Jejak Kata

Kemana perginya mereka?

Mereka yang biasa berkerumun di kepala

Mereka yang biasa mewarnai hari-hari

Yang menjadi curahan hati

Pelepas beban, penat jiwa

Kemana perginya mereka?

Terkadang sebersit rindu menyelinap dalam rasa

Namun lebih banyak tergilas kegaduhan kerja

Aku bahkan hampir tak kenal lagi mereka

Ku jelajahi jejak jejak mereka

berharap masih mengenali mereka

Tak ada

Hanya senyap menyapa

Kukacau berkas- berkas mereka

Secercah asa masih tercecer di rerimbunan sampah kealpaan

Kukais ceceran jejak yang tersisa

Tak apa jika mereka tak jua ada

Akan tetap ku kejar mereka

Mereka yang bernama kata-kata, sajak, dan rima.

(Sebuah review seminggu bersama ODOP)

#ODOPfor99days #day7

#MigrasiDariBlogspot

Advertisements

Rindu Itu

Di buaian rindu yang mengalun sendu

Aku bertapa dan membersihkan diriku

Rapuh

Bak kayu lapuk berumur ratusan tahun

Aku perlu berlindung, dari angin ataupun tangan-tangan jahil yang linglung

nun jauh di perantauan

Hanya bisa melihat mereka

Dalam mimpi atau dunia maya

aku sungguh rindu

Tapi rinduku pada Nya lebih menguat

Aku di belantara senyap

Berderit-derit ngilu suara hampa dibawah sadarku

Angin seperantauan mengusap lembut pipiku

Mengalirkan energi rindu

Tunggulah, aku

Aku pasti kembali

Nanti, jika aku telah kokoh berdiri

Jika hati tak lagi terbebani

Jika rahasia tak lagi menjadi jeruji

Aku akan kembali

Tak lama lagi

***

Jakarta, 21 April 2014

#MigrasiDariBlogspot

Lembar-Lembar Semu

Kuhitung lembar-lembar di dompetku

Tingggal beberapa lembar  si kuning, hijau, dan ungu

Disertai dua lembar si warna biru

Padahal ini akhir minggu

Cukupkah esok menjamu anak-anakku?

Pikirku cepat tak boleh ragu

Mencari resep jitu mengakali  pagu

Makan di rumah saja ya, Nak, masakan ibu

Nanti kita tak perlu ke Pasar Baru

Cukup melemaskan kaki di seputaran Setu*

Lembaran-lembaran semu tak boleh mengganggu

Karna mereka sekedar belenggu nafsu

Tak boleh memuram hati yang teduh

Tak berhak memasung makna cinta yang agung

Keceriaan itu sungguh teramat lentur, tak berbilang tak terukur

***

(11 Oktober 2013)

#MigrasiDariBlogspot

Pencarian

Kucari setiap detil yang tak tersibak

Ku sisir lipatan-lipatan kehidupan yang pernah singgah

Barangkali ia tertinggal disana

Atau ada puing-puing kenangan yang tersangkut olehnya

Kususuri jalanan sepi

Kuendus aroma wangi yang membuat otakku mimpi

Sungguh ia kusangka menggelantung manja di puncak harga diri

Atau setidaknya masih tersisa bekas warni di ujung koloni

Aha, itu dia mengintipku di buritan lepas

Aku yakin bisa menangkapnya lekas

Makin yakin ia bukan sekedar berkas

Nyatanya ia cuma belukar yang berwajah pias

Aku tak mau menyerah

Kuketuk pintu-pintu rumah yang nampak megah

Kuselami kolam harta yang barangkali bisa

Nyatanya hampa juga yang ada

Oh, barangkali ia disana

Diantara ilalang dan kumbang yang beterbangan

Dirimbunnya belantara pinta yang keroncongan

Hanya dusta, yang terjebak dalam lipstick merah saga

Pada akhirnya aku berhenti, tak lagi berlari

Aku meniti titi hati

Dan aku menemukan ini

Bahagia itu, terserah kita maui

***

(10 Oktober 2013)

#MigrasiDariBlogspot

Bercinta Dalam Diam

Aku memilih diam, engkaupun begitu

Sejak kita tak lagi bisa biasa, kita mulai diam

Sejak kau tebarkan jala, dan hati yang penat terjerat

Aku hanya diam, meski rindu mulai menggulung pilu sepanjang waktu

Rindu, yang tak kunjung berujung temu.

Saat tatap mata menjadi getar, atau senyuman berubah binar

Kala janji menunggu pasti, atau sapa merobek resah

Aku hanya diam dan engkaupun demikian

Aku terpaksa diam, meski air mata tlah letih menyusut perih

Meski malam tak pernah sepi menjurai bayang sepanjang gemintang

Dan roncean ragu bertukar pilar dalam genta penantian

Tak lekang, tahun demi tahun terlewatkan dalam diam

Aku diam, saat ku tahu engkau tak hendak menyata kisah

Beribu tanya tak berjawab bergelimpangan tanpa arah

Torehan sejarah tak mampu menjangkau fakta

Fatamorgana menjarah mimpi, dan aku terdiam

Diamku kini adalah menata hati

Diammu itu hanya engkau yang tahu

Yang pasti kumengerti, engkau tak lagi memilihku

Bermain cinta dalam diam

Kita tlah berbeda rasa

Aku tetap dengan rinduku dan engkau dengan jenuhmu

Namun satu yang tak pernah berubah

Kita tetap diam

Sepi, tanpa kata

***

Jakarta, 25 September 2013

#MigrasiDariBlogspot

Aku Rindu Kau Buat Cemburu

Aku sangat rindu kau  buat cemburu

Kala engkau lebih banyak bercengkerama denganNya

Fasih melantunkan kalam-kalam cintaNya

Menyelami malam- malam syahdu bersamaNya

Aku sangat rindu kau buat cemburu

Saat sekitarku berlomba meraih cintaNya

Saat akupun terpacu mengejar kasihNya

Kuingin denganmu berkejaran menangkap rahmatNya

Aku sangat rindu kau buat cemburu

Jangan biarkanku terus menunggu hidayah itu memacu denyutmu

Buatlah aku cemburu

Karena cintamu saja tak cukup untukku

***

25 Juli 2013

#MigrasiDariBlogspot

Fatamorgana

Angin itu berhembus lembut di telingaku

Getaran otakku mendadak terjungkir balik, mengira surga menghampiri langkahku

Angin itu ternyata fatamorgana

Sia-sia waktu berlalu dengan angan yang terlukiskan tentangmu

Engkau tak lebih lukisan kelam di kabut senja

Engkau tak layak merebut selaksa nuansa yang telah terenda

Beruntung malam tak datang tiba-tiba

Menyisakan senja tuk berbenah

Bening hujan membangunkanku dari mimpi tak berkesudahan

Selamat pagi cinta

Selamat tinggal mimpi

 

Jakarta, 11 Juni 2013