Surat Untuk Sahabat

Sahabat, boleh saja engkau menginginkan sesuatu yang kau anggap benar dan paling baik untukmu. Tapi, kadang semua tak seperti yang kita harapkan. Yang terbaik menurut kita, belum tentu memang benar yang terbaik bagi kita di mata Allah. Jadi, bersabarlah, mungkin belum saatnya apa yang kau inginkan itu datang untukmu. Tidak sekarang, tapi jika ia datang nanti, akan jauh lebih baik dari yang engkau perkirakan. Buat dirimu dan orang lain.

Ketika emosi yang memenuhi sebagian besar isi kepalamu, semua hal yang bertentangan denganmu pasti menjadi sangat menyebalkan. Aku bisa memahaminya. Tapi ada baiknya berhenti sejenak dari kata dan perbuatan. Agar ucapan yang keluar tak menyakiti siapa-siapa, tak membuat cela pada dirimu. Agar tingkah laku tak meninggalkan malu.

 

Sahabat, di saat seperti ini, aku mengerti engkau sungguh ingin pergi. Mencari ketenangan yang kau kira ada di suatu tempat. Sadarilah, semua itu belumlah pasti. Sesungguhnya, ketenangan bisa kau cari pada dirimu sendiri, pada hatimu. Bertanyalah dengan jujur padanya karena acapkali hati kita tak mau berkata benar jika itu menyudutkan kita. Cobalah. Sekali ini saja. Jujurlah, meski itu pahit artinya, memalukan, atau bahkan menyakitkan diri sendiri mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika kejujuran hati telah kau dapatkan, engkau akan tahu apa yang sesungguhnya harus kau perbuat. Tentu saja dengan lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Mengetahui isi hati kita yang terdalam, yang bahkan kita sendiri tak tahu.

Satu hal, engkau tak sendiri. Selain Allah tempat kita bersandar, disitulah gunanya sahabat yang kita miliki. Yang senantiasa tahu kala kita sedang memendam keluh. Yang tak pernah lelah memberikan support demi kebaikanmu. Tapi juga tak kan segan menegurmu dengan cara yang tak menyakitimu, bila engkau terlihat mulai menyimpang dari kebenaran. Tak pernah meminta engkau membalas sikapnya dengan apapun. Bahkan bilapun engkau tak menganggapnya sahabat.

Jika engkau miliki banyak sahabat seperti itu, Insya Allah kemudahan akan mengiringi langkahmu.

Kadang, meski mereka tak bisa ikut memecahkan masalah, support dari sahabat sudah cukup mendinginkan otak kita, membuat kita bisa berpikir jernih dan rasional.

Jagalah sikapmu terhadap semua orang. Jangan pernah berpandangan, yang penting aku tak pernah berniat jelek terhadap orang lain. Tapi bila niat itu tanpa diikuti dengan usahamu menjaga sikap terhadap orang lain, maka akan banyak orang lain yang tersakiti, terganggu, atau bahkan marah padamu. Jangan pernah berpikiran semua bisa kau lakukan sendiri. Tidak. Sudah di gariskan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang pasti akan membutuhkan orang lain. Karena itu tak ada salahnya peduli dengan orang lain, atau setidaknya berbasa-basi sedikit untuk menciptakan keakraban.

Namun, engkau tetap perlu berhati-hati pula terhadap sahabat palsu yang selalu bersikap manis di hadapanmu dan bersikap sebaliknya dibelakangmu.

 

Sahabat, adalah sebuah kebahagiaan bagiku bila engkau tersenyum. Bahagiamu adalah bahagiaku dan dukamu adalah dukaku juga. Karena itu sahabat, janganlah bersedih. Jika engkau sedang sedih dan gundah, berbuat baiklah terhadap sesama, niscaya engkau akan mendapat ketentraman dan kedamaian hati. Tebarlah senyum dengan wajah berseri sebagai sedekahmu karena wajah muram bak tanda permusuhan. Ingatlah pula, bersama kesulitan akan selalu ada kemudahan.

Bersikaplah lemah lembut, karena sesungguhnya kelembutan tutur kata, senyuman tulus di bibir, dan sapaan-sapaan yang terpuji saat bersua merupakan hiasan yang selalu dikenakan oleh orang-orang mulia.

 

Maafkan aku sahabat, bila apa yang kutulis ini membuatmu merasa tak enak hati. Maafkan juga bila hanya doa yang bisa kulantunkan dalam diamku.

Apapun yang terjadi, dimanapun engkau berada, kini dan nanti, semoga Allah senantiasa melindungimu. Dan aku akan terus mendukungmu sebagai sahabat.

 

 

Salam,

Sahabatmu

Advertisements

Pesan Untuk Anakku

Anakku, jadi apapun engkau kelak, jadilah yang terbaik.

Jika menjadi dokter jadilah dokter yang baik, yang peduli pada kaum tak mampu, yang tak segan membebaskan biaya pengobatan pada miskin papa, yang penuh senyum bersahabat sehingga pasien serasa telah sembuh 25% sebelum minum obat,

Jika menjadi kontraktor atau insinyur sipil, jadilah kontraktor /insinyur yang banyak membangun rumah Allah, membangun sarana umum dan sekolah dengan kualitas sesuai tender yang kau menangkan, membangun rumah-rumah rakyat sederhana yang layak huni.

Jika menjadi Petani, jadilah petani yang cerdas. yang pandai mengolah hasil pertanianmu dengan teknologi modern dan memiliki hasil dengan daya jual tinggi, yang mampu memenuhi kebutuhan rakyat di negara kita dengan baik, yang mampu menembus pasar ekspor keseluruh dunia.

Jika jadi pedagang, jadilah pedagang yang jujur, yang tidak semata mencari keuntungan, yang mengutamakan persahabatan sehingga pembeli datang bukan hanya karena kebutuhan tapi sekaligus berteman,

Jika engkau menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang tegas dan disiplin tanpa menghilangkan sisi kemanusiaanmu. Peduli pada bawahan dan mampu mendorong mereka untuk menjadi lebih baik, memberikan kesempatan seluas-luasnya mengembangkan karir bawahan tanpa takut untuk tersaingi.

Jika engkau menjadi presiden atau kepala daerah, utamakan kepentingan rakyatmu sebagaimana Umar, ra. Sahabat Rasulullah yang takkan membiarkan seorangpun rakyatnya kelaparan, yang rela mengorbankan harta dan pikirannya demi rakyatnya bukan memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri dan keluarganya.

Jika engkau menjadi politikus, jadilah politikus yang bersih dan jujur, jangan berusaha memenangkan kepentingan politikmu dengan segala macam cara dan suap, jangan menargetkan anggotamu yang lolos menjadi anggota lembaga tinggi Negara atau pimpinan di Negara ini untuk wajib setor kepada partai. Biarkan mereka melakukan tugasnya sesuai dengan amanah yang diembannya.

Jika engkau menjadi guru, jadilah guru yang bisa digugu dan ditiru, yang bukan sekedar mengajar, tapi juga mendidik, membentuk karakter generasi penerus yang berakhlakul karimah, bukan sekedar cerdas tapi juga bermental baja dan disiplin, tahan banting menghadapi segala persoalan hidup.

Jika engkau tak punya kesempatan menjadi “orang-orang terhormat” tetap jadilah yang terbaik. Karena sesungguhnya tak ada pekerjaan yang remeh didunia ini bila ditekuni sebaik2nya dan dilaksanakan dengan keikhlasan serta niat ibadah. Bukankah semua saling membutuhkan? Tukang sampah, tukang becak atau tukang bangunan sama pentingnya dengan Presiden atau Menteri. Coba tak ada tukang sampah didunia ini bagaimana jadinya bumi ini? Tukang becak pun bisa menjadi menjadi bukan sekedar tukang becak/tukang becak intelek, karena ia bekerja via internet, memanfaatkan interaksinya dengan penumpang untuk menjadi bahan tulisannya yang akan dibukukan.

Dari semua pekerjaan yang akan kau geluti nanti, jadilah kau orang yang kaya agar dapat berbuat lebih banyak untuk membantu orang lain, tetap jujur dan bersahaja meski harta berlimpah, rumahmu cukup untuk kau tempati dengan keluargamu supaya orang lain mendapat kesempatan tinggal lebih layak dan engkau tak harus mengerahkan banyak pembantu sekedar mengurusi rumah yang mungkin jarang disambangi. Senantiasa menyisihkan sebagian penghasilanmu dan menyalurkannya kepada yang berhak karena rezeki yang kau dapatkan tak semuanya menjadi hakmu, ada hak orang lain di sana.

Arti Sahabat

Setelah menemukan hadist yang menyebutkan bahwa jika kita mencintai saudara kita, maka katakanlah padanya. Jadi kulakukan seperti yang disunnahkan oleh Rasulullah itu. Aku mengirimkan sms kepada saudaraku itu, teman kerjaku, sahabatku, dan juga adikku. Tadinya aku sempat ragu-ragu bahwa ia akan menganggapku aneh. Apaan sih ini, tumben banget tiba-tiba ngomong sayang. Maka sebagai prolog, akupun mengatakan bahwa aku hanya mencoba menjalankan apa yang dianjurkan Rasulullah. Setelah sms terkirim, aku merasa deg-degan juga menunggu balasan atau reaksi dari smsku itu. Jangan-jangan dia akan bereaksi negatif, tidak suka dengan segala ungkapan sayang meskipun dari saudara muslimahnya. Jangan-jangan dia tidak mau berteman denganku lagi. Itu berarti aku akan kehilangan salah seorang sahabatku dari dua orang sahabat yang saat ini dekat denganku. Sahabat-sahabat dekatku yang lain banyak berada jauh dari tempat tinggalku. Dan rasanya aku tidak siap untuk itu.
Malam itu kulalui dengan mencoba menenangkan diri. Everything will be fine. Kataku menghibur diri. Esoknya, sebagaimana kebiasaanku setiap hari, aku berangkat ke kantor menggunakan kereta ekspress. Biasanya sahabatku itu akan naik di dua stasiun pemberhentian berikutnya dan berdiri beberapa bangku dari tempatku duduk. Dan benar, dia naik seperti biasanya. Lalu tersenyum dari jauh seperti biasanya pula. Saat turun di stasiun tujuan kami, seperti biasa ia menungguku untuk jalan bersama. Membeli tiket untuk pulang bersama. Naik kopaja P 20 bersama. Absen, meletakkan tas,menyalakan komputer sebentar, lalu turun sarapan bersama. Itulah rutinitas kami setiap hari. Tak ada yang berubah. Kedekatan kami berjalan begitu saja meski umur lumayan jauh berbeda. Kami banyak memiliki kesamaan. Sama-sama suka travelling terutama ke tempat-tempat yang menantang adrenalin atau masih belum terlalu banyak dijamah wisatawan. Sayangnya status istri dan ibu dari empat orang anak membuatku tak bebas lagi bisa bepergian. Hobiku itu baru bisa tersalurkan apabila ada tugas dari kantor untuk sosialisasi ke daerah. Sementara dia yang masih lajang bisa berekplorasi dengan bebasnya, menentukan mau kemana ber-backpacker ria.
Kesamaan visi dan misi makin mempererat tali persahabatan kami. Memang tak pernah ada ikrar terucap antara kami. Tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang aneh bila ia sedang tidak ada dikantor karena sedang tugas. Bila perlu aku membawa makanan dari rumah agar tak perlu keluar untuk makan sendiri atau dengan teman lain. Iapun begitu, meski sudah tahu kalau punya sakit maag, ia selalu telat makan pagi bila aku tak ada. Aku sering mengomelinya dengan kebiasaan jeleknya itu. “Malas, gak ada teman,” katanya.
Begitulah. Persahabatan kami mengalir begitu saja. Saling mengingatkan dan menguatkan. Dan hari itu aku begitu gembira tak ada sedikitpun yang berubah dengan persahabatan kami setelah kukirimkan sms itu.
Dan aku belajar satu hal dari peristiwa itu, bahwa ada tipe sahabat yang tak perlu ucapan sayang namun tetap dapat terikat erat dalam ukhuwah islamiyah. Bukan berarti sahabat itu orangnya kaku, tapi memang begitulah ia adanya.

To my dear friend, Intan.
Akhir Februari 2011

Pelajaran Pagi Hari

Adzan shubuh berkumandang pukul 04.25 WIB. Aku telah siap bepergian. Selesai sholat Shubuh aku berangkat bersama suami. Pagi ini aku akan berangkat ke Denpasar. Kami berboncengan motor menuju Stasiun Bojonggede. Pagi yang dingin dan  aku sungguh terkejut melihat anak perempuan kecil berumur empat tahunan berambut keriting yang biasa aku lihat setiap pagi pukul 6 saat aku berangkat kerja, telah siap sedia di dekat loket menengadahkan tangannya.

Sepagi ini nak kau telah memulai rutinitasmu? Jika saja tak buru-buru, ingin aku bertanya di mana keluargamu, orang tuamu? Mengapa mereka membiarkanmu berkeliaran sepagi ini untuk mencari sesuap nasi, melawan dingin yang menyesap tulang. Padahal jika engkau sedikit terawat dan bersih, rambut keritingmu itu akan menjadikanmu anak yang lucu dan imut.

Betapa aku langsung teringat keempat anakku. Sampai aku berangkat tadi, si bungsu masih terlelap. Si nomor dua terbangun sebentar untuk bersalaman dan tidur lagi. Si nomor tiga langsung terbangun mendengar suara-suara ayah dan ibunya yang mempersiapkan diri meski biasanya ia lebih suka meneruskan mimpi pada jam yang sama. Si sulung yang paling susah bangun, langsung membuka matanya mendapatkan kecupan pamitku, lalu memelukku erat dan menangis sesenggukan enggan ditinggalkan.

Ah, betapa beruntungnya kami dibandingkan banyak orang yang masih merasakan kelaparan dan harus berjuang keras untuk mendapatkan kebutuhan mereka.

Di pintu loket kedua, seperti biasa, seorang ibu mengenakan jilbab bersama seorang anak laki-laki berumur dua tahunan. Sama seperti gadis kecil berambut keriting itu, mereka dengan setia menadahkan tangannya menunggu belas kasih para pembeli tiket kereta. Si anak lelaki pasti dengan terpaksa tak bisa beranjak jauh dari ibunya untuk menarik iba dari para dermawan. Kubayangkan lagi anak-anakku di usia itu, takkan sanggup diam dalam waktu yang lama. Mereka pasti akan berlari kesana kemari bereksplorasi dan mencoba mengenal dunia.

O ibu, tak terpikirkankah olehmu masa depan anakmu selain menjadi pengemis? Anak belajar dari apa yang dilihatnya. Jika setiap tarikan nafas anakmu melihat engkau menadahkan tanganmu, maka dalam pikiran anakmu, itulah yang akan dilakukannya nanti dewasa. Meskipun sekarang engkau hanya seorang pengemis, tak adakah keinginan dalam hatimu kelak anakmu tak mengikuti jejakmu?

Tak lama kereta ekonomi AC yang pertama datang. Setelah berebut tempat dengan para penumpang lainnya, akupun dapat duduk di gerbong dua. Itupun suamiku yang memperjuangkannya. Baru saja aku meletakkan pantatku dikursi yang kebetulan berada paling pinggir dekat salah satu pintu keluar, kulihat seorang gadis kecil berumur tujuh atau delapan tahunan dengan baju sedikit lusuh bersama ayahnya berdiri di depan pintu keluar. Mau kemana ia sepagi ini? Terbersit dalam pikiranku untuk memberinya duduk berhimpitan denganku yang kebetulan masih ada space untuk tubuh kecilnya. Namun kuperhatikan lagi, oh tuhan. Rupanya ia tengah menjadi “mata” bagi ayahnya yang buta. Sepagi ini pula mereka tengah berangkat mencari nafkah. Tak jadi kupersilahkan ia duduk. Bukan karena ia pengamen, namun aku yakin ia akan segera turun di stasiun berikutnya. Sambil terkantuk-kantuk di tangan ayahnya, ia harus tetap terjaga untuk tak terlewatkan dari stasiun tujuan mereka. Seharusnya, ia tak berada di sini. Seperti anak-anakku dan anak-anak yang lebih beruntung lainnya, semestinya ia tengah sibuk mempersiapkan diri untuk pergi sekolah, mandi dan sarapan. Apakah yang bisa kulakukan untukmu wahai gadis kecil?

Kemudian aku teringat seorang anak lelaki yang biasa “mangkal” di dekat loket ke tiga, di seberang loket yang biasa aku mengantri. Dulu aku suka membeli tiket disana ketika aku selalu diantarkan dan turun di sisi kiri stasiun. Kini aku lebih sering membeli di loket sebelah kanan stasiun. Ketika suatu saat aku membeli tiket di loket itu, anak lelaki itu masih setia di situ dengan kantung plastik dan sebuah kertas bertuliskan permohonan bantuan. Ia  yang beberapa tahun lalu masih anak-anak, sekarang nampak beranjak remaja dengan sebersit kumis yang mulai tumbuh di atas bibirnya. Biasanya aku tak peduli apa tulisan yang tertera di kertas yang ia bawa. Paling juga permintaan sumbangan dari yayasan yatim piatu. Tapi saat itu entah kenapa, terdorong rasa penasaran, aku mencoba membaca tulisannya. Benar sebuah permintaan sumbangan untuk anak yatim yang berjumlah empat orang yang telah ditinggal mati oleh ayah mereka. Dalam hatiku, apakah ia akan selamanya menadahkan tangan dengan alasan yatim? Apakah jika kemudian dia beranjak dewasa ia tetap menjadi anak yatim? Tidakkah ia berpikir untuk lebih meningkatkan derajatnya dengan berjuang sebagaimana kawan-kawannya disekitarnya yang dengan semangat berjualan koran, tissue, permen, atau barang-barang lain yang biasa dibutuhkan oleh para penumpang  yang berseliweran di stasiun. Bagaimana aku bisa mempengaruhi jalan pikirannya?

Akupun lalu teringat dua orang anak laki-laki dan perempuan kakak beradik yang bergantian mengganti atau menambal ban yang bocor di sebuah bengkel kecil tak jauh dari keriuhan stasiun Bojonggede. Kadang tak peduli rintik hujan menemani aktivitas mereka. Sungguh perkasa engkau nak. Dan sungguh besar jasamu bagi mereka yang ingin segera tiba di rumah untuk melepaskan lelah bekerja seharian. Oh, aku sungguh kagum dengan mereka. Anak-anak seperti mereka semoga kelak menjadi anak-anak yang kuat dan memperoleh nasib yang lebih baik. Kalian akan menjadi manusia bermental baja dibandingkan anak-anakyang biasa menadahkan tangannya kepda orang tua untuk minta sesuatu.

Sekali lagi Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah betapa beruntungnya kami. Betapa pagi ini aku mendapatkan pelajaran yang berharga untuk senantiasa mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Yang Maha Pengasih. Untuk senantiasa melihat bahwa masih banyak orang-orang yang tidak beruntung dalam kehidupan mereka. Semoga menjadikan kami makin banyak bersedekah dan membantu orang-orang yang membutuhkan.

Hikmah

Terlibat konflik batin yang tak bisa dibagi dengan orang lain memang terasa berat. Aku pernah mempertanyakan kenapa Allah menimpakan ini kepadaku. Sama ketika Allah menggariskan aku untuk tak lulus ujian skripsi waktu S1 berpuluh tahun lalu. Tapi kini aku tahu, Allah tengah menggembleng aku untuk menjadi manusia yang kuat lahir dan batin. Kuat mental dan mampu menghadapi segala kendala di dunia yang makin keras ini.

Saat itu aku memang menangis darah. Kegagalan  adalah kata yang asing bagiku. Namun kini aku bisa menertawakan kepahitan itu. Tak ada yang harus disalahkan. Tak harus malu menerima kenyataan. Hidup terasa lebih indah dan bermakna dengan variasi tangis dan tawa, suka dan duka, rindu dan dendam. kini aku bisa melenggang tenang menyikapi perbedaan, atau kerikil nasib yang menyapa langkah.

Terima kasih, Ya Rabb. Aku kini adalah aku yang bukan lagi sekedar menghindari kesulitan, tapi dengan lapang menembus belantara kenyataan.

Birthday

Tak terasa, usia kini makin tua. Makin mendekati hari yang dijanjikan. Semoga makin bayak mencari bekal di sisa usia yang entah tinggal berapa. Makin bermanfaat untuk agama dan bangsa.

Bahagia mendengar sapaan dari keluarga dan para sahabat. Gembira membaca pesan dan doa yang tulus tersampaikan. Semoga Allah mengabulkan segala doa yang mereka panjatkan dan membalas mereka semua dengan kebaikan yang sama.

Semoga kelak di hari kematian, merekapun tulus mendoakan aku, meringankan langkah menuju Sang Penguasa.

 

Tasyakuran vs ‘mencari uang’

Musim liburan, banyak orang tua menggunakan kesempatan tersebut untuk mengkhitankan anak laki-lakinya. Itu adalah suatu hal yang lumrah, mengingat kekhawatiran orang tua pada masa pemulihan setelah di khitan.

Yang menjadi perhatian saya adalah, orang tua ramai-ramai merayakan hari khitan anaknya dengan sebuah acara resepsi bak resepsi pernikahan. Bahkan ada yang dalam resepsi tersebut si anak ( yang dengan metode khitan jaman sekarang sudah bisa langsung lari) harus duduk manis di pelaminan dengan sebuah gentong sumbangan di sebelahnya. Padahal dalam undangannya jelas-jelas tertulis “tasyakuran”. Masa Allah. Apakah harus demikian? Padahal tidak ada dalam tuntunan Rasulullah mengenai hal yang demikian itu.

Ada lagi yang si anak sudah di khitan beberapa minggu lalu dan para tetangga dan kawan-kawannya sudah menengoknya serta memberikan sekedar hadiah atau sumbangan untuk membuatnya senang, lha kok orang tuanya ternyata masih juga berniat menyelenggarakan resepsi khitan tersebut sebulan kemudian. Sampai-sampai ada tetangganya yang nyeletuk, “Lha kemarin aku dah kasih sumbangan, sekarang ada undangan lagi. Dobel dong?”

Kok dalam hati saya jadi berpikir, ini tasyakuran atau sudah berubah fungsi menjadi ajang pencarian dana bagi orang tua ya?

Perubahan fungsi ini sebenarnya tidak hanya pada acara khitanan, tapi juga pada peristiwa lain seperti pernikahan. Ada sebuah pernikahan yang akad nikahnya sebenarnya sudah lama dilaksanakan bahkan sudah memiliki anak, lha kok masih mau dilakukan resepsinya. Dan yang paling membuat saya geleng kepala, acara aqiqah yang sebenarnya berfungsi sebagai penebusan anak dan sedekah kepada tetangga sekitar dan fakir miskin/anak yatim, juga bisa dijadikan topik untuk melaksanakan sebuah resepsi dimana yang hadir harus memberikan sumbangan untuk si penyelenggara.

Belajar dari hal tersebut, semoga saya dan orang-orang tergerak hatinya untuk mengembalikan arti sebenarnya dari sebuah kata ‘tasyakuran’, dapat memberikan contoh bagi masyarakat sekitar.