Purnama Di Kotaku

Semestinya malam ini purnama

Nyatanya, purnama hanya temaram

Bukan,

bukan mendung yang menghalang purnama

Tapi banyak  purnama kecil menyilaukan mata

Di  rumah-rumah itu

Di  kantor-kantor itu

Di tempat-tempat hiburan itu

Dan di sepanjang jalan kota yang ramai lalu lalang kendaraan

Bukan,

bukan kabut yang menghalang purnama

Tapi asap knalpot dari ribuan atau bahkan jutaan moda

Motor yang seperti lebah keluar dari sarangnya saat lampu hijau menyala

Lalu meliuk-liuk kiri kanan tak peduli jalurnya di sebelah kiri

Mobil yang merayap disepanjang jalan tol, yang ternyata tak bebas hambatan

Bukan,

bukan pula rinai yang menghalang purnama

Tapi asap kebakaran hutan yang tak jua sirna

Menyesakkan dada yang sudah sesak

Asap pabrik dari menara yang menjulang, pekat dan berbau karat

Taman kota tak lagi mumpuni menghalau asap-asap laknat

Jalur hijau tergusur, pohon-pohon ditebang

Karena prestise, estetis, dan rupiah, katanya

Maafkan aku, Anakku

Hanya bisa bercerita di peraduan,

Mendongeng sebelum engkau terlelap

Tentang purnama yang terang di langit gelap

Tentang gemintang yang berkilauan seperti berlian

Lintang panjer sore, Waluku, Biduk , Gubung Penceng

dan  gugusan Bimasakti

Aku tak lagi bisa mengajakmu ke halaman, menikmati purnama bersama

Bermain dengan sebaya sepertiku kala itu

Karena purnama tak lagi seterang dulu

Semestinya malam ini purnama….

Tapi tidak di kotaku.

***

#odopfor99days

#day37

#23 Februari 2016

#MigrasiDariBlog

Advertisements

Pengorbanan Lae

Lae melemparkan tas sekolahnya dekat kursi tamu sambil merebahkan dirinya di sofa. Bundanya yang sedang membersihkan keramik kesayangannya terkejut melihat putri semata wayangnya bersikap tak seperti biasanya.

“Lae, kok pulang nggak salam malah melempar tasnya sembarangan?”

“Maaf, Bun. Lae lagi kesal.”

“Memang Lae kesal kenapa?”

“Pak guru dan bu guru nggak adil sama Lae. Gara-gara Lae nggak cantik, Lae nggak kepilih masuk kelompok gerak jalan yang akan dikirim ke lomba di kabupaten. Malah Wina yang nggak tegas itu yang di pilih. Jadi ketua regu lagi. Mentang-mentang dia paling cantik.”

Waduh, ini serius. Pikir Bunda lalu duduk di sebelah Lae dan mengelus kepala putri kecilnya yang baru naik kelas VI Sekolah Dasar.

“Kenapa Lae punya pikiran begitu? Lagi pula siapa yang bilang Lae nggak cantik? Lae itu anak bunda paling cantik.” Lae cemberut.

“Ini sih bukan yang pertama, Bun. Yang juara kelas kan aku, tapi kalau ada lomba apa-apa Wina pasti ikut terus meskipun nggak pernah menang. Kalau jadi dirijen paduan suara aja dia nggak tegas, masak jadi ketua regu gerak jalan? Lae kan udah sering jadi komandan upacara dan pengibar bendera yang bagus. Pasti Lae bisa jadi pasukan gerak jalan yang bagus juga.”

Bunda tersenyum mendengar keluhan Lae. Putrinya itu memang anak yang membanggakan. Sejak kelas I tak pernah sekalipun tergeser dari rangking I. Hampir semua nilainya nyaris sempurna. Soal belajar tak pernah disuruh. Lae tak hanya pintar dalam pelajaran. Ia juga mempunyai bakat dalam seni. Ia pandai melukis, menari dan menyanyi.  Beberapa kali ia menjadi juara saat mewakili sekolahnya dalam lomba menari, menyanyi  dan kaligrafi. Piala dan penghargaan berjejer di lemari pajangan. Meski demikian Lae bukan anakyang sombong. Ia tak pelit berbagi ilmu dengan teman-temannya. Ia juga banyak teman. Entah kenapa kali ini Lae bersikap aneh.

“Lae, mungkin bapak dan ibu guru mempunyai pandangan lain. Barangkali Wina memang lebih bagus dalam gerak jalan. Kan Lae belum pernah membuktikan kalau Lae terbaik dalam gerak jalan. Waktu kelas V Lae juga gak menang kan gerak jalannya?”

“Tapi, Bun…”

“Sudahlah, sayang. Lae tidak boleh menyalahkan orang lain kalau Lae nggak terpilih. Lae harus bisa membuktikan dulu bahwa Lae mampu. Pasti nanti pak guru dan bu guru juga tahu kalau Lae bisa.”

“Bagaimana Lae bisa membuktikan kalau tak diberi kesempatan?”

“Pasti nanti ada waktunya. Lae berdoa sama Allah supaya Lae bisa membuktikan menjadi yang terbaik. Sekarang Lae ganti baju dulu ya? Cuci kaki tangan trus makan. Sana gih…”

Dengan malas Lae menuruti kata-kata bundanya.

***

“Bundaa….!” Pulang sekolah Lae berteriak memanggil bundanya.

“Lho lho apalagi ini? Kok nggak salam lagi?”

“Eh, iya. Maaf. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam. Ada apa sih, Sayang. Kelihatannya senang sekali?”

“Iya dong, Bun. Akhirnya Lae jadi ketua regu gerak jalan. Kami mau ikut lomba antar sekolah sekecamatan. Tapi Lae nggak sekelompok sama Wina. Wina masih tetap dengan regunya yang ikut lomba di kabupaten itu. Pokoknya Lae senang deh, Bun. Lae harus bisa kalahkan kelompoknya Wina.” Bunda tersenyum bijak melihat semangat Lae.

“Tapi Lae nggak boleh menghalalkan segala cara ya. Kalahkan dengan jujur.”

“So pasti lah, Bun.”

***

Lae dan regunya berlatih keras. Lae yang memang tegas dapat membentuk regunya menjadi kompak dengan cepat. Ia terus menyemangati teman-temannya yang kadang kala minder dengan regu Wina yang sudah melanglang lebih dulu.

“Tenang, teman-teman. Kita pasti bisa mengalahkan mereka.”

Saat perlombaan tiba, regu Lae semakin keder melihat banyaknya peserta dengan dandanan dan seragam yang keren termasuk regu Wina yang menggunakan seragam waktu ikut pelombaan di kabupaten. Sedangkan Lae dan regunya hanya berseragam sekolah dengan sedikit modifikasi.

“Lae, Nanda belum datang,” kata Vivin.

“Apa? Gimana sih? Bentar lagi mulai nih.” Lae mulai panik. Dari jauh tampak Nanda berlari-lari terengah-engah.

“Sorry , La. Aku nyari-nyari sepatuku nggak ada. Jadi aku terpaksa pakai sepatu putih.” Lae menatap sepatu Nanda yang berwarna putih.

“Ya ampun, apa lagi ini?”

“Aduh gimana dong, La? Kita pasti kalah kalau kayak gini. Seragamnya aja nggak sama,” kata Pingkan.

Lae berpikir sejenak.

“Sini, Nda, coba sepatumu lepasin, nih pakai sepatuku. Muat gak?”

“Tapi, La?”

“Ga pa-pa.  Aku kan ketua regu. Anggap aja seragamnya emang dibikin beda.”

Nanda bertukar sepatu dengan Lae.

“Kegedean dikit sih, La.”

“Coba sumpal pake tissue dikit.”

“Udah pas, nih. Kau kesempitan dong kalau gitu?”

“Agak ngepas dikit sih. Tapi nggak pa-pa mudah-mudahan nggak lecet pas udah selesai.”

“Sorry ya, La. Aku udah bikin kamu susah dan repot.”

“Udah gak usah dipikirin. Yuk pada baris. Yang penting kita kompak.”

Lae dan regunya segera berbaris di tempat yang sudah di sediakan. Lapangan kecamatan itu sudah meriah dengan puluhan regu gerak jalan dalam rangka memperingati  hari Kemerdekaan Republik Indonesia.  Warna-warni seragam mereka  membuat lapangan seperti taman bunga.

Bu Guru menghampiri Lae dan menyematkan nomor regu di pinggang Lae.

“Kalian semua sudah siap?”

“Sudah, buuu….”

“Insya Allah,” kata Lae.

“Bagus. Ingat kekompakan kalian ya. Penilaian utama ada pada kekompakan. Seragam sangat kecil pengaruhnya. Asal tak belang-belang sudah cukup.” Sepintas bu guru melirik sepatu Lae. “Kenapa sepatu berbeda Lae?” ucapnya heran karena tak biasanya Lae berbuat salah seperti itu.

Belum sempat Lae menjawab, Nanda menyahut.

“ Saya yang salah, Bu. Saya tak bisa menemukan sepatu hitam saya. Mungkin di pakai mainan adik saya,” ucapnya sambil menunduk.

“Jadi kalian bertukar sepatu?” Nanda dan Lae sama-sama mengangguk.

“Anggap saja karena saya ketua regu jadi berbdeda sedikit seragamnya,” kata Lae.

Bu guru tersenyum arif.

“Ya sudah, kalian fokus pada kekompakan ya. Mudah-mudahan ini tak akan mengurangi nilai. Ayo, bentar lagi giliran kalian.”

“Baik, Buuu….”

***

Sepanjang perjalanan sejauh 8 km, tak henti-hentinya Lae memberikan semangat buat teman-temannya. Jika mereka mulai terlihat lelah, Lae segera meneriakkan yel-yel sederhana yang biasa mereka buat latihan.

“Satu… dua… tiga… empaaaat. Regu… kita… pasti… bisaaa…. Satu… dua… tiga… empaaaat. Regu… kita… pasti… kompaaaak….”

Sesekali mereka menyanyikan lagu-lagu nasional tanpa mengurangi kekompakan mereka. Rasa nyeri di kaki Lae yang makin sering datang saat kilometer terakhir, tak dipedulikannya. Mereka tetap solid sampai garis finish. Senyum kelegaan menghiasi bibir Lae. Ia segera duduk dan melepas sepatu yang semakin sakit menghimpit sakitnya.

“Lae, kau tak apa-apa?” tanya Tania. Lae tersenyum.

“Tenang saja, tak apa kok. Paling lecet sedikit.”

“Hei, ada yang lihat bu guru gak? Minta obat nih buat Lae.” Teman-temannya segera mencari obat oles untuk kaki Lae. Nanda tampak sangat menyesali keteledorannya yang mengakibatkan temannya jadi kesakitan.

“Tenang saja, Nanda. Aku nggak pa-pa kok. Bentaran juga baikan. Yang penting kita semua sudah berhasil sampai finish dengan baik. Tinggal tunggu pengumuman,” kata Lae yang melihat Nanda menunduk terus di sebelahnya.

***

“Bundaa…. Assalamu’alaikum,” Lae tak sabar terpincang-pincang menghampiri bunda di dapur.

“Wa’alaikum salam. Ya ampun, Lae kenapa kakimu?”

“Cuma lecet, Bun, tapi Lae senaaang sekali. Tereeet…” katanya sambil menunjukkan piala yang indah itu. “Aku ngrayu bu guru buat pinjem piala ini bentar mau tunjukin ke Bunda. Besok di bawa ke sekolah lagi.”

“Subhanallah. Kalian memang?” Lae menggangguk riang.

“Juara 1 bun. Bayangkan betapa senangnya kami. Bahkan regu Wina nggak menang sama sekali. Rasanya puaaas sekali.”

“Syukurlah. Tapi kamu nggak boleh sombong gitu dengan menyepelekan Wina.”

“Enggak kok, Bun. Lae cuma senang saja bisa membuktikan Lae cukup layak ditunjuk mewakili sekolah.”

“Lalu kenapa kakimu bisa sampai lecet begitu?”

Lae lalu menceritakan kejadian tukar sepatu dengan Nanda. Bunda memeluk Lae dengan bangga dan bahagia. Meskipun Lae masih sangat muda, tapi ia punya jiwa besar dan mau berkorban untuk kelompoknya.

“Terima kasih ya, Bun, sudah nasehatin Lae untuk tidak mudah mengeluh.”

“Sama-sama sayang, sekarang bunda punya hadiah buat Lae, kue talam yang enak kesukaan Lae dan makan siang spesial.”

“Asyiiik, makasih, Bun, Lae sayaaaang sama bunda,” ujarnya sambil mencium pipi bunda.

T A M A T

21 Januari 2016

#MigrasiDariBlogspot

Asha

Asha gelisah melihat hujan yg tak kunjung reda. Sudah lepas Isya. Malam kian pekat dan kantor semakin sepi.

“Nunggu siapa, Sha?”

Asha tergeragap melihat lelaki jangkung yg menyapanya.

“Nunggu hujan. Aku lupa bawa payung.”

“Nggak dijemput?”

Asha menggeleng lemah.

“Asha mau naik apa?”

“Mungkin taksi aja, Mas. Kalau kendaraan umum takut udah ga dapat duduk, tambah capek.”

“Ya udah bareng aku aja sampe nemu taksi.”

Asha ragu-ragu.

“Yuk…!”

Melihat hujan yg tak ada tanda-tanda untuk berhenti, Asha akhirnya terpaksa menerima tawaran Dafa, lelaki yang sesungguhnya sangat ingin dihindarinya.

Semobil berdua bersama Dafa, membuat Asha jadi kehilangan kata. Ditambah guyuran hujan yang menderas disertai angin. Malam semakin pekat. Hujan yang turun sejak siang menyebabkan lalu lintas kota yang biasanya sudah macet, semakin macet. Mobil Dafa terjebak ditengah kemacetan Jalan Balikpapan.

“Mengapa nggak jalan sama sekali?” Gerutu Dafa

“Mungkin ada kecelakaan,” lirih Asha.

Dafa memutar radio mencari info. Lalu mendengus kesal mendengar berita di radio.

“Ada papan reklame jatuh ke jalan,” katanya.

“Jadi kita gimana, Mas?” Asha terlihat bingung. Hari sudah terlalu malam baginya untuk berada di luar rumah. Ayah dan Mamanya sudah berkali-kali telpon menanyakan posisi Asha.

“Entahlah. Kau lapar, Sha?”

Asha mengangguk pelan, dari tadi perutnya memang berbunyi minta diisi. Ia belum sempat makan malam di kantor tadi.

Dafa melihat Asha tampak menggigil. Ia mengambil jaketnya di jok belakang dan menyodorkannya pada Asha.

“Pakailah…!”

Asha gemetar, sangat ingin menolaknya tapi tak mampu.

“Buruan dipake, gih! Nanti sakit kamu.”

Asha memakai juga jaket yang diulurkan Dafa. Matanya terpejam,  menangis dalam hati. Yang ada dalam pikirannya saat itu bagaikan Dafa yang tengah memeluknya hangat. Asha semakin gemetar. Dafa terlihat khawatir.

“Aku beli bakpao sebentar ya, tuh di pinggir jalan. Aku juga lapar.”

Asha mengangguk. Ia memilih membiarkan hatinya menikmati kelebatan Dafa. Ia telah terlalu lelah senantiasa menghindari segala bayangan tentang Dafa.

Namun angannya tak dibiarkan berlarut. Dafa sudah kembali dengan bakpau hangat dan dua cup susu coklat hangat.

Sebentar kemudian bakpau dan susu coklat sudah berpindah ke perut mereka berdua. Setengah jam berlalu. Mobil masih stuck dalam kemacetan. Hujan tinggal gerimis.

“Sha…”

Asha menengok ke arah Dafa. Yang di tengok hanya menatapnya tajam. Asha tertunduk.

“Bicaralah…!”

“Apa, Mas?”

“Apa sajalah…”

“Aku… Nggak tahu…” Hati Asha mulai terasa ngilu.

“Bicaralah…!”

Dafa semakin lekat menatap Asha. Ia semakin salah tingkah ketika tiba-tiba Dafa meraih jemarinya. Asha reflek menarik tangannya. Namun bukannya terlepas, justru Dafa menariknya dalam pelukannya.

Tubuh Asha mendadak lemas, tak bisa menolah rengkuhan hangat Dafa. Hanya air matanya yangg mengalir tanda hatinya sakit sangat.

“Menangislah. Biar lega sesakmu…!”

Dafa mengelus rambutnya.

“Mas…”

“Ssstt…! Jangan katakan apa-apa. Aku tahu apa yang ingin kau katakan.” Asha menengadahkan wajahnya. Mencari kejujuran di mata Dafa. Mata hitam pekat Dafa menatap tajam ke bola mata Asha, penuh gemintang.

“Biarlah hati  kita yang bicara.”

Asha kembali terguguk dalam pelukan Dafa.

“Tidurlah! Kau pasti lelah. Aku akan menjagamu.”

Asha hanya bisa menurut. Memejamkan matanya dan bermimpi, berlari bersama Dafa.

Entah berapa lama ia terlelap. Asha tergeragap saat sebuah tangan mengelus lembut pipinya.

“Bangun, Sayang…!”

Asha semakin terperanjat. Kenapa bukan suara Dafa? Apa macetnya sudah terurai? Kok sepi sekali?

Asha membuka matanya perlahan. Wajah cemas mama yang ditemukanya. Ayah tampak khawatir di ujung tempat tidurnya. Seluruh ruangan serba putih. Asha ingin bangun tapi nyeri yang dirasakan disekujur tubuhnya. Tiba-tiba ia teringat Dafa. Bukankan terakhir kali ia tengah tertidur dalam pelukan Dafa dalam mobil yang terjebak macet? Asha panik.

“Mas Dafa…?” rintih Asha.

“Tenanglah, Asha. Kamu belum boleh banyak bergerak.”

“Mas Dafa… Dimana…?”

“Asha, sabar ya, Sayang…”

“Mas Dafa… mana, Ma…? mata Asha menyiratkan penjelasan. Mama menengok ke arah Ayah meminta persetujuan. Ayah mengangguk.

“Pak Dafa… sdh tenang…” Kata Mama ragu. Jelas tergambar kekhawatiran akan reaksi Asha tentang kondisi Dafa yang sebenarnya.

“Maksud… Mama? Asha terbata.

Mamanya terdiam. Asha mengerti.

Tubuhnya mendadak mengejang, tatapan matanya nanar, memanas, lalu gelap.

Dafa telah pergi darinya, bukan karena pelukan istrinya, tapi direnggut dahan angsana yang ambruk menimpa mobilnya malam itu.

***

Jakarta, 28 Januari 2015

Mengenang kemacetan total tahun 2001.

#MigrasiDariBlogspot

Janji Bapak

Dokar kecil itu mengayun-ayun melewati jalan setapak di tepian sawah.

“Kita mau kemana, Bu? Jauh banget,” tanya Lala pada ibunya yang sejak tadi diam saja. Lelah tak tampak di wajah bocah perempuan kecil itu meskipun berjam-jam perjalanan telah ditempuh dengan bus sebelum akhirnya mereka naik dokar.

“Kita mau ke rumah bapak dan nenek.”

“Asyik… Kenapa Bapak nggak tinggal sama kita saja sih, Bu?” Ibunya menelan ludah, pahit.

“Nanti kau juga akan tahu saat kau besar nanti.” Hanya itu yang bisa ia katakan pada anak semata wayangnya yang baru berumur 5 tahun.

***

Lala tak pernah melihat bapaknya sejak berumur 8 bulan. Namun dengan riangnya ia kini duduk di pangkuan lelaki itu sementara kedua orang tuanya membicarakan sesuatu yang tak ia mengerti. Ia asyik bermain dengan kertas yang disobek-sobek menjadi serpihan kecil. Perutnya kenyang setelah makan siang masakan neneknya yang lezat dan khusus dipersiapkan untuknya.

“Buat apa kertas itu ,La?” tanya bapaknya penasaran.

“Ini uang-uangan, Pak. Nanti aku mau beli buku gambar sama pensil warna.” Ibunya diam saja mendengar jawaban anaknya. Lala memang suka sekali menggambar. Bakatnya menurun dari bapaknya yang memang mempunyai jiwa seniman.

“Kalau gitu nanti Bapak kirim buku gambar dan pensil warna yang bagus ya buat Lala.” Lala sontak terbelalak riang.

“Benar, Pak?” Bapaknya mengangguk.

“Lala tunggu ya, Pak.” Dalam hatinya yang polos, Lala langsung membayangkan betapa asyiknya ia nanti menggambar dengan buku gambar dan pensil warna yang bagus kiriman dari bapaknya.

“Ayo Lala, kita pulang,” kata ibunya.

“Apa tak lebih baik kalian menginap saja, Sri. Barang sehari dua hari. Kasihan Lala. Tentu ia capek menempuh perjalanan jauh.”

“Syukurlah kau masih kasihan padanya. Tapi sebaiknya kami pulang saja. Ia bisa tidur di jalan nanti,” ucap Sri yang tak mau menjadi duri dalam daging di rumah itu. Rumah mertuanya yang sebenarnya sangat sayang pada Lala. Cucu ke 6 dari anak lelaki satu-satunya. Mertuanya sangat bersuka cita saat kelahiran Lala di tengah malam badai bersenandungkan gema takbir di malam Idhul Adha. Kata mereka, wajah bayi mungil itu memancarkan cahaya. Sudah cukup siksaan batinnya selama 1,5 tahun tinggal di rumah yang bagai neraka untuknya.

Ah, Sri mendesah pelan mengingat kisahnya. Diraihnya Lala dalam pangkuan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.

“Ayo, Lala. Kita pulang, nanti kemalaman.” Dengan enggan Lala menuruti kata ibunya.

“Benar ya, Pak. Lala tunggu.” Bapaknya mengangguk sendu.

***

Senja baru saja temaram. Lala tak tahu harus berkata apa saat kakak tirinya mengabarkan bapaknya telah meninggal dunia. Ia masih ingat janji bapaknya di siang itu untuk membelikannya buku gambar dan pensil warna. Janji yang tak pernah terpenuhi hingga kini. Ia juga masih bisa merasakan betapa ia terus menunggu kiriman itu hingga bosan mempertanyakan pada ibunya yang hanya bisa melenguh sedih.

“Apa karena gambarku jelek ya, Bu?” tanyanya suatu ketika.

“Gambarmu bagus, La. Mungkin Bapak sedang sibuk atau lupa.”

Tapi Lala terlanjur berpikir gambarnya tak layak untuk mendapat hadiah buku gambar dan pensil warna dari bapak. Ia terus menggambar dan menggambar sepanjang hari supaya gambarnya cukup bagus untuk mendapat hadiah.

Lala menyusut air matanya yang tiba-tiba mengalir. Suaminya memeluknya.

“Sudahlah, Bun. Ikhlaskan kepergian bapak.”

“Aku tak tahu, untuk apa air mata ini. Aku tak pernah mengenalnya kecuali dari sedikit cerita ibu dan 3 kali pertemuan singkat dengannya saat aku masih kecil, lalu waktu aku kuliah dan ingin mencarinya sebagai permintaan ibu karena bagaimanapun ia bapakku. Dan terakhir saat pernikahan kita karena ia harus menjadi waliku. Ia memang bapakku, tapi tidak pernah di dunia nyata.”

“Seperti ibu bilang, bagaimanapun ia bapak Bunda, mertuaku. Ikhlaskan kesalahan beliau di masa lalu agar beliau tenang di alam sana.”

Dadanya terhimpit perih teringat bayangan ibunya yang menderita kala kakek memaksanya menerima lamaran bapak meski telah berstatus pria beristri. Kehidupan yang teramat berat barangkali yang layak dipersalahkan.

Ibu bahkan sempat meninggalkannya saat berumur 8 bulan di rumah bapak karena tak tahan terhadap tekanan dari madunya. Rasa keibuan juga yang pada akhirnya menuntun ibu mengambil Lala dua minggu kemudian setelah ia mendengar kabar kondisi Lala yang tak doyan menyusu. Sejak itu ia hampir tak mengenal bapak. Ia hanya punya ibu.

Lala kembali menyusut air matanya. Ibu saja telah memaafkan bapak, kenapa ia tidak? Sesak di dadanya masih bersisa. Tapi ia telah memutuskan untuk memaafkan bapak.

“Bisakah kita dapat tiket pesawat ke sana hari ini. Temanilah aku.”

Suaminya tersenyum.

“Tentu saja, Bun. Anak-anak tentu mengerti. Mereka biar bersama eyang malam ini. Toh besok pagi sekali kita sudah bisa kembali.”

“Terima kasih, Sayang.”

Dan sesak itu sirna bersama keikhlasannya atas janji bapak yang tak pernah tertunaikan.

***

21 Oktober 2013

#MigrasiDariBlogspot

Kucing Kesayangan Rara

Sudah seminggu mama uring-uringan gara-gara kucing-kucing Rara buang kotoran sembarangan.

“Rumah kita kan kecil Rara. Halamannya hampir tak ada. Bau kotoran kucing jadi memenuhi ruangan. Kita buang saja kucing-kucingnya,” kata mama.

“Ih, Mama tega deh. Kan kasihan mereka, Ma.Nanti mereka makannya bagaimana?”

“Kalau tak boleh, dikasih orang deh. Tetangga bibik ada yang mau kok, buat ngusir tikus.”  Rara cemberut. Memang sih, rumah jadi bau kucing gara-gara si Rangga habis beranak 3, Putri, Boy, dan Kika. Waktu kucing Rara cuma 2 ekor, Rangga dan Billy, mama nggak sesewot ini.

Rara sayang semua kucingnya. Rangga, kucing pertamanya sangat pintar menangkap tikus. Rumah jadi sepi dari tikus sejak ada Rangga. Kucing itu pemberian teman mama sejak rangga masih berumur 2 minggu. Rara rajin memberinya susu sampai ia bisa makan sendiri. Biarpun cewek Rangga kucing yang keren dan gagah kayak cowok, makanya ia salah memberi nama cowok buatnya.

Baru sebulan merawat Rangga, Rara menemukan Billy kecil yang kelaparan di jalanan dekat got. Ia membawanya pulang dan merawatnya dengan baik. Kucing abu-abu putih itu sangat cantik sampai dikira kucing cewek. Ia sempat dikasih nama Putri sampai akhirnya ketahuan ia cowok dan diganti namanya menjadi Billy. Bulunya bersih. Billy sangat sayang pada Rangga. Meskipun mereka bukan saudara, dua ekor kucing itu tak pernah bertengkar.

Dan ketiga anak Rangga yang lucu-lucu itu? Hmm, aku nggak mau berpisah dengan semuanya. Tapi bagaimana dengan bau rumah?

“Emm, anak-anaknya saja kita kasih tetangga bibik ya, Ma,” akhirnya Rara mencoba memilih meskipun ia juga sayang mereka.

“Tapi nanti Rangga melahirkan lagi dan lagi.”

“Tapi, Ma.”

“Sudahlah, Rangga dan anak-anaknya saja dikasih orang. Biar Billy saja yang tetap di sini.” Ujar mama memutuskan.

Dengan berat hati Rara terpaksa menuruti kata-kata mama. Dielus-elusnya kucing-kucing yang sebentar lagi akan berganti rumah.

“Kamu kan tetap bisa nengokin mereka kalau lagi main ke rumah bibik,” hibur mama.

***

Sejak Rangga dan anak-anaknya diberikan ke tetangga bibik, Rara makin sayang sama Billy. Ia merawatnya dengan telaten, dimandikan seminggu sekali, rajin memberinya makan. Billy kucing kampung yang lucu. Ia seperti manusia, doyan sekali makan nasi sama ikan goreng. Kalau diberi makan ikan saja, ia masih merasa lapar dan terus mengeong sampai ia di beri nasi. Suatu kali, Rara meminta mama membelikan Billy makanan kering buat Billy sebagai hadiah. Eh, si Billy malah ogah-ogahan memakannya. Benar-benar kucing kampung, pikir Rara.

Setiap makan ikan atau ayam goreng, Rara pasti teringat Billy. Bahkan bila makan di rumah makan pun, ia pasti minta dibungkuskan sisa makanannya buat si Billy.

Billy seolah membalas kasih sayang Rara. Setiap ia melihat motor ayah yang membonceng Rara lewat di depan gerbang, Billy langsung berlari pulang mendahului mereka. Ya, Billy memang suka bermain jauh hingga ke depan perumahan. Ia akan segera naik ke atas tangga rumah Rara dan diam di sana menunggu Rara naik dan menggendongnya. Billy juga suka menunggui Rara yang sedang sholat di sampingnya. Dimana ada Rara disitu ada Billy.

Hari ini Rara sedih sekali, sudah dua hari Billy tak pulang. Dibantu ayah, ia sudah mencarinya ke mana-mana tapi tak ketemu juga. Sampai dua bulan kemudian, Billy tetap tak ketemu juga. Rara sering menangis sedih teringat kelucuan Billy yang suka menggigit sayang kakinya bila ia lapar dan tak segera di beri makan. Ia juga suka mengalah sama kucing-kucing kecil liar yang suka kesasar ke rumahnya dan ikut makan bersama Billy.

Mama merasa sedih melihatnya dan merasa bersalah. Coba Rangga tak diberikan orang. Pasti Rara tak sesedih ini.

“Rara mau kucing lagi? Nanti mama cariin ya buat Rara.”

“Tapi Rara nggak pernah lihat kucing sebagus Billy, Ma. Bulunya bersih dan ia sangat penyayang dengan kucing-kucing lain.”

***

“Rara, Mama punya kabar gembira. Coba tebak!”

“Billy ketemu, Ma?” mata Rara membelalak riang penuh harap.

“Bukan sayang,”

“Yaah,” Rara kecewa.

“Om Wahyu menawarkan kucing anggoranya. Sekarang tante Elok tak sempat mengurusi si Chiko karena sudah mulai sibuk mengajar di tempat yang baru. Jadi si Chiko boleh buat kamu. Dan yang penting, Chiko nggak bakalan bau karena dia sudah terlatih untuk pup pada tempatnya.”

Rara sebenarnya suka sama Chiko, kucing anggora besar berwarna krem punya om Wahyu. Tapi ia masih lebih suka si Billy.

Keesokan hari, Chiko diantarkan oleh om Wahyu dan resmi menjadi keluarga baru Rara. Chiko memang sangat besar dibandingkan kucing biasa. Bulunya yang panjang-panjang terlihat mengkilap dan megar apalagi setelah dimandikan dan disisir.  Chiko juga nggak bau. Banyak yang suka dengan Chiko bahkan dia dikira anjing saking besarnya. Makannya nggak perlu repot karena cukup menuangkan makanan kering di wadah makannya. Berbeda dengan Billy, Chiko tidurnya di dalam rumah. Tapi sekarang Rara harus lebih berhati-hati, pintu gerbang tak boleh dibiarkan terbuka jika tak ingin Chiko kabur untuk main. Bisa-bisa kucing mahal itu diambil orang.

Coba kalau Billy, pasti aku tak perlu repot. Pikir Rara masih belum bisa mengikhlaskan kehilangan Billy. Chiko kucing manja dan nggak lincah seperti Billy yang pandai melompat pagar.

Billy seperti mengerti Rara belum bisa menyayanginya sepenuh hati. Ia mencoba mengambil hati tuan barunya itu. Seperti Billy, ia suka menunggui Rara saat sholat sambil meraih-raih mukena Rara. Rara menepiskan Chiko kesal. Setelah sholat ia memarahi Chiko.

“Kamu nggak boleh ganggu orang sholat,” katanya.

Seperti mengerti, setelah itu Chiko hanya diam menunggu di samping Rara jika Rara sedang sholat. Rara jadi merasa bersalah telah memarahi Chiko.

Chiko tahu jam-jam Rara pulang sekolah, dan dia dengan setia duduk di dekat tangga menunggu Rara sambil berjemur.

“Chiko seperti Billy aja suka nungguin aku,” pikir Rara. Dielusnya kucing itu.

Ternyata Chiko memang kucing yang pintar. Dia bisa mengerti jika diajak bicara atau jika Rara marah. Kali ini Chiko sudah pandai melompat jendela untuk berjemur di dekat teras.

“Rara, awas pintu gerbangnya nanti Chiko kabur.”teriak mama.

“Iya, Ma.”

Rara memang paling sering lupa menutup pintu gerbang. Chiko yang senantiasa bersiap dekat pintu, langsung melesat keluar rumah. Mungkin dia kesepian karena harus dikurung terus di rumah dan nggak punya teman.

Sore itu, Rara ribut mencari Chiko. Ia lupa lagi menutup pintu.

“Nggak ada, Ma.”

“Coba cari di belakang rumah Sarah. Biasanya dia suka bermain rumput di situ.”

“Nggak ada juga.”

Rara sudah mulai panik. “Ya Allah, jangan hilang lagi kucing Rara ya. Rara janji akan menjaga Chiko lebih baik.”

Ayah, mama dan bibik ikut ribut mencari Chiko.

“Sepertinya tadi dia ke ujung gang,” kata tetangganya. Benar saja, Chiko sembunyi di bawah kolong mobil tetangganya yang berada di ujung gang.

Rara langsung memeluknya dibawa pulang.

“Chiko jangan ngumpet lagi ya. Nanti dibawa orang. Rara janji lebih sayang sama kamu.”

Sejak itu Rara semakin sayang sama Chiko. Apalagi seminggu kemudian mama membawa dua ekor anak anggora yang lucu sebagai teman Chiko.

“Biar Chiko nggak sering kabur-kaburan,” kata mama.

“Nanti rumahnya bau, ma?”

“Mereka kan pup nya nggak sembarangan. Asal kita rajin membuang kotorannya, pasti nggak bau,” kata mama.

“Asyiik, makasih Mama. Rara sayang sama Mama.”

Mama tersenyum memeluk Rara.

“Kamu beri nama siapa mereka?”

Rara berpikir sejenak.

“Emm, yang cewek namanya Chika, yang cowok Cipung. Biar kompak sama Chiko.”

Dan hanya butuh satu hari buat ketiga kucing Rara untuk kompak. Rara masih tetap ingat Billy, tapi tak sesedih dulu lagi karena telah ada tiga ekor kucing lucu yang menemaninya setiap hari. Rara berjanji dalam hati akan merawat mereka sebaik ia merawat Billy.

***

T A M A T

20 Oktober 2013

#MigrasiDariBlogspot

Lima Sahabat

Bryan berlari mendahului teman-temannya yang tengah berjalan santai menuju tempat parkir sepeda di samping sekolah. Ibin, Fatih, Zaky dan Bahi saling pandang melihatnya.

“Hei, mau kemana lu, Bry?” teriak Fatih.

“Sorry, bro. Gue ada perlu,” Bryan melambaikan tangannya dan langsung tancap gas sepedanya. Mereka berlima adalah sahabat karib sejak SD. Sering bersepeda bersama saat hari libur, main bareng atau sekedar mengerjakan tugas bareng, dan yang rutin mereka lakukan adalah pergi dan pulang sekolah naik sepeda bersama-sama bahkan hingga sekarang mereka duduk di kelas IX. Makanya mereka merasa heran melihat Bryan tidak seperti biasanya.

“Ada apa sih, Bryan?” tanya Zaky sambil memandang ketiga karibnya bergantian.

“Nggak tau. Tapi tadi aku lihat si Dino ngedeketin Bryan trus ngobrol serius beberapa lama,” jawab Fatih.

“Dino yang cantik itu?” sahut Ibin.

“Hush! Nggak boleh ngomong gitu. Dosa tau!” tukas Fatih. Ketiga temannya tertawa.

“Gimana nggak cantik. Masak cowok pake bedak, pake apa tuh yang buat bibir basah…?” kata Ibin.

“Lip gloss,” sambung Bahi.

“Iya itu lip gloss kayak yang dipake mama aku. Kan jadi geli aku lihatnya,” kata Ibin.

“Mau apa mereka bicara serius? Nggak nglibatin kita lagi. Jangan-jangan Dino suka sama Bryan,” kata Ibin.

“Maksudmu?” tanya Bahi.

“Iya. Kan cowok model Dino itu biasanya sukanya sama cowok juga.” Kata Ibin.

“Bin, nggak boleh suudzon gitu ah. Belum tentu benar lho. Ntar malah jadi fitnah lagi.” Kata Fatih.

“Jangan deket-deket ih, dengan cowok kayak gitu. Penyakit. Bisa nular juga tau! Amit-amit dah!” kata Zaky.

“Iya sih, memang. Mamaku juga suka cerita kalau jaman sekarang tuh sudah makin banyak yang nggak bener. Perempuan maunya jadi laki, yang laki maunya jadi perempuan. Itu melanggar kodrat. Kayak ceritanya kaum Sodom yang dimusnahkan sama Allah karena banyak yang kayak gitu. Tapi kan si Dino belum tentu begitu. Jadi harus kita pastikan dulu. Malah kalau bisa ya kita ajak kembali ke jalan yang benar. Kasian juga kan. Mumpung belum parah kayak yang suka ngamen di jalanan itu,” kata Fatih panjang lebar.

“Iye, pak Ustadz…!” sahut Ibin sambil membungkukkan badannya. Fatih memukul bahu Ibin sambil tertawa.

“Makanya kalau pake baju juga harus tutup aurat biarpun sama-sama laki. Gue nih kalau di rumah, celana juga nggak boleh kelihatan lututnya. Langsung aja diomelin emak gue,” kata Bahi.

“Eh, udah jam berapa nih? Kok kita jadi ngobrol panjang lebar nggak pulang-pulang, sih?” tanya Fatih.

“Iya, ya. Ayuk, pulang. Besok kita interogasi si Bryan,” kata Ibin.

Ke empat sohib itupun segera mengambil sepeda mereka dan mengayuhnya berderetan menuju pulang sambil bercanda ala mereka.

***

“Assalamu”alaikum!” salam Fatih sambil mencium tangan Farah, mamanya yang tengah merapikan barang-barang di teras rumah.

“Wa’alaikumussalam. Kok telat, Fatih?” tanya Farah.

“Iya, Ma. Tadi keasyikan ngobrol sama teman-teman. Maaf.”

“Ya sudah, sana. Buruan ganti baju trus bantuin mama, ya.”

“Memangnya mau diapain barang-barang ini, Ma?”

“Mama lagi beresin kamar belakang. Firda dan Faza kan sudah mulai besar. Mama mau melatih mereka tidur terpisah biar nanti ketika sudah lebih besar sudah terbiasa tidur sendiri.” Firda dan Faza adalah adik kembar Fatih yang berumur 5 tahun. Selama ini mereka memang masih tidur sekamar meskipun tempat tidurnya terpisah.

Fatih jadi teringat pembicaraan dengan teman-temannya tadi. Ia jadi bersyukur punya mama Farah yang selalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sejak kecil ia diajarkan mengenali diri, perbedaan gender, dan bagaimana bersikap sebagai seorang laki-laki. Ia juga dibiasakan untuk selalu berterus terang terhadap segala tanya dan kejadian apapun yang ia belum mengerti. Mamanya melarang ia untuk punya hp sampai dia lulus SMP. Televisi juga disortir tayangannya. Kata mama banyak tayangan nggak bagus mulai soal pacaran, berantem sampai laki-laki yang berlagak perempuan. Itu semua bisa mempengaruhi jiwa anak-anak. Awalnya ia juga sebel sama mamanya, tapi mama selalu menjelaskan alasan kenapa segala larangan itu diterapkan dan lama-lama ia bisa mengerti. Apalagi soal internet. Warnet itu haram bagi keluarga Fatih. Papa mama lebih suka Fatih menggunakan wifi di rumah bersama teman-temannya dari pada ke warnet. Khawatir akan buka situs-situs porno yang sekarang banyak sekali bertebaran.

Fatih juga masih ingat ketika ia mulai suka sama seorang gadis teman sekolahnya. Ia cerita sama mama dan mamanya sangat memahami perasaannya itu.

“Itu rasa yang normal, Fatih. Tidak apa-apa. Tetapi kamu perlu ingat, bahwa Allah melarang kita berkhalwat. Artinya berdua-duaan dengan yang bukan muhrimnya. Makanya pacaran itu di larang. Nanti kalau sudah menikah baru boleh pacaran. Kayak papa mama gini.” Farah tersenyum.

“Kamu tahu bahayanya pacaran?” Fatih menggeleng ragu.

“Mula-mula cuma ngobrol. Lalu yang namanya cowok dan cewek itu ada magnetnya. Kalo deketan trus ada rasa ser-ser gimanaaa gitu.” Fatih tersipu. “Habis itu jadi pengen megang. Awalnya takut-takut. Trus ternyata terasa nyaman. Habis megang trus meluk. Habis meluk trus cium. Dan kalau sudah berani cium, tidak ada yang bisa menjamin kalau tidak akan berlanjut ke tindakan yang lebih dalam lagi.” Fatih menunduk meresapi kata-kata Farah.

“Lalu bagaimana Fatih menghilangkan perasaan itu, Ma?”

Farah tersenyum, mengelus rambut anak lelaki sulungnya itu.

“Jangan dituruti. Alihkan energy dan pikiranmu buat yang lain. Olah raga, main bareng temen, bikin kreasi, atau kegiatan lain yang kamu suka. Dan yang penting, jangan berdua-duaan dan jaga pandangan.” Fatih tersenyum mengerti. Hatinya terasa lega. Terkadang ia cuma butuh pengertian dan penjelasan dan semuanya menjadi terasa mudah.

“Kok jadi bengong, Fatih?” Fatih terkejut mendengar pertanyaan Farah yang membuyarkan lamunannya.

“Fatih lagi mikir, Fatih beruntung banget punya mama seperti mama. I love you, Ma,” katanya sambil mencium pipi Farah dan segera menuju ke kamarnya untuk ganti baju. Farah geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.

***

Hari Minggu pagi. Di bawah pohon trembesi dekat danau, Fatih, Zaky, Bahi dan Ibin sudah berkumpul, siap dengan sepeda mereka hendak bertualang seperti biasanya. Mereka terlihat murung dan gelisah.

“Bryan nggak datang lagi?” tanya Fatih.

“Nggak tahu. Nggak ada kabar. Aku sudah titip pesan pada ibunya kalau kita tunggu dia di sini hari ini,” jawab Bahi.

“Sudah sebulan ini Bryan menghindari kita,” sambung Zaky.

Tiba-tiba, tampak seorang remaja menggenjot sepedanya tergesa menuju ke arah mereka. Seketika mereka bersemangat melihat siapa yang datang, Bryan.”

Setelah menyandarkan sepedanya di pohon trembesi, Bryan menghampiri keempat sahabatnya, melakukan tos dan duduk dekat mereka.

“Maaf aku terlambat,” kata Bryan.

“Kemana saja kau, bro? Kami piker kau sudah punya teman baru, Doni, ” kata Ibin sedikit ketus.

“ Maafkan aku, teman. Aku memang sedang ada urusan dengan Doni, tapi mungkin tidak seperti yang kalian pikirkan.”

“Kalau kau tak keberatan, ceritakanlah pada kami. Biar kami nggak menduga-duga. Kan kita sahabat,” kata Fatih.

“Siap. Aku memang sudah berencana untuk cerita sama kalian,” kata Bryan. “Ada yang belum kalian ketahui tentang aku. Aku punya kakak sepupu dekat yang biasanya suka main sama aku waktu aku kecil. Aku sayang sama dia. Tapi pas dia sudah kuliah, dia ketularan temen-temennya yang hombreng dan menjadi seperti mereka. Padahal waktu masih suka main sama aku, ia normal saja seperti kita. Budheku, ibu kakak sepupuku sampai stress mengetahui anaknya seperti itu. Beliau jatuh sakit hingga meninggal.  Kakak sepupuku itu merasa bersalah dan menarik diri dari dunia luar. Ia mengurung dirinya di kamar, nggak mau keluar. Lebih dari setahun ia berada dalam pengawasan psikiater. Alhamdulillah dia bisa sembuh dari tekanan batinnya, bahkan sembuh juga dari penyakit hombrengnya itu. Sekarang ia tengah mendalami ilmu agama di pesantren di Bogor. Ia sering menasehatiku untuk berhati-hati dalam bergaul. Ia cerita, awal mula ia terjerumus dalam dunia hitam itu, karena kepolosan dia yang dimanfaatkan teman-temannya. Ia pernah diperlakukan tidak senonoh oleh teman-temannya saat mengkiuti kegiatan kampus. Mulanya ia merasa berontak, tapi lama-lama ia menikmati dan akhirnya ketagihan. Aku sangat sedih mendengar cerita itu. Makanya waktu aku dengar kasak kusuk soal Doni, aku jadi prihatin. Aku nggak mau dia mengalami kayak kakakku itu. Lalu aku kirimi dia surat buat ketemuan trus aku ajak ke pesantren tempat kakakku itu tinggal. Awalnya dia menolak, tapi aku terus meyakinkannya. Kebetulan kakakku sekarang juga aktif dalam upaya penyadaran remaja-remaja yang salah jalan seperti dia dulu. Alhamdulillah, Doni merespon baik. Ia juga baru pada tahap awal menuju penyakit itu sehingga lebih mudah di luruskan lagi. Katanya, sejak kecil ia biasa mengikuti segala tingkah ibu dan kakak perempuannya dan nggak dilarang jadi ia jadi seperti ini.” Kata-kata Bryan membuat keempat sahabatnya terdiam. Haru. Tidak menyangka akan kisah keluarga Bryan dan usahanya untuk menyelamatkan Doni. Fatih menepuk-nepuk pundak Bryan.

“Aku bangga bersahabat denganmu, Bry. Hatimu mulia,” kata Fatih.

“Kita nggak boleh meninggalkan mereka yang punya penyakit kayak gitu. Sudah seharusnya kita bantu mereka untuk kembali,” lanjut Bryan.

“Lain kali, bilang pada kami ya, Bry. Kami kan juga bisa membantu,” kata Zaky.

“Iya,” sahut ketiga teman lainnya.

“Maaf. Tadinya aku khawatir kalian akan merasa jijik dengan hal-hal kayak gini,” kata Bryan.

“Ya sudahlah. Matahari sudah mulai tinggi. Ayuk kita segera berangkat. Bagaimana kalau kita berganti arah tujuan. Kita ke pesantren kakak sepupunya Bryan aja. Aku pengen kenal dengannya. Siapa tahu suatu saat nanti kita bisa ikuta menyelamatkan generasi kita dari penyakit berbahaya ini,” usul Fatih.

“Wah, ide bagus tuh,” sambung Bahi.

“Boleh. Pesantrennya juga nggak terlalu jauh kok dari sini,” kata Bryan . wajahnya terlihat kembali ceria.

“Hayuklah kalau gitu kita berangkat,” ajak Ibin.

Kelima sahabat itu pun mengayuh sepedanya menuju pesantren, diiringi semilir angin dari arah danau dan sinar hangat matahari pagi yang mengelus kulit mereka, menebarkan semangat baru pada jiwa muda yang penuh gairah kebaikan.

***

Jakarta, 17 Maret 2017

#ODOP5

#UltimateChallenge

#Maret

Gerimis Malam

Gerimis masih mengguyur malam. Dipandanginya sebuah foto pengantin di handphone-nya. Gerimispun turun dihatinya. Akhirnya ia menemukan pujaan hatinya, cinta pertamanya  yang telah menghilang sejak 15 tahun silam.  Lelaki yang selalu memenuhi relung hatinya itu kini telah memiliki pendamping dan seorang bidadari kecil dalam rumah cintanya. Adakah ia mengingatnya meski sedikit saja? Azra mendesah dalam hati.

Lalu ia teringat pada seseorang yang sungguh mencintainya namun dengan kejam telah disakitinya. Apakah ia juga telah berbahagia bersama perempuan lain yang lebih mengerti dirinya?

Gerimis di hatinya makin deras manakala ia teringat ibundanya yang kerapkali menanyakan kapan ia akan menikah. Usianya telah melewati kepala tiga dan tak ada tanda-tanda kedekatannya dengan lelaki manapun. Inikah balasan dosanya pada bunda dan Faisal, lelaki yang pernah hendak meminangnya namun di tolaknya demi cinta yang masih memenuhi batinnya pada Rangga.

Ketukan pintu rumahnya membuatnya tersentak kembali ke masa kini. Fadia, sahabat lamanya yang baru bertemu setelah sekian tahun, telah berdiri di muka pintu dengan senyum terkembang dan bias rindu di wajahnya.

“Fadia!” Azra menjerit girang, melupakan sejenak galau di hatinya.

“Azra!” merekapun berpelukan penuh haru dan rindu.

“Aku kangen sekali, Zra.”

“Aku juga, Fad. Masuklah, ” katanya sambil menggandeng tangan Fadia memasuki ruang tamunya yang mungil namun hangat.

“Sedang apa kamu, Zra?”

Azra sedikit tersentak, kembali teringat kenangannya.

Fadiapun terkejut melihat kesedihan yang melintas tiba-tiba di wajah sahabatnya itu.

“Kamu tinggal sama siapa Zra?”

Azra menggeleng.

“Tidak dengan siapa-siapa. Aku belum menikah.”

“Rangga?” Azra menggeleng lemah. “Kalau aku menikah dengan Rangga, pasti kamu akan tahu dan tak mungkin aku terdampar di ujung pulau Jawa ini.”

“Faisal?” sekali lagi Azra menggeleng. Kini giliran Fadia yang menarik nafas keheranan. Ia tak pernah mengerti dengan pilihan yang diambil sahabatnya itu.

Segalanya bermula pada reuni teman sekelas di SMP Harapan, 15 tahun lalu. Saat itu, mereka masih duduk di bangku kuliah. Reuni yang diadakan di rumah salah seorang teman sekelasnya itu mempertemukan Azra dengan Rangga yang telah membuatnya mengenal arti cinta sejak ia menginjak bangku SMP. Cinta yang dipendamnya diam-diam. Hanya Fadia seorang yang akhirnya tahu betapa ia mencintai Rangga. Ia sudah cukup bahagia bisa melihat senyum Rangga atau berdekatan dengannya dalam kegiatan sekolah. Azra merasa, Rangga juga memiliki perasaan yang sama. Namun entah mengapa Rangga tak pernah berkata apa-apa tentang cinta pada Azra.

Waktupun berlalu begitu cepat, menerbangkan Rangga dari sisinya. Kesibukan menuntut ilmu di kota yang terpisah, membuatnya sedikit melupakan Rangga. Bahkan, ia sempat memiliki kedekatan dengan Faisal, kakak kelasnya di bangku kuliah yang begitu baik dan berniat hendak melamarnya begitu ia lulus kuliah. Kedua orang tua mereka telah mengetahui hubungan itu dan merestuinya.

Namun rencana lamaran itu hancur berantakan dengan hadirnya kembali sosok Rangga pada malam reuni itu. Entahlah, ia tak bisa melupakan Rangga. Ia masih tetap seperti dulu. Penuh perhatian terhadapnya namun tanpa kata yang begitu ditunggunya untuk ia ucapkan.

“Gila, kau, Zra!” Fadia memekik mengetahui keinginannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Faisal. “Bagaimana mungkin kamu bisa memilih bayangan semu dibandingkan kenyataan indah yang terbentang dihadapanmu?”

Azra cuma tertunduk kala itu. Nasehat bundanya pun tak mampu meluluhkan tekadnya untuk melepaskan Faisal.

“Menikahlah engkau dengan lelaki yang benar-benar mencintaimu,” bundanya menasehati dengan lemah-lembut sambil mengelus rambut ikalnya yang tergerai dipangkuan Bunda. Air mata Azra mengalir tak terbendung.

“Tapi, Bunda, salahkah aku bila aku ingin menikah dengan lelaki yang mencintaiku dan aku cintai,” Azra mencoba berargumen.

“Kamu bisa belajar mencintai lelaki yang mencintaimu. Sebagaimana orang-orang dulu yang menikah tanpa cinta. Agama kitapun tak mengenal pacaran kan? Cinta akan datang dengan sendirinya sejalan dengan kasih sayang yang kalian bina dalam rumah tangga.”

Azra bergeming. Air mata yang terus mengalir sebagai jawabnya. Ia lebih memilih Rangga bersama ketakpastiannya.

Faisal sangat berang ketika Azra berkata hendak melepasnya.

“Apa maksudmu, Azra? Aku tak bisa mengerti jalan pikiranmu! Kalau putus ya mesti ada alasan yang jelas.”

“Maafkan aku, mas…” lirih Azra tak berani menatap Faisal.

“Tidak, aku tak akan melepasmu. Aku begitu mencintaimu dan berniat menjadikanmu bidadari rumahku.” Azra tertunduk.

“Aku tak peduli jika kau tak mencintaiku. Asal kau mau, aku berjanji akan membuatmu jatuh cinta padaku selamanya. Aku mencintaimu Azra, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu.”

“Tapi aku tak bisa, mas. Engkau terlalu baik untuk kusakiti.”

“Engkau justru menyakitiku dengan melepaskanku. Kalau kau perlu waktu untuk menyelesaikan masalahmu, aku akan setia menunggu. Dan aku akan lebih senang bila engkau melibatkanku untuk menyelesaikannya.” Mata Azra berkaca-kaca. ‘Kenapa laki-laki sebaik ini tak bisa membuatnya jatuh cinta dan melupakan Rangga?’ batin Azra.

“Aku tak bisa.”

Faisal menarik nafas dalam-dalam, meraih kedua tangan Azra dan menatap matanya lekat.

“Baiklah, aku tak akan memaksamu. Aku  pulang dulu, renungkanlah semuanya. Besok aku datang lagi, dan kuharap kamu telah merubah keputusanmu.”

Azra makin ngilu, dipandanginya punggung lelaki tampan yang hendak pergi itu.

“Mas…!”

Faisal menoleh. Menunggu ucapan Azra selanjutnya.

“Aku tak bisa melupakannya…”

“Apa..!!? Siapa? Lelaki pertamamu itu?” Azra memang sempat bercerita sedikit tentang Rangga sebelum mereka memutuskan untuk menjalin cerita bersama.

Azra mengangguk pelan.

“Omong kosong. Apa ia juga mencintaimu seperti aku mencintaimu?”

Azra menggeleng pelan. “Aku tak tahu, ia tak pernah berkata apa-apa.”

“Bila begitu, berarti dia tak mencintaimu.” Azra hanya diam.

“Azra, aku akan membantumu melupakannya,” Azra menggeleng.

“Aku sudah mencobanya berkali-kali dan tak pernah berhasil.”

Faisal menarik nafas berat.

“Apakah hanya dia yang bisa membuatmu bahagia?”

“Aku tak tahu.”

“Jika hanya dia yang bisa membuatmu bahagia, aku rela melepasmu, tapi hanya bila dia benar-benar menginginkanmu. Dan aku akan memastikan itu.” Azra terkejut.

“Apa maksudmu?”

“Aku akan memastikan apakah dia mencintaimu atau tidak.”

“Tidak, mas. Jika itu kau lakukan, sama saja dengan mempermalukanku. Lagi pula aku tak mau dia mencintaiku karena keterpaksaan. Aku mau semuanya berjalan apa adanya.”

“Jika begitu, aku tak akan melepasmu dan aku akan tetap melamarmu.Bila perlu, secepatnya.”

Dan berbulan-bulan kemudian, Faisal tetap setia datang ke rumah Azra, mencoba meluluhkan kekerasan hatinya. Namun tak pernah berhasil hingga akhirnya dengan berat hati, ia melepaskan Azra. Lalu ia menghilang membawa sakit hatinya.

Waktupun  terus berlalu. Azra tetap setia bercumbu dengan bayangan Rangga yang tak pernah nyata. Faisal telah pergi dengan berat hati. Dan Bundanya mencoba mengerti perasaan anak perempuan semata wayangnya sebagaimana Ayah yang lebih memilih diam.

Selepas kuliah, Azra diterima bekerja di ujung Barat pulau Jawa, jauh dari kota kelahiran yang membesarkannya dan sarat dengan kenangan. Karirnya melesat dengan cepat. Kesibukannya membuatnya bagai hilang tertelan bumi. Rangga menghilang, Fadia lenyap, Faisal entah kemana. Begitupun dengan sobat-sobat lainnya. Ia jarang pulang. Paling Bundanya yang rajin menengoknya bersama Ayah. Sampai kemajuan teknologi dunia maya mempertemukannya dengan sahabat lamanya, Fadia. Lalu iapun kembali terseret putaran arus masa lalu. Kemana gerangan Rangga. Ia malu hendak menanyakan pada Fadia. Maka dicarinya lelaki itu di dunia maya. Batinnya masih penuh harap sampai foto pengantin Rangga ada di tanggannya

***

“Azra…” Fadia menyentuh lembut tangan Azra. Ia tersadar dari lamunannya. “Kamu masih mengingat Rangga?” Azra tak menjawab.

“Aku tak pernah kontak lagi dengannya. Terakhir ketemu ya ketika reuni waktu itu.” Azra meraih handphone yang ia letakkan di meja saat membukakan pintu buat Fadia, lalu menunjukkan foto yang membuat hatinya gerimis. “Baru saja kutemukan,” ucapnya lirih. Fadia terkejut.

“Azra,” Fadia memeluk sahabatnya, mencoba memberikan kekuatan.

“Faisal bagaimana?”

“Entahlah. Aku tak pernah mendengar kabarnya lagi setelah aku melepasnya. Mungkin ia sangat marah dan sakit hati padaku. Dan aku yakin dia telah memiliki pendamping pula. Ini semua akibat perbuatanku sendiri. Aku telah berdosa pada bunda dan Faisal.” Gerimis itu kini meleleh di pipinya namun buru-buru dihapusnya.

“Ah sudahlah. Ini saat yang sudah lama aku nantikan. Jangan dikotori dengan kesedihan,” ujarnya sambil melepaskan pelukan sahabatnya. “O iya kamu gimana? Anakmu sudah besar ya? Dua-duanya jagoan yang ganteng.” Lalu mereka berbincang akrab, mencoba merangkai kejadian yang terlewatkan selama perpisahan mereka.

***

Malam ini, Azra berdandan cantik sekali. Baju biru warna kesukaannya membalut tubuh langsingnya dengan anggun. Kerudung bermotif bunga-bunga kecil di pinggirannya menyempurnakan penampilannya. Wajahnya cerah.

“Azra, Fadia sudah datang nih.” Suara Bundanya mengagetkan Azra yang sedikit terbawa suasana. Ia memang sedang berada di kampung halamannya. Dan malam ini ia akan datang ke reuni teman-teman sekelasnya di SMP dulu. Fadia sudah berjanji akan datang menjemputnya bersama suaminya.

“Iya, Bunda. Sebentar!”

Entah kenapa hatinya merasa lebih lega. Beban berat di hatinya selama ini seakan lenyap begitu saja. Jadi sebenarnya apa yang dicarinya dulu? Sebuah cinta ataukah hanya sebuah kepastian yang telah mengorbankan begitu banyak kesempatan?

Azra turun dengan anggun. Senyumannya terkembang di bibirnya yang merah. Ayah, Bunda, Fadia, dan suami Fadia, Dimas, menatap takjub ke arah Azra. Pesona kecantikan Azra seakan keluar semua malam itu. Azra jadi merasa risih sampai memerah kedua pipi ranumnya.

“Yuk kita langsung berangkat, sudah hampir terlambat kita,” ajak Azra.

“Ya udah, yuk,” sahut Fadia.

“Ayah, Bunda, kami berangkat dulu ya.” Azra berpamitan pada kedua orang tuanya lalu mencium tangan mereka.

“Kami berangkat, Pak, Bu,” Dimas dan Fadiapun berpamitan.

“Hati-hati ya, Nak!” kata Bunda.

“Assalamualaikum,” salam mereka bersamaan.

“Wa’alaikum salam,” jawab Ayah dan Bunda.

Mereka bertiga segera memasuki mobil Fadia yang terparkir di halaman rumah orang tua Azra yang cukup luas.

“Eh, anakmu gak ikut, Fadia?” tanya Azra.

“Pada nggak mau. Mereka lebih suka di rumah sama neneknya,” jawab Fadia. “Ya gitu deh, kalau dah menjelang ABG. Dah males kalau di ajak pergi ma ortunya. Apalagi kalau acara buat orang-orang tua.”

Lima belas menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah makan yang cukup ternama di kota Azra. Suasananya sudah cukup ramai. Tiba-tiba saja dada Azra berdegub lebih cepat. ‘Seperti apa dia sekarang? Bagaimana istri dan anaknya? Bagaimana sikapnya jika melihatku? Aku harus bersikap apa?’ Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan dalam benak Azra.

“Hai, Tio! Pa kabar? Mana istrimu?” kecamuk di benak Azra berserakan mendengar Fadia menyapa salah seorang teman mereka yang sudah hadir lebih dulu. Sejenak kemudian mereka telah larut dalam suasana akrab penuh rindu pada suatu masa di kelas II SMP dulu. Hangat dan meriah.

Mata Azra mencari-cari sosok yang begitu ingin dilihatnya setelah sekian tahun. Yang begitu dirinduinya.

“Sst….!” Fadia menepuk pundaknya lembut. Azra terkejut. “Mencari Rangga ya? ” godanya. Azra tersenyum malu. “Belum datang tuh kayaknya.”

Baru saja Fadia berhenti berbicara, ia kembali mencolek Azra.

“Lihat tuh, dia datang.”

Seorang lelaki berkulit gelap, berambut cepak, dengan perawakan  tinggi besar memasuki ruangan tempat reuni bersama seorang perempuan yang berperawakan agak gemuk dengan wajah setengah tersenyum. Degup di dada Azra makin kencang. Fadia melambaikan tangannya ke mereka agar mendekat. Dan pertemuan yang begitu diimpikan Azra pun terjadi.

“Hai, Fadia.”

“Hai Rangga. Kenalkan ini suamiku, Dimas. Ini istrimu?” tanya Fadia sambil melihat perempuan di samping Rangga.

“Iya. Kenalkan ini Tia, istriku.” Mereka saling bersalaman. Kemudian mata Rangga tertumbuk pada sosok cantik yang begitu berkilau malam itu. Azra. Dan entah kenapa, Azra merasa sebuah beban berat selama ini berjatuhan satu persatu. Dengan senyum manis dan nada yang ringan tanpa beban, ia menyapa pasangan itu.

“Hai Rangga, pa kabar?” Lalu ia menyalami istri Rangga. “Mbak Tia kenalkan aku Azra.” Sekilas Rangga menatap Azra takjub dan ada kilatan dimatanya yang menyiratkan sebuah makna. Dulu Azra sangat menyukai kilatan itu, tapi entah kenapa sekarang tak membuat Azra bereaksi yang sama. Keberadaan Tia, membuat mereka tak bisa lepas berbicara.

“Azra, lama sekali nggak denger kabarmu? Sekarang tinggal dimana?” lalu dia melihat kiri kanan seperti mencari seseorang. “Mana suamimu?”

Azra tersenyum.

“Kamu belum menikah?” Rupanya dengan cepat Rangga bisa menyimpulkan senyum Azra.

“Pangerannya keburu dibawa kabur putri lain,” sahut Fadia mencoba menyindir Rangga tanpa menimbulkan tanda tanya di hati Tia.

“Ah enggak, cuma belum ketemu jodoh yang pas aja.”

“Pangerannya itu emang bodoh sekali. Masak gadis secantik dan semenarik Azra ini disia-siakan begitu aja.” Ada nada kesal dalam ucapan Fadia.

Sekali lagi Azra tersenyum tanpa menghiraukan sindiran Fadia. “Aku sekarang tinggal di Bandung. Sama Fadia juga belum lama ketemunya.” Kalimat-kalimat itu mengalir begitu ringan. Dan selanjutnya mereka terlibat perbincangan akrab sebelum akhirnya bergabung dengan teman-teman mereka yang lain.

Setelah reuni itu berakhir, dan sesaat setelah duduk dalam mobil Fadia yang akan mengantarnya pulang, Azra mempertanyakan perasaannya kini. Mengapa sekarang aku tak merasa seperti dulu ketika bertemu Rangga? Dia jadi sama seperti teman yang lain di mataku? Jadi apa yang dirasakannya selama ini? Sekedar penasaran? Alangkah naifnya dia, demi sebuah kata itu telah mengorbankan orang-orang yang begitu mencintainya. Dan tiba-tiba ia merasa begitu kesepian. Ia lalu teringat Faisal. Tak seharusnya aku bersikap seperti itu padanya. Alangkah jahatnya aku. Ah, sudahlah. Semua telah usai.

“Aku nunggu di mobil aja, Ma!”kata Dimas pada Fadia ketika mobil itu berhenti dihalaman rumah orang tua Azra. Azra dan Fadia turun dari mobil. Sebelum melangkah ke rumah, Fadia menggamit tangan Azra memintanya untuk berhenti sejenak.

“Gimana, Zra? Masih mengharapkan Rangga?”

Azra tersenyum dan menggeleng pelan.

“Entah kenapa, perasaanku menjadi lebih netral setelah pertemuan tadi. Tapi tiba-tiba saja aku merasa kesepian, bukan karena dia. Entahlah.”

Giliran Fadia yang tersenyum penuh makna.

“Kalau gitu kita masuk yuk, dah malam. Orang tuamu pasti dah menunggu.”

Saat mereka hendak melangkah, Azra melihat sebuah mobil terparkir tepat di depan teras rumah. Mobil siapa? Dan kelihatannya ada orang yang masih berbincang di ruang tamu. Siapa pada jam 11 malam begini masih bertamu? Batin Azra.

“Siapa, Zra?”

Azra hanya menggedikkan bahunya. Sambil melangkah penasaran.

“Assalamu’alaikum!” Azra mengucapkan salam. Mengedarkan pandangannya ke segenap penjuru ruang tamu yang lega dan tertata apik. Ada ayah dan Bundanya di sana. Wajah mereka terlihat sumringah. Dan seorang asing yang duduk dekat ayahnya. Lelaki itu seperti pernah dikenalnya. Azra tercekat. Faisal?! Benarkah?

“Wa’alaikumussalam. Apa kabar Zra?” kata lelaki itu. Azra salah tingkah. Beruntung Bunda segera menggamit tangannya agar duduk di sebelah Bunda.

“Duduk dulu, Nak Fadia,” ucap Bunda pada Fadia. Fadiapun menurut.

Ada apa ini? Batin Azra.

“Azra, Nak Faisal sengaja datang ke sini hendak mengabarkan sesuatu padamu. Ayah rasa, kalian bicara saja dulu biar lebih leluasa. Ayah dan Bunda masuk dulu.”

“Kalau gitu saya juga langsung pamit saja Pak, Bu, mas Faisal. Kasihan mas Dimas terlalu lama menunggu di mobil.”

“Lho kok nggak ikut masuk, Nak?” tanya Bunda.

“Iya, Bu. Sudah malam, kasihan anak-anak di rumah cuma sama neneknya.”

Setelah ayah dan bundanya masuk dan Fadia pulang, tinggal Faisal dan Azra dalam diam sejenak.

“Lama nggak ketemu ya mas? Kok sendirian saja. Istri?” tiba-tiba ada rasa nyeri ketika ia menyebut kata itu.

“Istriku belum mau kuajak. Baru mau kutanya, mau nggak ikut denganku.” Ujar Faisal sambil tersenyum penuh makna. Azra mengernyit tak mengerti.

“Maksud, Mas Faisal?”

“Azra, sebelumnya aku minta maaf bila kehadiranku ini membuatmu terkejut. Ceritanya sangat panjang. Intinya malam ini, aku akan mengajukan lamaranku yang kedua kepadamu. Tadi aku juga sudah berbicara dengan ayah dan bunda. Mereka ikut kau saja. Fadia juga.”

Apa? Melamar? Apa-apaan ini? Memangnya aku bakal mau jadi istri kedua? Lalu mengapa ayah dan bunda merestuinya? Apa karena anak gadis satu-satunya ini dianggap sudah tak laku lagi? Dan Fadia? Apa hubungannya dibalik semua ini? Batinnya merasa tersinggung.

“Maaf, mas. Aku memang belum menikah di usiaku yang sudah bisa dibilang perawan tua ini. Tapi aku tak akan mau menjadi istri kedua buat siapapun,” ucapnya agak ketus. Faisal tertawa kecil.

“Emang kenapa kalau istri kedua? Kan agama nggak melarangnya?” Wajah Azra pias karena marah. Faisal jadi tak tega menggodanya lagi.

“Lagipula, siapa yang akan menjadikanmu istri kedua?” Azra tercekat.

“Maksud, mas?”

“Aku belum pernah menikah. Aku masih selalu menunggumu.” Suara Faisal cukup lembut, tapi terasa bagai petir di siang bolong di telinga Azra. Kemudian seperti bendungan yang tak lagi mampu menahan debit air di musim hujan, air mata Azra menyeruak membasahi pipinya.

“Percayalah Azra. Aku sangat serius. Aku ingin membuktikan padamu bahwa cintaku padamu benar-benar tulus. Kalau engkau tak bisa melupakan lelaki pertamamu itu dan tetap setia dengan penantianmu dalam diam, akupun bisa begitu. Selama ini aku terus memantau diam-diam perkembangan rumah ini. Aku lega tak pernah ada janur melengkung di rumahmu. Tapi aku tak berani mengusikmu sampai ketika  Fadia datang menemuiku.”

“Fadia?”

“Ya. Ia benar-benar sahabat yang baik. Setelah pertemuan denganmu dan tahu kalau Rangga telah menikah, Fadia berusaha mencariku. Entah bagaimana caranya dia bisa menemukanku. Dia menanyakan padaku apa aku sudah menikah. Ketika kubilang belum, iapun bertanya apa aku masih mencintaimu, akupun menjawab selalu. Dan akhirnya akupun bisa berdiri disini, di depanmu, melamarmu kembali.”

Kali ini bendungan itu benar-benar ambrol. Azra terguguk pilu. Subhanallah, betapa baiknya Allah padaku. Aku yang telah menyia-nyiakan kesempatan yang pernah diberikan oleh-Nya, ternyata masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya.

Setelah tangis Azra mereda. Faisal kembali berkata.

“Jadi apakah kira-kira tuan putri yang cantik ini masih mau menerima pangerannya?” kata Faisal sambil tersenyum menggoda.

“Tapi aku sudah tidak muda lagi, mas.”

“Siapa bilang? Menurutku Azra masih pantas berusia 25 tahun.” Azra tersipu. “Jadi gimana?”

Azra terdiam sejenak. Dalam hatinya memantapkan hati dan membaca basmalah untuk memutuskan sebuah hal terpenting dalam hidupnya. Sambil mengusap sisa-sisa air matanya dan tersenyum, Azra mengangguk malu.

“Alhamdulillah!”

“Azra, sungguh aku sangat ingin memelukmu, tapi aku sangat menghormatimu. Dan aku akan melakukannya nanti setelah pak penghulu mengesahkan kita menjadi suami istri,” ujar Faisal sambil mengerling nakal.

Sekali lagi Azra mengangguk. Banyak hal tak terduga selama hari ini membuat Azra tak bisa berkata. Kebahagiaan menyelimuti hatinya.

“Kalau begitu aku harus pulang dulu, supaya besok sore bisa segera melamarmu bersama kedua orang tuaku.”

“Apa? Apa tidak terlalu terburu-buru?”

“Tidak sama sekali. Aku telah menunggu saat ini hampir sepuluh tahun dan aku tak mau menundanya barang seharipun. Tolong pamitkan ayah dan bunda ya.” Berkata begitu, Faisal berdiri dan melangkah tergesa hingga terantuk tangga teras. Azra tersenyum geli melihatnya.

“Hati-hati,mas. Aku nggak mau ntar pengantin prianya benjol.” Faisal tersenyum malu.

“Aku pulang dulu sayang. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Azra memandangi Faisal yang berjalan tergesa menuju mobilnya dengan perasaan yang tak terkatakan. Tiba-tiba ada perasaan tak sabar menunggu esok untuk melihatnya lagi. Azra tak mau buru-buru memutuskan apakah itu cinta. Ia hanya bersyukur dalam hati, Allah telah mempertemukan kembali dengan lelaki yang benar-benar mencintainya dan pasti akan bisa dicintainya sepenuh hati. Sebelum masuk ke dalam mobil, Faisal sempat menengok ke arah Azra.

Wait for me!”Azra tersenyum mengangguk. Lalu ia memandangi mobil Faisal hingga menghilang di belokan. Malam ini tak ada gerimis. Bintang-bintang bertebaran memenuhi langit. Mencoba membangunkan bulan yang malu-malu menampakkan diri. Hati Azra pun tak lagi gerimis. Cahaya malam membuat bunga-bunga di hati Azra bermekaran. Belum lama ia mengikhlaskan cintanya yang selama ini membayangi hidupnya, kini ia menemukan cinta sejatinya. Hatinya penuh syukur, terutama karena memiliki sahabat sebaik Fadia yang meski sempat terpisah sekian lama, ternyata tak mengubah persahabatan mereka. Sekali lagi Azra tersenyum bahagia dan berharap ruang hampa di hatinya akan segera sirna bersama dengan hadirnya Faisal dalam hidupnya.

Tamat

Jakarta, end of 2010

Dedicated to Dik Yatik Kusumaningrum and someone from the past.