Purnama Di Kotaku

Semestinya malam ini purnama

Nyatanya, purnama hanya temaram

Bukan,

bukan mendung yang menghalang purnama

Tapi banyak  purnama kecil menyilaukan mata

Di  rumah-rumah itu

Di  kantor-kantor itu

Di tempat-tempat hiburan itu

Dan di sepanjang jalan kota yang ramai lalu lalang kendaraan

Bukan,

bukan kabut yang menghalang purnama

Tapi asap knalpot dari ribuan atau bahkan jutaan moda

Motor yang seperti lebah keluar dari sarangnya saat lampu hijau menyala

Lalu meliuk-liuk kiri kanan tak peduli jalurnya di sebelah kiri

Mobil yang merayap disepanjang jalan tol, yang ternyata tak bebas hambatan

Bukan,

bukan pula rinai yang menghalang purnama

Tapi asap kebakaran hutan yang tak jua sirna

Menyesakkan dada yang sudah sesak

Asap pabrik dari menara yang menjulang, pekat dan berbau karat

Taman kota tak lagi mumpuni menghalau asap-asap laknat

Jalur hijau tergusur, pohon-pohon ditebang

Karena prestise, estetis, dan rupiah, katanya

Maafkan aku, Anakku

Hanya bisa bercerita di peraduan,

Mendongeng sebelum engkau terlelap

Tentang purnama yang terang di langit gelap

Tentang gemintang yang berkilauan seperti berlian

Lintang panjer sore, Waluku, Biduk , Gubung Penceng

dan  gugusan Bimasakti

Aku tak lagi bisa mengajakmu ke halaman, menikmati purnama bersama

Bermain dengan sebaya sepertiku kala itu

Karena purnama tak lagi seterang dulu

Semestinya malam ini purnama….

Tapi tidak di kotaku.

***

#odopfor99days

#day37

#23 Februari 2016

#MigrasiDariBlog

Advertisements

Pengorbanan Lae

Lae melemparkan tas sekolahnya dekat kursi tamu sambil merebahkan dirinya di sofa. Bundanya yang sedang membersihkan keramik kesayangannya terkejut melihat putri semata wayangnya bersikap tak seperti biasanya.

“Lae, kok pulang nggak salam malah melempar tasnya sembarangan?”

“Maaf, Bun. Lae lagi kesal.”

“Memang Lae kesal kenapa?”

“Pak guru dan bu guru nggak adil sama Lae. Gara-gara Lae nggak cantik, Lae nggak kepilih masuk kelompok gerak jalan yang akan dikirim ke lomba di kabupaten. Malah Wina yang nggak tegas itu yang di pilih. Jadi ketua regu lagi. Mentang-mentang dia paling cantik.”

Waduh, ini serius. Pikir Bunda lalu duduk di sebelah Lae dan mengelus kepala putri kecilnya yang baru naik kelas VI Sekolah Dasar.

“Kenapa Lae punya pikiran begitu? Lagi pula siapa yang bilang Lae nggak cantik? Lae itu anak bunda paling cantik.” Lae cemberut.

“Ini sih bukan yang pertama, Bun. Yang juara kelas kan aku, tapi kalau ada lomba apa-apa Wina pasti ikut terus meskipun nggak pernah menang. Kalau jadi dirijen paduan suara aja dia nggak tegas, masak jadi ketua regu gerak jalan? Lae kan udah sering jadi komandan upacara dan pengibar bendera yang bagus. Pasti Lae bisa jadi pasukan gerak jalan yang bagus juga.”

Bunda tersenyum mendengar keluhan Lae. Putrinya itu memang anak yang membanggakan. Sejak kelas I tak pernah sekalipun tergeser dari rangking I. Hampir semua nilainya nyaris sempurna. Soal belajar tak pernah disuruh. Lae tak hanya pintar dalam pelajaran. Ia juga mempunyai bakat dalam seni. Ia pandai melukis, menari dan menyanyi.  Beberapa kali ia menjadi juara saat mewakili sekolahnya dalam lomba menari, menyanyi  dan kaligrafi. Piala dan penghargaan berjejer di lemari pajangan. Meski demikian Lae bukan anakyang sombong. Ia tak pelit berbagi ilmu dengan teman-temannya. Ia juga banyak teman. Entah kenapa kali ini Lae bersikap aneh.

“Lae, mungkin bapak dan ibu guru mempunyai pandangan lain. Barangkali Wina memang lebih bagus dalam gerak jalan. Kan Lae belum pernah membuktikan kalau Lae terbaik dalam gerak jalan. Waktu kelas V Lae juga gak menang kan gerak jalannya?”

“Tapi, Bun…”

“Sudahlah, sayang. Lae tidak boleh menyalahkan orang lain kalau Lae nggak terpilih. Lae harus bisa membuktikan dulu bahwa Lae mampu. Pasti nanti pak guru dan bu guru juga tahu kalau Lae bisa.”

“Bagaimana Lae bisa membuktikan kalau tak diberi kesempatan?”

“Pasti nanti ada waktunya. Lae berdoa sama Allah supaya Lae bisa membuktikan menjadi yang terbaik. Sekarang Lae ganti baju dulu ya? Cuci kaki tangan trus makan. Sana gih…”

Dengan malas Lae menuruti kata-kata bundanya.

***

“Bundaa….!” Pulang sekolah Lae berteriak memanggil bundanya.

“Lho lho apalagi ini? Kok nggak salam lagi?”

“Eh, iya. Maaf. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam. Ada apa sih, Sayang. Kelihatannya senang sekali?”

“Iya dong, Bun. Akhirnya Lae jadi ketua regu gerak jalan. Kami mau ikut lomba antar sekolah sekecamatan. Tapi Lae nggak sekelompok sama Wina. Wina masih tetap dengan regunya yang ikut lomba di kabupaten itu. Pokoknya Lae senang deh, Bun. Lae harus bisa kalahkan kelompoknya Wina.” Bunda tersenyum bijak melihat semangat Lae.

“Tapi Lae nggak boleh menghalalkan segala cara ya. Kalahkan dengan jujur.”

“So pasti lah, Bun.”

***

Lae dan regunya berlatih keras. Lae yang memang tegas dapat membentuk regunya menjadi kompak dengan cepat. Ia terus menyemangati teman-temannya yang kadang kala minder dengan regu Wina yang sudah melanglang lebih dulu.

“Tenang, teman-teman. Kita pasti bisa mengalahkan mereka.”

Saat perlombaan tiba, regu Lae semakin keder melihat banyaknya peserta dengan dandanan dan seragam yang keren termasuk regu Wina yang menggunakan seragam waktu ikut pelombaan di kabupaten. Sedangkan Lae dan regunya hanya berseragam sekolah dengan sedikit modifikasi.

“Lae, Nanda belum datang,” kata Vivin.

“Apa? Gimana sih? Bentar lagi mulai nih.” Lae mulai panik. Dari jauh tampak Nanda berlari-lari terengah-engah.

“Sorry , La. Aku nyari-nyari sepatuku nggak ada. Jadi aku terpaksa pakai sepatu putih.” Lae menatap sepatu Nanda yang berwarna putih.

“Ya ampun, apa lagi ini?”

“Aduh gimana dong, La? Kita pasti kalah kalau kayak gini. Seragamnya aja nggak sama,” kata Pingkan.

Lae berpikir sejenak.

“Sini, Nda, coba sepatumu lepasin, nih pakai sepatuku. Muat gak?”

“Tapi, La?”

“Ga pa-pa.  Aku kan ketua regu. Anggap aja seragamnya emang dibikin beda.”

Nanda bertukar sepatu dengan Lae.

“Kegedean dikit sih, La.”

“Coba sumpal pake tissue dikit.”

“Udah pas, nih. Kau kesempitan dong kalau gitu?”

“Agak ngepas dikit sih. Tapi nggak pa-pa mudah-mudahan nggak lecet pas udah selesai.”

“Sorry ya, La. Aku udah bikin kamu susah dan repot.”

“Udah gak usah dipikirin. Yuk pada baris. Yang penting kita kompak.”

Lae dan regunya segera berbaris di tempat yang sudah di sediakan. Lapangan kecamatan itu sudah meriah dengan puluhan regu gerak jalan dalam rangka memperingati  hari Kemerdekaan Republik Indonesia.  Warna-warni seragam mereka  membuat lapangan seperti taman bunga.

Bu Guru menghampiri Lae dan menyematkan nomor regu di pinggang Lae.

“Kalian semua sudah siap?”

“Sudah, buuu….”

“Insya Allah,” kata Lae.

“Bagus. Ingat kekompakan kalian ya. Penilaian utama ada pada kekompakan. Seragam sangat kecil pengaruhnya. Asal tak belang-belang sudah cukup.” Sepintas bu guru melirik sepatu Lae. “Kenapa sepatu berbeda Lae?” ucapnya heran karena tak biasanya Lae berbuat salah seperti itu.

Belum sempat Lae menjawab, Nanda menyahut.

“ Saya yang salah, Bu. Saya tak bisa menemukan sepatu hitam saya. Mungkin di pakai mainan adik saya,” ucapnya sambil menunduk.

“Jadi kalian bertukar sepatu?” Nanda dan Lae sama-sama mengangguk.

“Anggap saja karena saya ketua regu jadi berbdeda sedikit seragamnya,” kata Lae.

Bu guru tersenyum arif.

“Ya sudah, kalian fokus pada kekompakan ya. Mudah-mudahan ini tak akan mengurangi nilai. Ayo, bentar lagi giliran kalian.”

“Baik, Buuu….”

***

Sepanjang perjalanan sejauh 8 km, tak henti-hentinya Lae memberikan semangat buat teman-temannya. Jika mereka mulai terlihat lelah, Lae segera meneriakkan yel-yel sederhana yang biasa mereka buat latihan.

“Satu… dua… tiga… empaaaat. Regu… kita… pasti… bisaaa…. Satu… dua… tiga… empaaaat. Regu… kita… pasti… kompaaaak….”

Sesekali mereka menyanyikan lagu-lagu nasional tanpa mengurangi kekompakan mereka. Rasa nyeri di kaki Lae yang makin sering datang saat kilometer terakhir, tak dipedulikannya. Mereka tetap solid sampai garis finish. Senyum kelegaan menghiasi bibir Lae. Ia segera duduk dan melepas sepatu yang semakin sakit menghimpit sakitnya.

“Lae, kau tak apa-apa?” tanya Tania. Lae tersenyum.

“Tenang saja, tak apa kok. Paling lecet sedikit.”

“Hei, ada yang lihat bu guru gak? Minta obat nih buat Lae.” Teman-temannya segera mencari obat oles untuk kaki Lae. Nanda tampak sangat menyesali keteledorannya yang mengakibatkan temannya jadi kesakitan.

“Tenang saja, Nanda. Aku nggak pa-pa kok. Bentaran juga baikan. Yang penting kita semua sudah berhasil sampai finish dengan baik. Tinggal tunggu pengumuman,” kata Lae yang melihat Nanda menunduk terus di sebelahnya.

***

“Bundaa…. Assalamu’alaikum,” Lae tak sabar terpincang-pincang menghampiri bunda di dapur.

“Wa’alaikum salam. Ya ampun, Lae kenapa kakimu?”

“Cuma lecet, Bun, tapi Lae senaaang sekali. Tereeet…” katanya sambil menunjukkan piala yang indah itu. “Aku ngrayu bu guru buat pinjem piala ini bentar mau tunjukin ke Bunda. Besok di bawa ke sekolah lagi.”

“Subhanallah. Kalian memang?” Lae menggangguk riang.

“Juara 1 bun. Bayangkan betapa senangnya kami. Bahkan regu Wina nggak menang sama sekali. Rasanya puaaas sekali.”

“Syukurlah. Tapi kamu nggak boleh sombong gitu dengan menyepelekan Wina.”

“Enggak kok, Bun. Lae cuma senang saja bisa membuktikan Lae cukup layak ditunjuk mewakili sekolah.”

“Lalu kenapa kakimu bisa sampai lecet begitu?”

Lae lalu menceritakan kejadian tukar sepatu dengan Nanda. Bunda memeluk Lae dengan bangga dan bahagia. Meskipun Lae masih sangat muda, tapi ia punya jiwa besar dan mau berkorban untuk kelompoknya.

“Terima kasih ya, Bun, sudah nasehatin Lae untuk tidak mudah mengeluh.”

“Sama-sama sayang, sekarang bunda punya hadiah buat Lae, kue talam yang enak kesukaan Lae dan makan siang spesial.”

“Asyiiik, makasih, Bun, Lae sayaaaang sama bunda,” ujarnya sambil mencium pipi bunda.

T A M A T

21 Januari 2016

#MigrasiDariBlogspot

Jejak Kata

Kemana perginya mereka?

Mereka yang biasa berkerumun di kepala

Mereka yang biasa mewarnai hari-hari

Yang menjadi curahan hati

Pelepas beban, penat jiwa

Kemana perginya mereka?

Terkadang sebersit rindu menyelinap dalam rasa

Namun lebih banyak tergilas kegaduhan kerja

Aku bahkan hampir tak kenal lagi mereka

Ku jelajahi jejak jejak mereka

berharap masih mengenali mereka

Tak ada

Hanya senyap menyapa

Kukacau berkas- berkas mereka

Secercah asa masih tercecer di rerimbunan sampah kealpaan

Kukais ceceran jejak yang tersisa

Tak apa jika mereka tak jua ada

Akan tetap ku kejar mereka

Mereka yang bernama kata-kata, sajak, dan rima.

(Sebuah review seminggu bersama ODOP)

#ODOPfor99days #day7

#MigrasiDariBlogspot

Asha

Asha gelisah melihat hujan yg tak kunjung reda. Sudah lepas Isya. Malam kian pekat dan kantor semakin sepi.

“Nunggu siapa, Sha?”

Asha tergeragap melihat lelaki jangkung yg menyapanya.

“Nunggu hujan. Aku lupa bawa payung.”

“Nggak dijemput?”

Asha menggeleng lemah.

“Asha mau naik apa?”

“Mungkin taksi aja, Mas. Kalau kendaraan umum takut udah ga dapat duduk, tambah capek.”

“Ya udah bareng aku aja sampe nemu taksi.”

Asha ragu-ragu.

“Yuk…!”

Melihat hujan yg tak ada tanda-tanda untuk berhenti, Asha akhirnya terpaksa menerima tawaran Dafa, lelaki yang sesungguhnya sangat ingin dihindarinya.

Semobil berdua bersama Dafa, membuat Asha jadi kehilangan kata. Ditambah guyuran hujan yang menderas disertai angin. Malam semakin pekat. Hujan yang turun sejak siang menyebabkan lalu lintas kota yang biasanya sudah macet, semakin macet. Mobil Dafa terjebak ditengah kemacetan Jalan Balikpapan.

“Mengapa nggak jalan sama sekali?” Gerutu Dafa

“Mungkin ada kecelakaan,” lirih Asha.

Dafa memutar radio mencari info. Lalu mendengus kesal mendengar berita di radio.

“Ada papan reklame jatuh ke jalan,” katanya.

“Jadi kita gimana, Mas?” Asha terlihat bingung. Hari sudah terlalu malam baginya untuk berada di luar rumah. Ayah dan Mamanya sudah berkali-kali telpon menanyakan posisi Asha.

“Entahlah. Kau lapar, Sha?”

Asha mengangguk pelan, dari tadi perutnya memang berbunyi minta diisi. Ia belum sempat makan malam di kantor tadi.

Dafa melihat Asha tampak menggigil. Ia mengambil jaketnya di jok belakang dan menyodorkannya pada Asha.

“Pakailah…!”

Asha gemetar, sangat ingin menolaknya tapi tak mampu.

“Buruan dipake, gih! Nanti sakit kamu.”

Asha memakai juga jaket yang diulurkan Dafa. Matanya terpejam,  menangis dalam hati. Yang ada dalam pikirannya saat itu bagaikan Dafa yang tengah memeluknya hangat. Asha semakin gemetar. Dafa terlihat khawatir.

“Aku beli bakpao sebentar ya, tuh di pinggir jalan. Aku juga lapar.”

Asha mengangguk. Ia memilih membiarkan hatinya menikmati kelebatan Dafa. Ia telah terlalu lelah senantiasa menghindari segala bayangan tentang Dafa.

Namun angannya tak dibiarkan berlarut. Dafa sudah kembali dengan bakpau hangat dan dua cup susu coklat hangat.

Sebentar kemudian bakpau dan susu coklat sudah berpindah ke perut mereka berdua. Setengah jam berlalu. Mobil masih stuck dalam kemacetan. Hujan tinggal gerimis.

“Sha…”

Asha menengok ke arah Dafa. Yang di tengok hanya menatapnya tajam. Asha tertunduk.

“Bicaralah…!”

“Apa, Mas?”

“Apa sajalah…”

“Aku… Nggak tahu…” Hati Asha mulai terasa ngilu.

“Bicaralah…!”

Dafa semakin lekat menatap Asha. Ia semakin salah tingkah ketika tiba-tiba Dafa meraih jemarinya. Asha reflek menarik tangannya. Namun bukannya terlepas, justru Dafa menariknya dalam pelukannya.

Tubuh Asha mendadak lemas, tak bisa menolah rengkuhan hangat Dafa. Hanya air matanya yangg mengalir tanda hatinya sakit sangat.

“Menangislah. Biar lega sesakmu…!”

Dafa mengelus rambutnya.

“Mas…”

“Ssstt…! Jangan katakan apa-apa. Aku tahu apa yang ingin kau katakan.” Asha menengadahkan wajahnya. Mencari kejujuran di mata Dafa. Mata hitam pekat Dafa menatap tajam ke bola mata Asha, penuh gemintang.

“Biarlah hati  kita yang bicara.”

Asha kembali terguguk dalam pelukan Dafa.

“Tidurlah! Kau pasti lelah. Aku akan menjagamu.”

Asha hanya bisa menurut. Memejamkan matanya dan bermimpi, berlari bersama Dafa.

Entah berapa lama ia terlelap. Asha tergeragap saat sebuah tangan mengelus lembut pipinya.

“Bangun, Sayang…!”

Asha semakin terperanjat. Kenapa bukan suara Dafa? Apa macetnya sudah terurai? Kok sepi sekali?

Asha membuka matanya perlahan. Wajah cemas mama yang ditemukanya. Ayah tampak khawatir di ujung tempat tidurnya. Seluruh ruangan serba putih. Asha ingin bangun tapi nyeri yang dirasakan disekujur tubuhnya. Tiba-tiba ia teringat Dafa. Bukankan terakhir kali ia tengah tertidur dalam pelukan Dafa dalam mobil yang terjebak macet? Asha panik.

“Mas Dafa…?” rintih Asha.

“Tenanglah, Asha. Kamu belum boleh banyak bergerak.”

“Mas Dafa… Dimana…?”

“Asha, sabar ya, Sayang…”

“Mas Dafa… mana, Ma…? mata Asha menyiratkan penjelasan. Mama menengok ke arah Ayah meminta persetujuan. Ayah mengangguk.

“Pak Dafa… sdh tenang…” Kata Mama ragu. Jelas tergambar kekhawatiran akan reaksi Asha tentang kondisi Dafa yang sebenarnya.

“Maksud… Mama? Asha terbata.

Mamanya terdiam. Asha mengerti.

Tubuhnya mendadak mengejang, tatapan matanya nanar, memanas, lalu gelap.

Dafa telah pergi darinya, bukan karena pelukan istrinya, tapi direnggut dahan angsana yang ambruk menimpa mobilnya malam itu.

***

Jakarta, 28 Januari 2015

Mengenang kemacetan total tahun 2001.

#MigrasiDariBlogspot

Rindu Itu

Di buaian rindu yang mengalun sendu

Aku bertapa dan membersihkan diriku

Rapuh

Bak kayu lapuk berumur ratusan tahun

Aku perlu berlindung, dari angin ataupun tangan-tangan jahil yang linglung

nun jauh di perantauan

Hanya bisa melihat mereka

Dalam mimpi atau dunia maya

aku sungguh rindu

Tapi rinduku pada Nya lebih menguat

Aku di belantara senyap

Berderit-derit ngilu suara hampa dibawah sadarku

Angin seperantauan mengusap lembut pipiku

Mengalirkan energi rindu

Tunggulah, aku

Aku pasti kembali

Nanti, jika aku telah kokoh berdiri

Jika hati tak lagi terbebani

Jika rahasia tak lagi menjadi jeruji

Aku akan kembali

Tak lama lagi

***

Jakarta, 21 April 2014

#MigrasiDariBlogspot

Janji Bapak

Dokar kecil itu mengayun-ayun melewati jalan setapak di tepian sawah.

“Kita mau kemana, Bu? Jauh banget,” tanya Lala pada ibunya yang sejak tadi diam saja. Lelah tak tampak di wajah bocah perempuan kecil itu meskipun berjam-jam perjalanan telah ditempuh dengan bus sebelum akhirnya mereka naik dokar.

“Kita mau ke rumah bapak dan nenek.”

“Asyik… Kenapa Bapak nggak tinggal sama kita saja sih, Bu?” Ibunya menelan ludah, pahit.

“Nanti kau juga akan tahu saat kau besar nanti.” Hanya itu yang bisa ia katakan pada anak semata wayangnya yang baru berumur 5 tahun.

***

Lala tak pernah melihat bapaknya sejak berumur 8 bulan. Namun dengan riangnya ia kini duduk di pangkuan lelaki itu sementara kedua orang tuanya membicarakan sesuatu yang tak ia mengerti. Ia asyik bermain dengan kertas yang disobek-sobek menjadi serpihan kecil. Perutnya kenyang setelah makan siang masakan neneknya yang lezat dan khusus dipersiapkan untuknya.

“Buat apa kertas itu ,La?” tanya bapaknya penasaran.

“Ini uang-uangan, Pak. Nanti aku mau beli buku gambar sama pensil warna.” Ibunya diam saja mendengar jawaban anaknya. Lala memang suka sekali menggambar. Bakatnya menurun dari bapaknya yang memang mempunyai jiwa seniman.

“Kalau gitu nanti Bapak kirim buku gambar dan pensil warna yang bagus ya buat Lala.” Lala sontak terbelalak riang.

“Benar, Pak?” Bapaknya mengangguk.

“Lala tunggu ya, Pak.” Dalam hatinya yang polos, Lala langsung membayangkan betapa asyiknya ia nanti menggambar dengan buku gambar dan pensil warna yang bagus kiriman dari bapaknya.

“Ayo Lala, kita pulang,” kata ibunya.

“Apa tak lebih baik kalian menginap saja, Sri. Barang sehari dua hari. Kasihan Lala. Tentu ia capek menempuh perjalanan jauh.”

“Syukurlah kau masih kasihan padanya. Tapi sebaiknya kami pulang saja. Ia bisa tidur di jalan nanti,” ucap Sri yang tak mau menjadi duri dalam daging di rumah itu. Rumah mertuanya yang sebenarnya sangat sayang pada Lala. Cucu ke 6 dari anak lelaki satu-satunya. Mertuanya sangat bersuka cita saat kelahiran Lala di tengah malam badai bersenandungkan gema takbir di malam Idhul Adha. Kata mereka, wajah bayi mungil itu memancarkan cahaya. Sudah cukup siksaan batinnya selama 1,5 tahun tinggal di rumah yang bagai neraka untuknya.

Ah, Sri mendesah pelan mengingat kisahnya. Diraihnya Lala dalam pangkuan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.

“Ayo, Lala. Kita pulang, nanti kemalaman.” Dengan enggan Lala menuruti kata ibunya.

“Benar ya, Pak. Lala tunggu.” Bapaknya mengangguk sendu.

***

Senja baru saja temaram. Lala tak tahu harus berkata apa saat kakak tirinya mengabarkan bapaknya telah meninggal dunia. Ia masih ingat janji bapaknya di siang itu untuk membelikannya buku gambar dan pensil warna. Janji yang tak pernah terpenuhi hingga kini. Ia juga masih bisa merasakan betapa ia terus menunggu kiriman itu hingga bosan mempertanyakan pada ibunya yang hanya bisa melenguh sedih.

“Apa karena gambarku jelek ya, Bu?” tanyanya suatu ketika.

“Gambarmu bagus, La. Mungkin Bapak sedang sibuk atau lupa.”

Tapi Lala terlanjur berpikir gambarnya tak layak untuk mendapat hadiah buku gambar dan pensil warna dari bapak. Ia terus menggambar dan menggambar sepanjang hari supaya gambarnya cukup bagus untuk mendapat hadiah.

Lala menyusut air matanya yang tiba-tiba mengalir. Suaminya memeluknya.

“Sudahlah, Bun. Ikhlaskan kepergian bapak.”

“Aku tak tahu, untuk apa air mata ini. Aku tak pernah mengenalnya kecuali dari sedikit cerita ibu dan 3 kali pertemuan singkat dengannya saat aku masih kecil, lalu waktu aku kuliah dan ingin mencarinya sebagai permintaan ibu karena bagaimanapun ia bapakku. Dan terakhir saat pernikahan kita karena ia harus menjadi waliku. Ia memang bapakku, tapi tidak pernah di dunia nyata.”

“Seperti ibu bilang, bagaimanapun ia bapak Bunda, mertuaku. Ikhlaskan kesalahan beliau di masa lalu agar beliau tenang di alam sana.”

Dadanya terhimpit perih teringat bayangan ibunya yang menderita kala kakek memaksanya menerima lamaran bapak meski telah berstatus pria beristri. Kehidupan yang teramat berat barangkali yang layak dipersalahkan.

Ibu bahkan sempat meninggalkannya saat berumur 8 bulan di rumah bapak karena tak tahan terhadap tekanan dari madunya. Rasa keibuan juga yang pada akhirnya menuntun ibu mengambil Lala dua minggu kemudian setelah ia mendengar kabar kondisi Lala yang tak doyan menyusu. Sejak itu ia hampir tak mengenal bapak. Ia hanya punya ibu.

Lala kembali menyusut air matanya. Ibu saja telah memaafkan bapak, kenapa ia tidak? Sesak di dadanya masih bersisa. Tapi ia telah memutuskan untuk memaafkan bapak.

“Bisakah kita dapat tiket pesawat ke sana hari ini. Temanilah aku.”

Suaminya tersenyum.

“Tentu saja, Bun. Anak-anak tentu mengerti. Mereka biar bersama eyang malam ini. Toh besok pagi sekali kita sudah bisa kembali.”

“Terima kasih, Sayang.”

Dan sesak itu sirna bersama keikhlasannya atas janji bapak yang tak pernah tertunaikan.

***

21 Oktober 2013

#MigrasiDariBlogspot

Kucing Kesayangan Rara

Sudah seminggu mama uring-uringan gara-gara kucing-kucing Rara buang kotoran sembarangan.

“Rumah kita kan kecil Rara. Halamannya hampir tak ada. Bau kotoran kucing jadi memenuhi ruangan. Kita buang saja kucing-kucingnya,” kata mama.

“Ih, Mama tega deh. Kan kasihan mereka, Ma.Nanti mereka makannya bagaimana?”

“Kalau tak boleh, dikasih orang deh. Tetangga bibik ada yang mau kok, buat ngusir tikus.”  Rara cemberut. Memang sih, rumah jadi bau kucing gara-gara si Rangga habis beranak 3, Putri, Boy, dan Kika. Waktu kucing Rara cuma 2 ekor, Rangga dan Billy, mama nggak sesewot ini.

Rara sayang semua kucingnya. Rangga, kucing pertamanya sangat pintar menangkap tikus. Rumah jadi sepi dari tikus sejak ada Rangga. Kucing itu pemberian teman mama sejak rangga masih berumur 2 minggu. Rara rajin memberinya susu sampai ia bisa makan sendiri. Biarpun cewek Rangga kucing yang keren dan gagah kayak cowok, makanya ia salah memberi nama cowok buatnya.

Baru sebulan merawat Rangga, Rara menemukan Billy kecil yang kelaparan di jalanan dekat got. Ia membawanya pulang dan merawatnya dengan baik. Kucing abu-abu putih itu sangat cantik sampai dikira kucing cewek. Ia sempat dikasih nama Putri sampai akhirnya ketahuan ia cowok dan diganti namanya menjadi Billy. Bulunya bersih. Billy sangat sayang pada Rangga. Meskipun mereka bukan saudara, dua ekor kucing itu tak pernah bertengkar.

Dan ketiga anak Rangga yang lucu-lucu itu? Hmm, aku nggak mau berpisah dengan semuanya. Tapi bagaimana dengan bau rumah?

“Emm, anak-anaknya saja kita kasih tetangga bibik ya, Ma,” akhirnya Rara mencoba memilih meskipun ia juga sayang mereka.

“Tapi nanti Rangga melahirkan lagi dan lagi.”

“Tapi, Ma.”

“Sudahlah, Rangga dan anak-anaknya saja dikasih orang. Biar Billy saja yang tetap di sini.” Ujar mama memutuskan.

Dengan berat hati Rara terpaksa menuruti kata-kata mama. Dielus-elusnya kucing-kucing yang sebentar lagi akan berganti rumah.

“Kamu kan tetap bisa nengokin mereka kalau lagi main ke rumah bibik,” hibur mama.

***

Sejak Rangga dan anak-anaknya diberikan ke tetangga bibik, Rara makin sayang sama Billy. Ia merawatnya dengan telaten, dimandikan seminggu sekali, rajin memberinya makan. Billy kucing kampung yang lucu. Ia seperti manusia, doyan sekali makan nasi sama ikan goreng. Kalau diberi makan ikan saja, ia masih merasa lapar dan terus mengeong sampai ia di beri nasi. Suatu kali, Rara meminta mama membelikan Billy makanan kering buat Billy sebagai hadiah. Eh, si Billy malah ogah-ogahan memakannya. Benar-benar kucing kampung, pikir Rara.

Setiap makan ikan atau ayam goreng, Rara pasti teringat Billy. Bahkan bila makan di rumah makan pun, ia pasti minta dibungkuskan sisa makanannya buat si Billy.

Billy seolah membalas kasih sayang Rara. Setiap ia melihat motor ayah yang membonceng Rara lewat di depan gerbang, Billy langsung berlari pulang mendahului mereka. Ya, Billy memang suka bermain jauh hingga ke depan perumahan. Ia akan segera naik ke atas tangga rumah Rara dan diam di sana menunggu Rara naik dan menggendongnya. Billy juga suka menunggui Rara yang sedang sholat di sampingnya. Dimana ada Rara disitu ada Billy.

Hari ini Rara sedih sekali, sudah dua hari Billy tak pulang. Dibantu ayah, ia sudah mencarinya ke mana-mana tapi tak ketemu juga. Sampai dua bulan kemudian, Billy tetap tak ketemu juga. Rara sering menangis sedih teringat kelucuan Billy yang suka menggigit sayang kakinya bila ia lapar dan tak segera di beri makan. Ia juga suka mengalah sama kucing-kucing kecil liar yang suka kesasar ke rumahnya dan ikut makan bersama Billy.

Mama merasa sedih melihatnya dan merasa bersalah. Coba Rangga tak diberikan orang. Pasti Rara tak sesedih ini.

“Rara mau kucing lagi? Nanti mama cariin ya buat Rara.”

“Tapi Rara nggak pernah lihat kucing sebagus Billy, Ma. Bulunya bersih dan ia sangat penyayang dengan kucing-kucing lain.”

***

“Rara, Mama punya kabar gembira. Coba tebak!”

“Billy ketemu, Ma?” mata Rara membelalak riang penuh harap.

“Bukan sayang,”

“Yaah,” Rara kecewa.

“Om Wahyu menawarkan kucing anggoranya. Sekarang tante Elok tak sempat mengurusi si Chiko karena sudah mulai sibuk mengajar di tempat yang baru. Jadi si Chiko boleh buat kamu. Dan yang penting, Chiko nggak bakalan bau karena dia sudah terlatih untuk pup pada tempatnya.”

Rara sebenarnya suka sama Chiko, kucing anggora besar berwarna krem punya om Wahyu. Tapi ia masih lebih suka si Billy.

Keesokan hari, Chiko diantarkan oleh om Wahyu dan resmi menjadi keluarga baru Rara. Chiko memang sangat besar dibandingkan kucing biasa. Bulunya yang panjang-panjang terlihat mengkilap dan megar apalagi setelah dimandikan dan disisir.  Chiko juga nggak bau. Banyak yang suka dengan Chiko bahkan dia dikira anjing saking besarnya. Makannya nggak perlu repot karena cukup menuangkan makanan kering di wadah makannya. Berbeda dengan Billy, Chiko tidurnya di dalam rumah. Tapi sekarang Rara harus lebih berhati-hati, pintu gerbang tak boleh dibiarkan terbuka jika tak ingin Chiko kabur untuk main. Bisa-bisa kucing mahal itu diambil orang.

Coba kalau Billy, pasti aku tak perlu repot. Pikir Rara masih belum bisa mengikhlaskan kehilangan Billy. Chiko kucing manja dan nggak lincah seperti Billy yang pandai melompat pagar.

Billy seperti mengerti Rara belum bisa menyayanginya sepenuh hati. Ia mencoba mengambil hati tuan barunya itu. Seperti Billy, ia suka menunggui Rara saat sholat sambil meraih-raih mukena Rara. Rara menepiskan Chiko kesal. Setelah sholat ia memarahi Chiko.

“Kamu nggak boleh ganggu orang sholat,” katanya.

Seperti mengerti, setelah itu Chiko hanya diam menunggu di samping Rara jika Rara sedang sholat. Rara jadi merasa bersalah telah memarahi Chiko.

Chiko tahu jam-jam Rara pulang sekolah, dan dia dengan setia duduk di dekat tangga menunggu Rara sambil berjemur.

“Chiko seperti Billy aja suka nungguin aku,” pikir Rara. Dielusnya kucing itu.

Ternyata Chiko memang kucing yang pintar. Dia bisa mengerti jika diajak bicara atau jika Rara marah. Kali ini Chiko sudah pandai melompat jendela untuk berjemur di dekat teras.

“Rara, awas pintu gerbangnya nanti Chiko kabur.”teriak mama.

“Iya, Ma.”

Rara memang paling sering lupa menutup pintu gerbang. Chiko yang senantiasa bersiap dekat pintu, langsung melesat keluar rumah. Mungkin dia kesepian karena harus dikurung terus di rumah dan nggak punya teman.

Sore itu, Rara ribut mencari Chiko. Ia lupa lagi menutup pintu.

“Nggak ada, Ma.”

“Coba cari di belakang rumah Sarah. Biasanya dia suka bermain rumput di situ.”

“Nggak ada juga.”

Rara sudah mulai panik. “Ya Allah, jangan hilang lagi kucing Rara ya. Rara janji akan menjaga Chiko lebih baik.”

Ayah, mama dan bibik ikut ribut mencari Chiko.

“Sepertinya tadi dia ke ujung gang,” kata tetangganya. Benar saja, Chiko sembunyi di bawah kolong mobil tetangganya yang berada di ujung gang.

Rara langsung memeluknya dibawa pulang.

“Chiko jangan ngumpet lagi ya. Nanti dibawa orang. Rara janji lebih sayang sama kamu.”

Sejak itu Rara semakin sayang sama Chiko. Apalagi seminggu kemudian mama membawa dua ekor anak anggora yang lucu sebagai teman Chiko.

“Biar Chiko nggak sering kabur-kaburan,” kata mama.

“Nanti rumahnya bau, ma?”

“Mereka kan pup nya nggak sembarangan. Asal kita rajin membuang kotorannya, pasti nggak bau,” kata mama.

“Asyiik, makasih Mama. Rara sayang sama Mama.”

Mama tersenyum memeluk Rara.

“Kamu beri nama siapa mereka?”

Rara berpikir sejenak.

“Emm, yang cewek namanya Chika, yang cowok Cipung. Biar kompak sama Chiko.”

Dan hanya butuh satu hari buat ketiga kucing Rara untuk kompak. Rara masih tetap ingat Billy, tapi tak sesedih dulu lagi karena telah ada tiga ekor kucing lucu yang menemaninya setiap hari. Rara berjanji dalam hati akan merawat mereka sebaik ia merawat Billy.

***

T A M A T

20 Oktober 2013

#MigrasiDariBlogspot