kata Farah.

“Lalu bagaimana Fatih menghilangkan perasaan itu, Ma?”

Farah tersenyum, mengelus rambut anak lelaki sulungnya itu.

“Jangan dituruti. Alihkan energy dan pikiranmu buat yang lain. Olah raga, main bareng temen, bikin kreasi, atau kegiatan lain yang kamu suka. Dan yang penting, jangan berdua-duaan dan jaga pandangan.” Fatih tersenyum mengerti. Hatinya terasa lega. Terkadang ia cuma butuh pengertian dan penjelasan dan semuanya menjadi terasa mudah.

“Kok jadi bengong, Fatih?” Fatih terkejut mendengar pertanyaan Farah yang membuyarkan lamunannya.

“Fatih lagi mikir, Fatih beruntung banget punya mama seperti mama. I love you, Ma,” katanya sambil mencium pipi Farah dan segera menuju ke kamarnya untuk ganti baju. Farah geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.

***

Hari Minggu pagi. Di bawah pohon trembesi dekat danau, Fatih, Zaky, Bahi dan Ibin sudah berkumpul, siap dengan sepeda mereka hendak bertualang seperti biasanya. Mereka terlihat murung dan gelisah.

“Bryan nggak datang lagi?” tanya Fatih.

“Nggak tahu. Nggak ada kabar. Aku sudah titip pesan pada ibunya kalau kita tunggu dia di sini hari ini,” jawab Bahi.

“Sudah sebulan ini Bryan menghindari kita,” sambung Zaky.

Tiba-tiba, tampak seorang remaja menggenjot sepedanya tergesa menuju ke arah mereka. Seketika mereka bersemangat melihat siapa yang datang, Bryan.”

Setelah menyandarkan sepedanya di pohon trembesi, Bryan menghampiri keempat sahabatnya, melakukan tos dan duduk dekat mereka.

“Maaf aku terlambat,” kata Bryan.

“Kemana saja kau, bro? Kami piker kau sudah punya teman baru, Doni, ” kata Ibin sedikit ketus.

“ Maafkan aku, teman. Aku memang sedang ada urusan dengan Doni, tapi mungkin tidak seperti yang kalian pikirkan.”

“Kalau kau tak keberatan, ceritakanlah pada kami. Biar kami nggak menduga-duga. Kan kita sahabat,” kata Fatih.

“Siap. Aku memang sudah berencana untuk cerita sama kalian,” kata Bryan. “Ada yang belum kalian ketahui tentang aku. Aku punya kakak sepupu dekat yang biasanya suka main sama aku waktu aku kecil. Aku sayang sama dia. Tapi pas dia sudah kuliah, dia ketularan temen-temennya yang hombreng dan menjadi seperti mereka. Padahal waktu masih suka main sama aku, ia normal saja seperti kita. Budheku, ibu kakak sepupuku sampai stress mengetahui anaknya seperti itu. Beliau jatuh sakit hingga meninggal.  Kakak sepupuku itu merasa bersalah dan menarik diri dari dunia luar. Ia mengurung dirinya di kamar, nggak mau keluar. Lebih dari setahun ia berada dalam pengawasan psikiater. Alhamdulillah dia bisa sembuh dari tekanan batinnya, bahkan sembuh juga dari penyakit hombrengnya itu. Sekarang ia tengah mendalami ilmu agama di pesantren di Bogor. Ia sering menasehatiku untuk berhati-hati dalam bergaul. Ia cerita, awal mula ia terjerumus dalam dunia hitam itu, karena kepolosan dia yang dimanfaatkan teman-temannya. Ia pernah diperlakukan tidak senonoh oleh teman-temannya saat mengkiuti kegiatan kampus. Mulanya ia merasa berontak, tapi lama-lama ia menikmati dan akhirnya ketagihan. Aku sangat sedih mendengar cerita itu. Makanya waktu aku dengar kasak kusuk soal Doni, aku jadi prihatin. Aku nggak mau dia mengalami kayak kakakku itu. Lalu aku kirimi dia surat buat ketemuan trus aku ajak ke pesantren tempat kakakku itu tinggal. Awalnya dia menolak, tapi aku terus meyakinkannya. Kebetulan kakakku sekarang juga aktif dalam upaya penyadaran remaja-remaja yang salah jalan seperti dia dulu. Alhamdulillah, Doni merespon baik. Ia juga baru pada tahap awal menuju penyakit itu sehingga lebih mudah di luruskan lagi. Katanya, sejak kecil ia biasa mengikuti segala tingkah ibu dan kakak perempuannya dan nggak dilarang jadi ia jadi seperti ini.” Kata-kata Bryan membuat keempat sahabatnya terdiam. Haru. Tidak menyangka akan kisah keluarga Bryan dan usahanya untuk menyelamatkan Doni. Fatih menepuk-nepuk pundak Bryan.

“Aku bangga bersahabat denganmu, Bry. Hatimu mulia,” kata Fatih.

“Kita nggak boleh meninggalkan mereka yang punya penyakit kayak gitu. Sudah seharusnya kita bantu mereka untuk kembali,” lanjut Bryan.

“Lain kali, bilang pada kami ya, Bry. Kami kan juga bisa membantu,” kata Zaky.

“Iya,” sahut ketiga teman lainnya.

“Maaf. Tadinya aku khawatir kalian akan merasa jijik dengan hal-hal kayak gini,” kata Bryan.

“Ya sudahlah. Matahari sudah mulai tinggi. Ayuk kita segera berangkat. Bagaimana kalau kita berganti arah tujuan. Kita ke pesantren kakak sepupunya Bryan aja. Aku pengen kenal dengannya. Siapa tahu suatu saat nanti kita bisa ikuta menyelamatkan generasi kita dari penyakit berbahaya ini,” usul Fatih.

“Wah, ide bagus tuh,” sambung Bahi.

“Boleh. Pesantrennya juga nggak terlalu jauh kok dari sini,” kata Bryan . wajahnya terlihat kembali ceria.

“Hayuklah kalau gitu kita berangkat,” ajak Ibin.

Kelima sahabat itu pun mengayuh sepedanya menuju pesantren, diiringi semilir angin dari arah danau dan sinar hangat matahari pagi yang mengelus kulit mereka, menebarkan semangat baru pada jiwa muda yang penuh gairah kebaikan.

***

Jakarta, 17 Maret 2017

#ODOP5

#UltimateChallenge

#Maret

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s